Apel
tersebut memandang ke bawah. Heran, kenapa manusia lebih memilih
kawan-kawannya yang berada di bawah sana. Bukankah mereka tidak mendapat
udara yang bersih dan cahaya mentari seperti aku yang berada di puncak
ini? Bukankah kawan-kawanku itu banyak yang telah rusak karena
seranggga?
Apel
tersebut bingung memikirkan kenapa rekan-rekannya yang telah banyak
tersentuh dan penuh debu menjadi pilihan, bukan dirinya yang belum
tercemar dan dijamah orang. Apa kekurangan diriku?
Perasaan
rendah diri mulai merasuk. Makin lama makin kuat, diselangi rasa kecewa
dan bimbang. Murungnya tidak terbendung lagi. Lalu, pada pagi yang
damai dan indah itu, apel tersebut memutuskan menggugurkan dirinya ke
tanah. Ketika sudah berada dibawah, hatinya gembira bukan kepalang.
Sedetik lagi aku akan dipilih manusia. Warna merahku yang berkilau dan
kulitku yang licin mulus ini pasti mencairkan liur mereka.
Sang
apel menanti manusia beruntung itu. Sayang sekali, sampai malam tiba,
tiada seorang pun datang mengambilnya. Rasa gembira pun bertukar menjadi
risau dan sedih.
Siang
berganti malam, hari berganti minggu. Kasihan..akhirnya apel tersebut
busuk di tanah menjadi makanan ulat dan serangga. Membusuk dan
terinjak-injak manusia.”
Wanita
itu ibarat apel. Buah yang tidak berkualitas amat mudah dipetik,
dijamah dan diambil orang. Tapi apel yang berkualitas, tidak terjangkau
dan sulit dijamah orang. Susah dipetik, susah digapai. Mahkota seorang
gadis adalah Keimanan dan ketakwaannya. Apabila hilang iman dan
takwanya, hancurlah pesonanya. Wanita sanggup jatuhkan martabat
tingginya supaya dijamah orang lain.
Wahai wanita shalehah yang tinggi martabatnya… yang terpelihara kehormatan dan izzahnya...
Bersabarlah!
Disaat tak ada yang memetik karena ketinggianmu. Janganlah obral jiwamu
hingga kau rela dipetik dan dijamah oleh siapapun. layaknya seperti
apel yang mudah dipetik di pinggir jalan. Tungulah, Allah pasti
mengirimkan orang yang bersedia memetikmu di ketinggian. Ketinggian yang
hanya bisa dipanjat dengan energi keimanan dan ketakwaaan seseorang.
Ya
Allah… Kutahu, betapa banyak “perhiasan dunia terindah ini” mulai
gundah. Gelisah menantikan seseorang. Sepertiga abad penantian kadang
tak cukup mendatangkan satria-satria pemetik apel yang dinantikan. Wahai
zat yang menguasai seluruh makhluk, jangan biarkan wanita-wanita mulia
ini lelah di ketinggian, hingga ia menjatuhkan diri tersungkur dari
kemuliaan. Teguhkan hati mereka. Selamatkan mereka.
Ya
Tuhan kami, sesungguhnya mereka sangat memerlukan suatu kebaikan yang
Engkau turunkan kepada mereka… Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada
wanita-wanita shalehah jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati.
Wallahu a’lamu bishshawab.
(Ken Ahmad)
Semoga bermanfaat InsyaAllah...







0 komentar:
Posting Komentar