Account

gelembung

cursor

Senin, 07 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 35 of 36)

[♥] MALAM YG PENUH MISTERI KEBAHAGIAAN [♥]

Seusai shalat Magrib berjamaah dimasjid,aku mendapati Maryam telah berada dirumah ammah dan abah Azhar.Rupanya Maryam menungguku dan sudah kuduga,Maryam pasti sangat bingung mengenai kejadian tadi pagi dan bisa kupastikan kedatangannya saat ini kerumah ammah Azhar adalah untuk menanyakan mengapa aku tiba
2 meninggalkan kediamannya pagi tadi tanpa alasan yg jelas.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam,akhirnya kau datang juga,Nida.Maryam telah lama menunggumu." ujar ammah.

Akhirnya,kami pun berbincang-bincang tapi sepertinya Maryam belum boleh mengetahui tentang perasaanku yg sebenarnya pada saudara kembarnya itu dan akhirnya aku kembali mengalihkan pembicaraan dg Maryam.

Lalu,kudengar seseorang mengetuk pintu rumah ammah.

"Sebentar Maryam,kulihat dulu siapa yg mengetuk pintu."

"Baiklah."

Kulihat dari jendela,sepertinya tamu yg berkunjung kerumah ammah dan abah Azhar lebih dari satu orang tapi aku tak bisa melihatnya dg jelas.Akhirnya kubuka pintu.

"Assalamu'alaikum..."

Sesosok pria memberikan salam kepadaku.

"Assalamu'alaikum,Nida."

Aku terperajat,tak mempercayai siapa yg berada dihadapanku itu.Hal ini kembali terjadi,denyut jantungku berirama tak menentu.Bagaimana tidak,seorang Ustadz agung kini berdiri dihadapanku terlebih lagi Ustadz tersebut adalah ayah kandung dari orang yg kucintai.Ya...,Ustadz Muhsin Abdul Jalil yg kini berada dihadapanku.Apakah ammah dan abah Azhar memberitahukan perasaanku yg sebenarnya pada Usadz Muhsin? Ya Rabb...,hati ini jadi tak menentu.

Dengan terbata-bata aku menjawab salam dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil.

"Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh..."

"Bolehkan aku masuk,Nida?" tanya Ustadz Muhsin.

Rasanya,tak seharusnya Ustadz Muhsin meminta izin kepadaku untuk memasuki rumah ini karena ini bukanlah kediamanku tapi tak lama kemudian ammah,abah dan abi hadir diruangan itu dan akhirnya abah Azhar membuka suara untuk mengizinkan Ustadz Muhsin masuk ke kediamannya.Saat itu tubuhku masih kaku.Bagaimana tidak setelah Ustadz Muhsin masuk ada beberapa orang lain yg mengikutinya,entahlah siapa mereka semua tapi yg jelas aku tetap yakin bahwa Muhammad Muhsin ada diantara mereka.Dan ternyata memang benar,tamu terakhir yg masuk menundukkan wajahnya tersenyum padaju.Wajahnya sungguh meneduhkan.Rabbi...,diakah sosok yg selama ini hanya menjadi bayangam dalam hatiku? Sesegera mungkin kutundukkan pandanganku tak berani lagi aku menatap wajag itu.Setelah semuanya masuk,entah mengapa kaki ini masih sulit untuk digerakkan,terasa kaku,lidah ini pun kelu tak bisa ucapkan apa pun hingga akhirnya Maryam menghampiriku dan mengajakku duduk disebelahnya.

"Baiklah,sepertinya sudah bisa dimulai," ucap abah Azhar.

Dimulai? Apa yg harus dimulai? Keringat dinginku mulai bercucuran dan sepertinya wajahku pun kian memucat.Rabbi,aku berlindung pada Mu.Hatiku semakin yakin bahwa Ustadz Muhsin memang sudah mengetahui perasaanku pada putranya tapi aku juga masih tak mengerti maksud kehadiran Ustad Muhsin kemari.

"Assalamu'alaiku wa rahmatullahi wa barakatuh..."

Suara salam Ustadz Muhsin menggema diseluruh sudut ruangan.

"Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh..."

Seluruhnya yg hadir menjawab salam dg baik.

"Sebelumnya,saya ingin menyampaikan beberapa hal.Nida,boleh saya bertanya kepadamu?" tanya Ustadz Muhsin.

"Tentu saja,Ustadz.''

"Apa kau mengenal seorang pria yg duduk disampingku ini?"

Itu adalah pria yg tersenyum padaku tadi.Mungkin itu Muhammad Muhsin tapi mungkin juga tidak.

"Tidak,aku tak mengenalnya." jawabku pada Ustadz Muhsin.

"Sungguh?"

Sepertinya Ustadz Muhsin meyakinkanku akan jawaban yg kuutarakan tadi.

"Ya,sungguh aku tak mengenalnya,Ustadz."

"Baiklah,kalau begitu sekarang kulanjutkan dg pertanyaanku yg kedua.Bagaimana jika seorang yg belum kau kenal meminangmu untuk menjadi istrinya,apa kau bersedia?"

Aku tak tahu,jawaban apa yg harus kuberikan.Memang ada getaran halus dihatiku saat aku melihat sesosok pria yg duduk disamping Ustadz Muhsin tersebut tapi aku juga tak bisa memastikan apakah itu adalah Muhammad Muhsin ataukah bukan tapi kini kumulai meneguhkan pendirianku sesuai dg apa yg aku katakan kemarin pada ammah dan abah bahwasanya aku akan berusaha ikhlas dan ridha atas semua ketetapan Allah.Entah Muhammad Muhsin ataukah bukan jodohku nanti aku hanya akan berusaha meminimalisir harapanku untuk berjodoh dg dirinya dan menyerahkan urusan jodohku pada Allah.

"Nida,kau bisa menjawab pertanyaan yg saya ajukan tadi?"

Sepertinya aku terlalu lama berpikir hingga membuat Ustadz Muhsin terlalu lama menunggu jawabanku.

"Maaf Ustadz,terlalu lama menunggu jawabanku.Insya Allah akan kuterima,asalkan pria itu shalih dan dapat saling menguatkan dalam keimanan,saling menguatkan dalam ketakwaan dan saling melindungi untuk menjauhi maksiat dan tentunya abiku pun harus meridhainya sebagai pendamping hidupku."

"Lalu,bagaimana dg harapanmu untuk berjodoh dg insan yg telah ada dalam hatimu?"

"Aku rela mengorbankan cinta dalam hatiku pada seorang insan yg telah lama kucintai demi mengharapkan cinta dari Allah."

"Kau yakin dg jawabanmu?"

"Ya Ustadz,saya yakin."

"Sungguh?"

"Insya Allah.Saya yakin,Ustadz."

"Baiklah..."

Rabbi...,Ustadz Muhsin adalah Ustadz yg agung di Madinah jadi banyak orang Madinah yg meminta bantuan terhadap dirinya.Mungkin saja,pemuda yg ada disampingnya itu meminta bantuan kepada Ustadz Muhsin untuk meminangku menjadi istri pemuda tersebut.Sepertimya,aku harus belajar menghapus rasa cintaku terhadap Muhammad Muhsin.Aku harus mulai membuka hatiku untuk orang lain semoga kali ini kisah cintaku tak gagal seperti saat bersama Azhar dan Aziz,aamiin.

Meski ammah,abah,abi,Maryam dan beberapa orang lainnya berada diruangan tersebut tapi sepertinya aku hanya berada dg Ustadz Muhsin saja diruangan tersebut karena semuanya membisu tanpa suara.

"Jadi,kau bersedia menerima lamaran dari pemuda yg berada disampingku ini?"

Bismillah...,insya Allah diri ini ridha ya Rabb,semoga abi pun mengizinkannya dan merestuinya.

"Aku harus meminta izin pada abiku terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ustadz."

Aku menghampiri abi yg duduk tak jauh dari tempat dudukku,kucium tangannya.

"Abi,apakah abi merestui jika aku menikah dg pemuda yg berada disamping Ustadz Muhsin tersebut?" tanyaku pada abi.

"Tentu saja,Nak.Insya Allah,abi selalu merestuimu."

"Terima kasih,abi.Aku sangat menyayangi abi."

Setelah kupastikan bahwa abi pun merestuinya,aku kembali ke tempat dudukku semula dan berkata pada Ustadz Muhsin.

"Abi merestuinya,Ustadz.Aku yakin,abi selalu merestui yg terbaik untuk diriku jadi tak ada alasan untuk menolak pinangan dari pemuda yg berada disamping Ustadz."

"Alhamdulillah..."

Sepertinya semuanya bahagia termasuk abi tapi entah mengapa aku masih bingung.Sebenarnya siapa pemuda tersebut? Mengapa abi langsung merestui pemuda tersebut untuk menjadi pendamping hidupku dan apakah abi telah mengenalnya lalu ammah,abah pun turut bahagia padahal keduanya telah mengetahui bahwa aku sangat mencintai Muhamad Muhsin.Maryam pun begitu,bahkan langsung memeluk diriku dan berkata bahwa dia bahagia sekali karena bisa selalu dekat dg diriku tapi dibalik kebingunganku saat ini terselip perasaan yg begitu bahagia padahal dg memutuskan menerima pinangan pemuda tersebut aku harus berusaha sepenuh jiwa untuk melupakan cintaku pada Muhammad,tak lama kemudian Ustadz Muhsin pun membuka pembicaraan.

"Saya telah bertanya pada Nida,kini saatnya saya pun harus bertanya pada pemuda yg hendak melamarnya.Nak,kau telah mendengar keputusan Nida dan orang tuanya mereka menerima lamaranmu.Apakah kau bahagia?"

''Tentu saja,aku sangat bahagia,abi." jawab pemuda tersebut.

Apa? Abi? Ada apa ini? Benarkah dia adalah...
Tak ingin berada pada posisi yg meragukan ini segera aku bertanya tentang identitas pemuda tersebut pada Ustadz Muhsin.

"Maaf Ustadz,bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan pada Ustadz?"

"Pertanyaan apakah yg akan kau ajukan,Nida?"

"Sebenarnya,siapa pemuda yg berada disamping Ustadz? Mengapa dia memanggil Ustadz dg sebutan Abi?"

"Apa salah,jika pemuda disampingku itu memanggilku dg sebutan abi? Bukankah dia adalah putraku?"

"Putra? Putra Ustadz?"

Entah...,aku pun masih bingung tak bisa kuungkapkan perasaanku saat ini.

"Kau masih belum mengerti,Nida?" jawab Ustadz Muhsin terhadapku.

"Ya...,aku masih bingung Ustadz."

Aneh,mengapa semuanya tersenyum diatas kebingunganku ini.

"Nida,kau boleh bertanya langsung pada pemuda yg disampingku ini." jawab Ustadz Muhsin padaku.

"Baiklah,Ustadz."

Demi menjawab rasa ingin tahuku itu,kuberanikan diriku untuk bertanya pada pemuda tersebut.Kutundukan wajahku,berusaha tak terlalu lama melihatnya sebab tak ingin hatiku ternoda sebelum ijab qabul diucapkan dalam pernikahanku.Bismillah...

"Maaf,siapa sebenarnya namamu? Mengapa kau memanggil Ustadz dg sebutan abi?" tanyaku pada pemuda tersebut.

"Aku memanggil Ustadz Muhsin Abdul Jalil dg sebutan abi karena beliau adalah ayah kandungku," jawab pemuda itu.


"Ayah kandung? Jadi kau adalah..."

"Ya,aku adalah Muhammad Muhsin saudara kembar Maryam Muhsin putra Ustadz Muhsin Abdul Jalil."

Subhanallah... Kini,aku merasakan kebahagiaan memenuhi dadaku,hingga sesak rasanya.Suasana haru mewarnai kediaman ammah dan abah Azhar.Langit pun cerah,sepoi udara malam itu sepertinya turut hadir untuk mengucapkan selamat pada diriku.Rabbi...,Kau mendengarkan doaku.Terima kasih,ya Allah.Akhirnya aku pun menceritakan kondisi kesehatanku yg sesungguhnya dan meminta Muhammad untuk bersabar menungguku hingga terapi kanker otakku usai kujalani dan Alhamdulillah semuanya setuju tanpa terkecuali dan akhirnya disepakati bahwa pernikahanku dg Muhammad Muhsin akan dilangsungkan setelah terapi air zamzam yg akan kujalani untuk mengobati kanker otakku.Alhamdulillah,semoga Allah memberikan kesembuhan yg sempuna padaku,aamiin.Dan aku pun mengajukan mahar surat ar Rahman dalam pernikahan kami nanti dan Alhamdulillah Muhammad menyetujuinya.

NANTIKAN BAGIAN. AKHIR...

1 komentar:

  1. subhanallah.,.,
    sumnnguh besar nikmat yang Allah berikan.,.,,

    BalasHapus