Account

gelembung

cursor

Jumat, 11 Oktober 2013

AKU MEMBUAT IBUKU MENANGIS

Adi rizki prasetyo begitulah nama lengkapku, tapi di lingkunganku aku biasa dipanggil Adi.
Aku adalah seorang yang terlahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana.
Keluargaku terdiri dari enam orang, yaitu Ayah, Ibu, aku, satu adik dan dua orang kakakku.
Awalnya hidupku cukup sempurna, sama seperti anak-anak yang lain, bermain, sekolah, dan bercengkrama bersama keluarga.
Namun semuanya itu berubah sejak aku mengenal game online saat usiaku 12 tahun, hidupku semakin berantakan.
Mulai dari sering bolos sekolah sampai kabur dari rumah pun aku lakukan demi untuk dapat bermain game online.
Mungkin bisa dikatakan aku telah kecanduan game online, sebagian waktuku ku habiskan dengan bermain game online sampai tak kenal waktu, entah itu pagi, siang, sore ataupun malam.
Semangat belajarku sebagai siswa kelas 1 SMP menurun drastis, aku menjadi sangat malas untuk belajar, memegang buku pun aku enggan.
Aku lebih suka memegang mouse, memencet keyboard dan memandang layer computer berjam-jam dengan permainan game online kesukaanku.
Aku sering dimarahi oleh orang tuaku karena susah disuruh belajar dan sering keluar rumah, dan sampai akhirnya orang tua saya tahu bahwa aku sering ke warnet bermain game online.
Waktu itu Ibuku menemukan nota pembayaran warnet di saku celana seragam sekolahku yang sengaja ku kumpulkan untuk aku tukar dengan bermain gratis di warnet langgananku, kulihat raut wajah Ibuku menampakkan kekecewaan.
Kemudian Ibuku memanggilku dan bertanya, “Nak, ini nota apa?”, “emm, itu nota biasa bu” (jawabku berbohong).
Semenjak itu Ibuku mulai curiga dan lebih mengekangku, aku sering ditanya ketika aku pulang sekolah terlambat, “dari mana saja jam segini baru pulang?” (begitulah pertanyaan yang hampir setiap hari Ibuku tanyakan kepadaku).
Tapi semua pertanyaan Ibuku tidaklah ku hiraukan, bahkan aku sering membantah dan berbohong kepada Ibuku untuk membuat Ibuku tidak curiga lagi kepadaku.
Hari demi hari aku semakin keranjingan game online, segala cara aku lakukan untuk dapat terus bermain game online sampai-sampai uang untuk membayar sekolah aku pakai untuk membayar sewa warnet.
Dan tak jarang aku membohongi orang tuaku, meminta uang untuk membeli buku namun lagi-lagi uangnya aku pakai untuk bermain game online.
Dan sampai pada puncak kekhilafanku aku sampai mencuri uang, demi untuk dapat bermain game yang membuatku kecanduan itu.
Sempat terbesit dalam fikiranku, ingin rasanya aku berhenti bermain game online, namun kebiasaan ini sulit untuk kuhilangkan.
Sungguh menyiksa, kecanduan game online ini seakan-akan seperti kecanduan narkoba, sulit untuk aku melepaskan diri dari game online.
Hingga hari pengambilan raport kenaikan kelas pun akhirnya tiba, perasaanku gelisah, deg-degan, takut, cemas, campur aduk.
Aku takut masuk sekolah hari itu, lagi-lagi aku pergi ke warnet langgananku dengan harapan bisa menghibur perasaanku ini dan menghindar dari kemarahan orang tua jika hasilnya jelek.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 dan waktu sewa warnet pun hampir habis, hanya tinggal beberapa menit lagi.
Rasa cemas ini datang kembali, sudah terbayang dalam benakku jika orang tuaku tahu hasil nilaiku jelek dan jika sampai aku tidak naik kelas, pasti orang tuaku marah besar, ingin rasanya aku tidak pulang ke rumah hari ini.
Waktu sewa warnetku pun habis, aku keluar warnet perlahan ku langkahkan kakiku meninggalkan warnet yang tidak terlalu jauh dari rumahku itu, aku tidak langsung pulang ke rumah, kakiku terus melangkah tak tau arah.
Lelah kakiku melangkah, hingga aku pun sampai di suatu tempat teduh, banyak pepohonan dan suasananya sepi, aku duduk di bawah salah satu pohon tersebut.
Semilir angin sedikit menghiburku, membuatku melamun dan merenung, ternyata aku cukup lama berada di bawah pohon itu.
Tak terasa hari telah sore, aku beranjak dari tempat itu dan kini aku harus pulang ke rumah, dengan rasa gelisah kakiku melangkah menuju arah tempat tinggalku.
Jarak keberadaanku semakin dekat dengan rumahku, langkah kakiku semakin berat dan jantung ini semakin berdegub kencang.
Namun aku harus pulang dan melawan rasa takut ini, aku akan menerima apapun yang akan terjadi sesampainya di rumah nanti.
Sampailah aku di depan rumahku, awalnya aku bertemu dengan nenekku dan aku menyapanya.
Nenek tidak merespon sapaanku seperti biasanya, raut mukanya menampakkan kekecewaan terhadapku.
Nenek hanya berkata, “temuin Ibumu di dalam”, aku pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Ku temukan Ibuku duduk di atas kasur kamarnya dengan berlinangan air mata, dalam hati ku berbicara “ya, mungkin ibu menangis karena aku tidak naik kelas”.
Air mataku pun ikut berlinang, aku menangis sejadi-jadinya, hingga Ibuku tahu keberadaanku.
Ibuku memalingkan muka, sepertinya beliau tidak ingin melihatku untuk saat itu, air mataku semakin deras menetes dan berkata dalam hati “maafkan aku Ibu, aku telah membuatmu kecewa”.
Tiba-tiba Ayahku pun datang dari arah belakangku, aku menoleh dan aku mendapatkan hadiah tamparan oleh beliau.
Aku dimarahi Ayahku sejadi-jadinya, Ayahku tahu semua apa yang telah ku lakukan selama ini, mulai dari sering bolos sekolah, memakai uang SPP sekolah, mencuri uang untuk bermain game online.
Tamparan Ayahku tak terasa begitu sakit dan itu memang pantas aku dapatkan karena telah membuat kecewa kedua orang tuaku.
Aku lari menuju kamar tidurku, air mataku meluncur deras dan aku menangis sesenggukan.
Aku menangis menyesal, hingga air mataku kering tak bisa keluar lagi, hingga aku pun tertidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi, sedangkan Ayah Ibuku telah pergi ke pasar.
Dengan rasa penasaran, aku mencari hasil raportku keliling rumah, dan ku temukan raportku tergeletak diatas meja belajarku.
Aku  buka hasil raportku perlahan, aku ingin memastikan apakah aku benar tidak naik kelas seperti apa yang kuduga-duga.
Aku terkejut ketika aku mengetahui bahwa aku ternyata naik kelas, walaupun itu naik kelas bersyarat.
Sejak kejadian itu hidupku berubah semakin membaik, aku putuskan untuk meninggalkan game online sedikit demi sedikit sampai sama sekali lepas dari game online.
Hubunganku dengan Ayah Ibuku juga semakin membaik, bahkan Ayah Ibuku semakin menyayangiku karena kini aku bertambah rajin sekolah, belajar dan patuh kepada orang tuaku.
Aku juga menjadi rajin sholat ke masjid dan belajar mengaji di masjid, pada usiaku yang ke 12 Tahun aku belum bisa membaca huruf hijaiyah dengan lancar.
Aku malu kepada teman-temanku yang usianya dibawahku, aku termasuk murid yang paling tua umurnya di TPA masjid dekat rumahku itu.
Aku siswa kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada waktu itu, dan teman-temanku kebanyakan usia balita sampai siswa/siswi Sekolah Dasar (SD).
Lama kelamaan rasa malu itu hilang, karena aku tahu tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Aku belajar dari huruf alif sampai ya dan hingga aku bisa membaca Al Qur’an, aku belum sempat mengatamkan membaca Al Qur’an waktu itu.
Karena aku diminta oleh guru mengajiku untuk membantu mengajar adik-adik yang lain mengaji, aku sangat menikmatinya.
Menyenangkan bisa mengajarkan adik-adik mengaji, meski harus ekstra sabar untuk mengajarkannya karena mayoritas adik-adik masih usia dibawah 10 Tahun dan masih susah untuk diarahkan.
Terbesit dalam angan-anganku, aku ingin menjadi guru suatu saat nanti.
Prestasiku di sekolah juga semakin meningkat, aku mendapatkan peringkat ke 2 ketika aku naik kelas 3 SMP.
Kali ini aku tidak mengecewakan kedua orang tuaku lagi, dan aku berhasil membuat kedua orang tuaku bangga.
Kebanggaan kedua orang tuaku kepadaku adalah suatu kebahagiaan bagiku.

Semoga aku dapat mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang guru dan bisa membuat bangga kedua orang tuaku lagi. Aamiin J

0 komentar:

Posting Komentar