Adi
rizki prasetyo begitulah nama lengkapku, tapi di lingkunganku aku biasa
dipanggil Adi.
Aku
adalah seorang yang terlahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana.
Keluargaku
terdiri dari enam orang, yaitu Ayah, Ibu, aku, satu adik dan dua orang kakakku.
Awalnya
hidupku cukup sempurna, sama seperti anak-anak yang lain, bermain, sekolah, dan
bercengkrama bersama keluarga.
Namun
semuanya itu berubah sejak aku mengenal game online saat usiaku 12 tahun,
hidupku semakin berantakan.
Mulai dari sering bolos sekolah sampai kabur dari rumah pun aku lakukan demi untuk dapat bermain game online.
Mulai dari sering bolos sekolah sampai kabur dari rumah pun aku lakukan demi untuk dapat bermain game online.
Mungkin
bisa dikatakan aku telah kecanduan game online, sebagian waktuku ku habiskan
dengan bermain game online sampai tak kenal waktu, entah itu pagi, siang, sore
ataupun malam.
Semangat
belajarku sebagai siswa kelas 1 SMP menurun drastis, aku menjadi sangat malas
untuk belajar, memegang buku pun aku enggan.
Aku
lebih suka memegang mouse, memencet keyboard dan memandang layer computer
berjam-jam dengan permainan game online kesukaanku.
Aku
sering dimarahi oleh orang tuaku karena susah disuruh belajar dan sering keluar
rumah, dan sampai akhirnya orang tua saya tahu bahwa aku sering ke warnet
bermain game online.
Waktu itu Ibuku menemukan nota pembayaran warnet di saku celana seragam sekolahku yang sengaja ku kumpulkan untuk aku tukar dengan bermain gratis di warnet langgananku, kulihat raut wajah Ibuku menampakkan kekecewaan.
Waktu itu Ibuku menemukan nota pembayaran warnet di saku celana seragam sekolahku yang sengaja ku kumpulkan untuk aku tukar dengan bermain gratis di warnet langgananku, kulihat raut wajah Ibuku menampakkan kekecewaan.
Kemudian
Ibuku memanggilku dan bertanya, “Nak, ini nota apa?”, “emm, itu nota biasa bu”
(jawabku berbohong).
Semenjak itu Ibuku mulai curiga dan lebih mengekangku, aku sering ditanya ketika aku pulang sekolah terlambat, “dari mana saja jam segini baru pulang?” (begitulah pertanyaan yang hampir setiap hari Ibuku tanyakan kepadaku).
Tapi semua pertanyaan Ibuku tidaklah ku hiraukan, bahkan aku sering membantah dan berbohong kepada Ibuku untuk membuat Ibuku tidak curiga lagi kepadaku.
Semenjak itu Ibuku mulai curiga dan lebih mengekangku, aku sering ditanya ketika aku pulang sekolah terlambat, “dari mana saja jam segini baru pulang?” (begitulah pertanyaan yang hampir setiap hari Ibuku tanyakan kepadaku).
Tapi semua pertanyaan Ibuku tidaklah ku hiraukan, bahkan aku sering membantah dan berbohong kepada Ibuku untuk membuat Ibuku tidak curiga lagi kepadaku.
Hari
demi hari aku semakin keranjingan game online, segala cara aku lakukan untuk
dapat terus bermain game online sampai-sampai uang untuk membayar sekolah aku
pakai untuk membayar sewa warnet.
Dan
tak jarang aku membohongi orang tuaku, meminta uang untuk membeli buku namun
lagi-lagi uangnya aku pakai untuk bermain game online.
Dan sampai pada puncak kekhilafanku aku sampai mencuri uang, demi untuk dapat bermain game yang membuatku kecanduan itu.
Dan sampai pada puncak kekhilafanku aku sampai mencuri uang, demi untuk dapat bermain game yang membuatku kecanduan itu.
Sempat
terbesit dalam fikiranku, ingin rasanya aku berhenti bermain game online, namun
kebiasaan ini sulit untuk kuhilangkan.
Sungguh menyiksa, kecanduan game online ini seakan-akan seperti kecanduan narkoba, sulit untuk aku melepaskan diri dari game online.
Sungguh menyiksa, kecanduan game online ini seakan-akan seperti kecanduan narkoba, sulit untuk aku melepaskan diri dari game online.
Hingga
hari pengambilan raport kenaikan kelas pun akhirnya tiba, perasaanku gelisah,
deg-degan, takut, cemas, campur aduk.
Aku
takut masuk sekolah hari itu, lagi-lagi aku pergi ke warnet langgananku dengan
harapan bisa menghibur perasaanku ini dan menghindar dari kemarahan orang tua
jika hasilnya jelek.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 dan waktu sewa warnet pun hampir habis, hanya tinggal beberapa menit lagi.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 dan waktu sewa warnet pun hampir habis, hanya tinggal beberapa menit lagi.
Rasa
cemas ini datang kembali, sudah terbayang dalam benakku jika orang tuaku tahu
hasil nilaiku jelek dan jika sampai aku tidak naik kelas, pasti orang tuaku
marah besar, ingin rasanya aku tidak pulang ke rumah hari ini.
Waktu
sewa warnetku pun habis, aku keluar warnet perlahan ku langkahkan kakiku
meninggalkan warnet yang tidak terlalu jauh dari rumahku itu, aku tidak
langsung pulang ke rumah, kakiku terus melangkah tak tau arah.
Lelah
kakiku melangkah, hingga aku pun sampai di suatu tempat teduh, banyak pepohonan
dan suasananya sepi, aku duduk di bawah salah satu pohon tersebut.
Semilir
angin sedikit menghiburku, membuatku melamun dan merenung, ternyata aku cukup
lama berada di bawah pohon itu.
Tak
terasa hari telah sore, aku beranjak dari tempat itu dan kini aku harus pulang
ke rumah, dengan rasa gelisah kakiku melangkah menuju arah tempat tinggalku.
Jarak
keberadaanku semakin dekat dengan rumahku, langkah kakiku semakin berat dan
jantung ini semakin berdegub kencang.
Namun
aku harus pulang dan melawan rasa takut ini, aku akan menerima apapun yang akan
terjadi sesampainya di rumah nanti.
Sampailah
aku di depan rumahku, awalnya aku bertemu dengan nenekku dan aku menyapanya.
Nenek
tidak merespon sapaanku seperti biasanya, raut mukanya menampakkan kekecewaan
terhadapku.
Nenek
hanya berkata, “temuin Ibumu di dalam”, aku pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Ku
temukan Ibuku duduk di atas kasur kamarnya dengan berlinangan air mata, dalam
hati ku berbicara “ya, mungkin ibu menangis karena aku tidak naik kelas”.
Air
mataku pun ikut berlinang, aku menangis sejadi-jadinya, hingga Ibuku tahu
keberadaanku.
Ibuku memalingkan muka, sepertinya beliau tidak ingin melihatku untuk saat itu, air mataku semakin deras menetes dan berkata dalam hati “maafkan aku Ibu, aku telah membuatmu kecewa”.
Ibuku memalingkan muka, sepertinya beliau tidak ingin melihatku untuk saat itu, air mataku semakin deras menetes dan berkata dalam hati “maafkan aku Ibu, aku telah membuatmu kecewa”.
Tiba-tiba
Ayahku pun datang dari arah belakangku, aku menoleh dan aku mendapatkan hadiah
tamparan oleh beliau.
Aku
dimarahi Ayahku sejadi-jadinya, Ayahku tahu semua apa yang telah ku lakukan
selama ini, mulai dari sering bolos sekolah, memakai uang SPP sekolah, mencuri
uang untuk bermain game online.
Tamparan Ayahku tak terasa begitu sakit dan itu memang pantas aku dapatkan karena telah membuat kecewa kedua orang tuaku.
Tamparan Ayahku tak terasa begitu sakit dan itu memang pantas aku dapatkan karena telah membuat kecewa kedua orang tuaku.
Aku
lari menuju kamar tidurku, air mataku meluncur deras dan aku menangis sesenggukan.
Aku
menangis menyesal, hingga air mataku kering tak bisa keluar lagi, hingga aku
pun tertidur.
Keesokan
harinya aku bangun pagi-pagi, sedangkan Ayah Ibuku telah pergi ke pasar.
Dengan
rasa penasaran, aku mencari hasil raportku keliling rumah, dan ku temukan
raportku tergeletak diatas meja belajarku.
Aku buka hasil raportku perlahan, aku ingin
memastikan apakah aku benar tidak naik kelas seperti apa yang kuduga-duga.
Aku terkejut ketika aku mengetahui bahwa aku ternyata naik kelas, walaupun itu naik kelas bersyarat.
Aku terkejut ketika aku mengetahui bahwa aku ternyata naik kelas, walaupun itu naik kelas bersyarat.
Sejak
kejadian itu hidupku berubah semakin membaik, aku putuskan untuk meninggalkan
game online sedikit demi sedikit sampai sama sekali lepas dari game online.
Hubunganku
dengan Ayah Ibuku juga semakin membaik, bahkan Ayah Ibuku semakin menyayangiku
karena kini aku bertambah rajin sekolah, belajar dan patuh kepada orang tuaku.
Aku
juga menjadi rajin sholat ke masjid dan belajar mengaji di masjid, pada usiaku
yang ke 12 Tahun aku belum bisa membaca huruf hijaiyah dengan lancar.
Aku
malu kepada teman-temanku yang usianya dibawahku, aku termasuk murid yang
paling tua umurnya di TPA masjid dekat rumahku itu.
Aku
siswa kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada waktu itu, dan teman-temanku
kebanyakan usia balita sampai siswa/siswi Sekolah Dasar (SD).
Lama
kelamaan rasa malu itu hilang, karena aku tahu tidak ada kata terlambat untuk
belajar.
Aku
belajar dari huruf alif sampai ya dan hingga aku bisa membaca Al Qur’an, aku
belum sempat mengatamkan membaca Al Qur’an waktu itu.
Karena aku diminta oleh guru mengajiku untuk membantu mengajar adik-adik yang lain mengaji, aku sangat menikmatinya.
Karena aku diminta oleh guru mengajiku untuk membantu mengajar adik-adik yang lain mengaji, aku sangat menikmatinya.
Menyenangkan
bisa mengajarkan adik-adik mengaji, meski harus ekstra sabar untuk
mengajarkannya karena mayoritas adik-adik masih usia dibawah 10 Tahun dan masih
susah untuk diarahkan.
Terbesit
dalam angan-anganku, aku ingin menjadi guru suatu saat nanti.
Prestasiku di sekolah juga semakin meningkat, aku mendapatkan peringkat ke 2 ketika aku naik kelas 3 SMP.
Prestasiku di sekolah juga semakin meningkat, aku mendapatkan peringkat ke 2 ketika aku naik kelas 3 SMP.
Kali
ini aku tidak mengecewakan kedua orang tuaku lagi, dan aku berhasil membuat
kedua orang tuaku bangga.
Kebanggaan kedua orang tuaku kepadaku adalah suatu kebahagiaan bagiku.
Kebanggaan kedua orang tuaku kepadaku adalah suatu kebahagiaan bagiku.
Semoga
aku dapat mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang guru dan bisa membuat
bangga kedua orang tuaku lagi. Aamiin J








0 komentar:
Posting Komentar