Saya
sama seperti orang lain, punya keinginan untuk menyayangi dan
disayangi. Walau bagaimanapun, tidak mudah bagi saya untuk jatuh hati
kepada seorang wanita. Saya tidak mencari seorang wanita untuk dijadikan
kekasih, tetapi saya mencari seorang teman pendamping hidup saya hingga
ke akhir hayat saya.
Seorang
yang bisa mengingatkan saya kiranya saya terlupa dan yang paling
penting wanita yang amat saya percayai untuk mendidik anak-anak saya
kelak dan generasi yang akan lahir dari keluarga kami nanti. Untuk itu,
sejak di bangku sekolah lagi saya telah letakkan beberapa syarat bagi
seorang wanita untuk hadir dalam hidup saya dan dialah orangnya.
Dalam
masa beberapa bulan saya belajar di sebuah pusat pengajian tinggi di
Petaling Jaya, banyak perkara yang telah saya pelajari. Yang paling
penting buat saya ialah, bagaimana saya mulai mengenali wanita-wanita
dalam hidup saya karena saya sejak dari sekolah rendah belum pernah
bergaul secara langsung dengan seorang wanita pun dan saya amat peka
terhadap larangan pergaulan antara lelaki dan wanita, karena saya
bersekolah di sebuah sekolah menengah agama lelaki berasrama
penuh. Lantaran itu, saya tidak pernah punya hati untuk memberi cinta
atau menerima cinta walau peluang itu hadir berapa kali.
Saya
mulai mengenali si dia ketika kami sama-sama terpilih untuk
mengendalikan sebuah organisasi penting di tempat kami
belajar. Ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta'aala, dia menjadi wakil
saya. Dari situlah perkenalan kami bermula.
Dia
seperti yang telah saya ceritakan, berjilbab lebar dan senantiasa
mengambil berat tentang auratnya terutama kaos kaki dan tangannya.
Itulah perkara pertama yang membuat saya tertarik padanya.
Dia
amat berhati-hati dalam mengatur butir bicaranya, bersopan-santun dalam
mengatur langkahnya, wajah senantiasa berseri dengan iman dan senyuman,
dan tidak pernah ke mana-mana tanpa berteman.
Suaranya
amat sukar kedengaran dalam musyawarah karena dia hanya bersuara ketika
suaranya diperlukan dan tidak sebelum itu. Saya melihat dia sebagai
seorang mukminah solehah yang amat menjaga pribadinya dan maruah
dirinya. Saya tidak pernah bercakap-cakap dengannya kecuali dia punya
teman di sisi dan atas urusan resmi tanpa dipanjang-panjangkan.
Saya
seorang yang amat kuat berbicara dan senantiasa punya modal untuk
berbual-bual seperti kata teman saya, tetapi dengan dia saya menjadi
amat pemalu dan amat menjaga. Bagi saya, itulah wajah sebenarnya seorang
wanita soleha.
Dia mampu mengingatkan orang lain dengan hanya menjadi dirinya, tanpa perlu berkata-kata walaupun sepatah.
Pada
hari terakhir saya disana, saya punya tugas terakhir yang perlu saya
selesaikan sebelum sebelum saya melepaskan posisi sayan dan semua itu
melibatkan dia. Sebaik saja semua kerja yang terbengkelai itu siap, saya
mengambil peluang untuk berbincang-bincang dengan dia. Saya bertanya
perihal keluarga dan apa yang dia rasa bertugas di samping saya untuk
waktu yang sekejap itu.
Alhamdulillah
dia memberikan respon yang baik dan dari situlah saya mengenali dengan
lebih dalam siapa sebenarnya wakil saya ini. Namun, apa yang memang bisa
saya nampak dengan jelas, dia amat pemalu dan dia amat kikuk semasa
bercakap dengan saya.
Selepas
itu barulah saya tahu, sayalah lelaki pertama yang pernah
berbincang-bincang dengan dia bukan atas urusan resmi sebegitu. Di
situlah saya mulai menyimpan perasaan, tapi tidak pernah saya ungkapkan
hingga saya jauh beribu batu darinya.
Semasa
saya berada di Yordan, saya menghubunginya kembali dan menyatakan
hasrat saya secara halus agar dia tidak terkejut. Alhamdulillah, dia
menerima dengan baik dan hubungan kami berjalan lancar selama empat
bulan sebelum saya balik bercuti ke Malaysia.
Kadang-kadang
saya lalai dalam menjaga hubungan kami dan dialah yang mengingatkan.
Dialah yang meminta agar kami membatasi sms-sms kami agar tidak terlalu
kerap. Semua itu menguatkan hubungan kami dan bagi saya dialah teman
hidup yang sempurna buat saya.
Walau
bagaimanapun, sewaktu saya pulang ke Malaysia bulan lepas, ummi dapat
mengetahui perhubungan kami. Saya tahu ummi tidak berapa suka
anak-anaknya bercinta tetapi saya tidak pernah mengira ummi akan
menghalanginya.
Tetapi perhitungan saya silap, amat silap.
Buat
pertama kali, adik perempuan saya memberitahu ummi sudah tahu perihal
saya, dan ummi tidak suka. Saya tidak pernai menganggapnya sesuatu yang
serius sehinggalah ummi bercakap secara pribadi dengan saya pada suatu
hari. Saya masih ingat lagi kata-kata ummi yang membuat saya tak mampu
membalas walau sepatah.
"Saya
belum menemukan ajaran dalam Islam yang membolehkan apa yang kamu
lakukan sekarang. Saya belum mendengar dari siapapun bahwa cinta sebelum
menikah diperbolehkan. Tapi aku tahu tidak ada hubungan antara pria dan
wanita kecuali apa yang sangat penting dan resmi antara mereka. Jadi,
bolehkah saya tahu hubungan seperti apa yang kamu miliki sekarang dan
saya ingin mendengarnya dari mulut kamu bahwa ada hukum membolehkan
dalam apa yang kamu pelajari sampai sekarang."
"Tak ada sebuah ungkapan juga tak ada sebuah katapun."
"Wahai
buah hatiku, jika kamu ingin membina keluarga yang penuh keimanan, kamu
tidak pernah dapat membinanya diatas perkara yang Allah telah
menyatakan sebagai suatu kesalahan dan terbukti palsu dengan apa yang
telah Rasulullah ajarkan. Sebuah keluarga bahagia dan diberkati datang
dari Allah, dan kamu bahkan tidak punya apa-apa untuk mempertahankannya
sebagai sesuatu yang diberkati jika langkah pertama yang kamu buat
adalah dengan masuk ke apa yang telah DIA larang. Kamu tidak bisa
mempunyai keluarga bahagia jika Allah tidak membantu kamu, dan kamu
harus tahu dalam setiap keluarga yang tetap utuh sampai datangnya ajal
mereka, karena Allah bersama mereka. Kamu tidak bisa mengharapkan DIA
akan membantu kamu, jika kamu melakukan langkah yang salah pada
permulaanya."
Saya
tiada kata untuk membalas karena semuanya benar. Saya tahu kebenaran
itu sudah lama dulu, tetapi saya tak mampu untuk melawan kehendak nafsu
saya sendiri. Saya akui, saya tertipu dengan apa yang dipanggil Cinta.
Cinta tak pernah membawa kita kemana, andai cinta itu bukan dalam
lingkungan yang Allah ridha.
Tiada
cinta yang Allah benarkan kecuali selepas tali perkawinan mengikatnya.
Itulah apa yang telah saya pelajari lama dahulu dan dari sebuah kitab
fiqih yang saya baca, tiada satu pun yang menghalalkannya. Saya tahu
kebenaran ini sudah lama dahulu, tetapi saya tidak kuat untuk
menegakkannya. Saya tidak mampu menundukkan kemauan hati saya. Dan
kata-kata ummi memberikan saya kekuatan untuk bangkit dari kesilapan
saya selama ini.
Ummi
berkata: "Ini bukan saya yang menginginkan kamu untuk membuat keputusan
seperti ini, tetapi Allah telah menetapkan kamu begitu."
Saya
percaya, itulah yang terbaik buat saya dan dia. Dengan kekuatan itulah
saya terangkan kepadanya, dan Alhamdulillah dia faham. Amat faham.
Walaupun air matanya seakan air sungai yang tidak berhenti mengalir,
tetapi dia tahu itulah yang terbaik untuk kami.
Dia
minta maaf kepada ummi karena menjalin hubungan yang tidak sah dengan
saya, tetapi ummi memberi syarat, janganlah bimbang. Andai ada jodoh
kamu berdua, Insya 'Allah, DIA akan temukan kamu dalam keadaan yang
lebih jauh dari sekarang.
Hidup
saya sekarang lebih tenang karena tiada yang menggusarkan hati saya
lagi. Hidup saya lebih bercakap kembali tentang agama saya dengan lebih
bebas tanpa dihantui oleh perasaan berdosa.
Bagi
saya, dan dia, inilah saat untuk kami muhasabah kembali diri kami dan
kami betulkan kembali segala kesilapan yang telah kami buat. Inilah saat
untuk kami belajar menjadi Ibu dan Ayah yang berakhlak mulia dan
berpribadi tinggi. Inilah masanya kami insafi kembali keterlanjuran kami
dahulu dan memohon moga-moga Allah sudi memaafkan kami.
Sesungguhnya
Ya Allah, aku insan yang sangat lemah. Aku tidak mampv melawan godaan
syaitan yang tidak pernah jemu, juga hambatan nafsu yang tidak pernah
lesu. Ampunilah aku.
Walau
bagaimanapun, perpisahan ini hanya untuk sementara. Saya telah berjanji
dengan diri saya sendiri, dialah yang akan menjadi teman hidup saya
nanti. Sesungguhnya pencarian saya untuk seorang calon isteri telah
berakhir. Insan seperti dia hanya satu dalam seribu. Mana mungkin saya
melepaskan apa yang amat berharga yang pernah hadir dalam hidup
saya. Insya 'Allah, sekiranya Allah Subhanahu Wa Ta'aala panjangkan
umur, sebaik saja saya tamatkan pengajian saya di sini, saya akan
kembali ke Malaysia dan melamarnya untuk menjadi permeisuri di hati
saya. Insya 'Allah, saya akan setia menunggu saat itu, dan saya berusaha
sedaya-upaya saya untuk mengekalkan kesetiaan saya.
Sekiranya
tiada penawar berbisa, jangan coba mencari cinta manusia, kelak dirimu
akan binasa.. Jika cinta manusia datang menguji tanpa diminta
kehadirannya, maka bercintalah karena-Nya.
Siapa
lagi dalam dunia ini yang menjaga adab berjalan antara lelaki dan
perempuan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Musa 'Alaihi sallam dan
puteri Nabi Syuaib 'Alaihi sallam beribu-ribu tahu dahulu?
( S E L E S A I )
Barakallahu fiikum wa Jazakumullah Khairan,,
Salam Santun Uhibbukum fillah,,,
Keep Istiqomah,,
Semoga Rahmat dan Ridho Allah Subhanahu Wa Ta'aala senantiasa terlimpah untuk kita semua...
Aamiin Ya Rabbal 'Aallaamiin...








0 komentar:
Posting Komentar