[♥] AKHIRNYA MENTARI KEMBALI BERSINAR [♥] (Bag 34)
Hari ini adalah hari ke 2 aku berada di Ma'had Al Fathir ini tapi
belum juga aku bertemu secara langsung.Aku memang ingin bertemu dg
dirinya tapi aku tak ingin mendahului skenario Nya.
Tiba2,seseorang menepuk bahuku.
"Maryam..."
Kulihat sahabatku tersenyum riang,mungkin karena kondisiku mulai membaik saat ini...
"Nida...,bagaimana kabarmu saat ini? Kau sudah sehat?"
"Alhamdulillah,jauh lebih baik dari kemarin."
"Alhamdulillah,jika begitu keadaanmu.Sebenarnya,kau sakit apa?
Mengapa bisa tak sadarkan diri seperti kemarin,sungguh aku sangat
mengkhawatirkanmu."
Rabb...,haruskah aku berkata yg sejujurnya pada Maryam bahwa aku
sedang mengindap kanker stadium 3 tapi aku tak ingin semua orang yg
kusayangi bersedia lantaran mengetahui penderitaanku saat ini.
"Nida,kau mau menceritakannya kepadaku?" tanya Maryam terhadapku.
"Maryam...,aku pasti akan menceritakan semuanya yg terjadi pada
diriku tapi sepertinya ini bukanlah waktu yg tepat suatu saat nanti
jika menurutku waktunya telah tepat akan kuceritakan semuanya
kepadamu."
"Baiklah...,aku akan menunggu waktu yg tepat itu.Oh ya,aku ingin mengajakmu kesuatu tempat,kau mau?"
"Ke mana?"
"Kerumahku,aku ingin memperkenalkan dirimu pada ke 2 orang tuaku dan seluruh keluargaku."
"Apa? Pada keluargamu?"
"Iya,mengapa harus terkejut? Ke 2 orang tuaku sudah mengetahui banyak
cerita tentang dirimu bahkan semua kakak dan adikku pun telah
mengetahui bahwa engkau adalah sahabatku.Tapi sayang semenjak kau
melanjutkan studimu di Mesir,silahturahmi kita hampir saja terputus dan
kali ini aku merasa sangat beruntung telah dipertemukan kembali dg mu
oleh karena itu aku ingin memperkenalkan dirimu pada ke 2 orang tuaku."
Keresahan ini kembali hadir,jika aku pergi ke rumah Maryam secara
tidak langsung pasti aku akan bertemu dg seluruh keluarganya dan itu
artinya aku pun pasti akan bertemu dg Muhammad Muhsin tapi aku belum
siap,Rabbi.Aku belum siap,apa yg harus kulakukan,aku pun tak mungkin
menolak ajakan Maryam,aku tak ingin mengecewakan sahabatku,ya Rabb.
"Nida... Ayo,kau harus bertemu dg keluargaku,aku ingin kau mengenal
keluargaku dan aku juga menginginkan seluruh keluargaku mengenalmu."
"Tapi,aku..."
"Tapi,apa? Sudahlah,ayo kita pergi kerumahku."
Tak sempat aku memberikan alasan pada Maryam,tangannya dg cepat
merengkuh tanganku dan mengajakku ke rumahnya.Tak jauh memang tapi
selama perjalanan menuju rumah Maryam langkah ini sepertinya terlalu
berat.Hati ini rasanya terlalu berat menghadapi ini semua.Entah
mengapa,aku masih saja merasa belum siap untuk bertemu dg sosok Muhammad
Muhsin.
Dan kami telah sampai didepan sebuah kediaman yg sungguh
menyejukkan,cat tembok berwarna hijau dg dihiasi kaligrafi yg sungguh
indah,alunan suara Al Qur'an terdengar dari dalamnya dan aku masih
berusaha menolak ajakan sahabatku untuk bertemu dg keluarganya,beribu
macam tak berubah sejak dahulu jika menurutnya hal yg dilakukan adalah
benar,maka tak seorang pun dapat menghalanginya.
"Ehm... Maryam,siapa yg sedang membaca Al Qur'an didalam?"
"Kau bisa menebaknya?"
"Siapa? Aku tak tahu."
"Bukannya dulu aku sering bercerita kepadamu?"
"Bercerita tentang apa? Sepertinya tidak."
Kulihat sebuah senyum terlihat pada wajah sahabatku.
"Nida... Nida...,ternyata kau benar2 melupakannya."
"Maaf,tapi aku benar2 tak mengingatnya."
Hatiku sempat bertanya-tanya,memang saat di pesantren dulu kami sering bercerita mengenai keluarga masing2.
"Sepertinya,kau belum juga mengingatnya,baiklah aku akan
memberitahumu.Kau masih ingat tentang saudara kembarku yg selalu
dibanggakan oleh abiku?"
"Apa? Saudara kembarmu?"
"Ya...,saudara kembarku,Muhammad Muhsin,kau ingat?"
"Jadi,yg sedang melantunkan ayat suci Al Quran itu adalah saudara kembarmu,Muhammad Muhsin?"
"Ya...,betul sekali."
Aku tak bisa menahan perasaanku,hatiku tak menentu hingga entah
mengapa akhirnya aku berlari secepat mungkin meninggalkan kediaman
Maryam sebelum aku sempat bertemu dg keluarganya.
Aku segera kembali ke rumah ammah Azhar.Di sepanjang jalan kuteteskan air mata,entah mengapa kondisiku jadi seperti ini.
Kulihat abi,ammah dan abah Azhar sedang berbincang-bincang dihalaman
rumah.Aku yakin,semuanya pasti akan bingung dan bertanya-tanya,mengapa
aku berlari sambil meneteskan air mata.Aku langsung menuju kamar dan
kutumpahkan semua air mataku.Kudengar langkah kaki menghampiriku.
"Abi...!"
Kupeluk abiku erat2,aku menangis dalam pelukannya hingga punggung abi basah lantaran derasnya air mata yg kukeluarkan.
"Tenanglah,Nak... Ada apa? Ceritakan pada abi."
Tapi napasku masih tak beraturan,aku masih tersedu-sedu hingga tak bisa menceritakan permasalahan ini dg jelas pada abi.
"Nak...,tenangkan dulu dirimu,hapus air matamu,yakinkanlah dirimu bahwa semuanya akan baik2 saja."
Lalu abi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yg masih tersisa dipelupuk mataku.Abi menatapku dan menenangkan diriku.
"Baiklah...,sekarang ceritakan semuanya pada abi."
Kuceritakan semuanya pada abi dan aku pun bercerita akan rasa takut yg selalu mengejarku akhir2 ini.
"Boleh Abi bertanya padamu,Nak? Sebenarnya,apa yg membuatmu takut?
Seharusnya kau bahagia karena kini posisimu dekat dg Muhammad
Muhsin,walaupun hingga saat ini kau belum bertemu langsung dg dirinya."
"Sebenarnya,aku belum siap bertemu dg Muhammad Muhsin dg kondisiku saat ini."
"Kondisi seperti apa,Nak? Kau wanita shalihah dan Muhammad Muhsin
adalah pria yg shalih lalu kondisi apa lagi yg membuatmu takut,Nak?"
"Aku takut jika Muhammad mengetahui bahwa aku sedang mengindap kanker
otak stadium 3,aku tak siap abi,sungguh aku tak siap hadapi ini."
Tiba2 kudengar seorang menghampiriku ternyata itu adalah ammah dan abah Azhar.Ammah langsung memeluk tubuhku.
"Nak...,mengapa kau tak katakan pada ammah jika kau mengindap kanker otak stadium 3?"
Ammah menangis mengetahui kondisiku saat ini.Rabb...,satu demi satu
orang yg kusayangi bersedih mengetahui kondisiku saat ini.Inilah yg tak
kuinginkan dan kulihat juga abah Azhar meneteskan air mata.Ya Rahman...
"Aku hanya tak ingin membuat ammah bersedih,lagi pula aku juga tak ingin merepotkan ammah dan abah."
"Nida,ammah dan abah tak pernah merasa direpotkan olehmu.Ammah ingin
menceritakan kisah hidup ammah.Dulu ammah juga pernah mengindap kanker
bahkan kanker yg amah derita telah stadium akhir tapi alhamdulillah
karena kehendak Allah ammah dapat sembuh dg kesembuhan yg sempurna
setelah menjalani pengobatan dipusat kota Madinah.Terapi air
zamzam,ammah menjalani terapi air zamzam 6 bulan lamanya,awalnya ammah
ragu karena berbagai pengobatan diseluruh penjuru Syria telah ammah
jalani tapi hasilnya tak sesuai yg diharapkan.Tapi akhirnya ammah mulai
meyakinkan diri ammah sendiri bahwa air zamzam adalah air yg penuh
berkah karena berada dibumi yg diberkahi yaitu bumi Madinah dan muncul
dg kisah yg sangat diberkahi yaitu kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail,dg
berbekal keyakinan itulah ammah mulai menata semangat diri,menghapus air
mata hingga akhirnya tibalah saatnya dimana Allah menyembuhkan
penyakit ammah dg sempurna.Nak,kau mau menjalani terapi itu? Ammah akan
selalu mendampingi dirimu saat terapi berlangsung."
"Benarkah apa yg ammah katakan itu?"
"Untuk apa ammah berdusta padamu,Nida?"
Rasanya memang sungguh bahagia,bagaikan mendapatkan sepercik
harapan,harapan untuk sembuh dari penyakitku ini.Terima kasih,Rabbi.
"Nida...,ammah ingin bertanya kepadamu.Ammah mendengar pembicaraanmu
dg abimu dan sepertinya kalian menyinggung nama Muhammad? Apa Muhammad
yg kau bicarakan itu adalah Muhammad Muhsin putra Ustadz Muhsin Abdul
jalil?"
Sepertinya aku tak harus menyembunyikan kisah tentang Muhammad lagi
pada ammah dan abah.Rasanya sudah lelah terus hidup dalam sebuah
rahasia,kuharap ini akan membawa kebaikan bagi hidupku.
"Betul,ammah.Muhammad yg kumaksud adalah Muhammad Muhsin,saudara
kembar Maryam Muhsin dan putra dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil."
"Kau mengenalnya?"
Abi pun menjawab pertanyaan ammah,abi menceritakan semuanya pada
ammah dan abah tanpa terkecuali,termasuk kejadian yg baru saja kualami
tadi dan kini akhirnya kedua orang tua Azhar mengetahui bahwa aku
mencintai Muhammad Muhsin.
"Benarkah yg abimu ceritakan itu,Nida?"
Sepertinya ammah dan abah ingin meyakinkan dirinya tentang kebenaran semua yg dikatakan bi tentang perasaanku pada Muhammad.
"Itu memang benar,ammah,abah tapi sekarang aku mulai belajar untuk
tak berharap terlalu banyak.Cukuplah pilihan Allah saja yg
kuharapkan,entah siapa pun yg Allah ditakdirkan untukku,insya Allah aku
akan belajar untuk rela dan ikhlas."
"Sungguh,kau wanita yg shalihah,Nida.Ammah dan abah yakin hanya laki2 shalih yg akan mendampingimu didunia dan akhirat."
"Mohon doanya,ammah,abah."
Ammah pun memeluk diriku dg hangat.
BERSAMBUNG... (Bag 35 of 36)
Senin, 07 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar