Account

gelembung

cursor

Senin, 07 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 34 of 36)

[♥] AKHIRNYA MENTARI KEMBALI BERSINAR [♥] (Bag 34)

Hari ini adalah hari ke 2 aku berada di Ma'had Al Fathir ini tapi belum juga aku bertemu secara langsung.Aku memang ingin bertemu dg dirinya tapi aku tak ingin mendahului skenario Nya.


Tiba2,seseorang menepuk bahuku.

"Maryam..."

Kulihat sahabatku tersenyum riang,mungkin karena kondisiku mulai membaik saat ini...

"Nida...,bagaimana kabarmu saat ini? Kau sudah sehat?"

"Alhamdulillah,jauh lebih baik dari kemarin."

"Alhamdulillah,jika begitu keadaanmu.Sebenarnya,kau sakit apa? Mengapa bisa tak sadarkan diri seperti kemarin,sungguh aku sangat mengkhawatirkanmu."

Rabb...,haruskah aku berkata yg sejujurnya pada Maryam bahwa aku sedang mengindap kanker stadium 3 tapi aku tak ingin semua orang yg kusayangi bersedia lantaran mengetahui penderitaanku saat ini.

"Nida,kau mau menceritakannya kepadaku?" tanya Maryam terhadapku.

"Maryam...,aku pasti akan menceritakan semuanya yg terjadi pada diriku tapi sepertinya ini bukanlah waktu yg tepat suatu saat nanti jika menurutku waktunya telah tepat akan kuceritakan semuanya kepadamu."

"Baiklah...,aku akan menunggu waktu yg tepat itu.Oh ya,aku ingin mengajakmu kesuatu tempat,kau mau?"

"Ke mana?"

"Kerumahku,aku ingin memperkenalkan dirimu pada ke 2 orang tuaku dan seluruh keluargaku."

"Apa? Pada keluargamu?"

"Iya,mengapa harus terkejut? Ke 2 orang tuaku sudah mengetahui banyak cerita tentang dirimu bahkan semua kakak dan adikku pun telah mengetahui bahwa engkau adalah sahabatku.Tapi sayang semenjak kau melanjutkan studimu di Mesir,silahturahmi kita hampir saja terputus dan kali ini aku merasa sangat beruntung telah dipertemukan kembali dg mu oleh karena itu aku ingin memperkenalkan dirimu pada ke 2 orang tuaku."

Keresahan ini kembali hadir,jika aku pergi ke rumah Maryam secara tidak langsung pasti aku akan bertemu dg seluruh keluarganya dan itu artinya aku pun pasti akan bertemu dg Muhammad Muhsin tapi aku belum siap,Rabbi.Aku belum siap,apa yg harus kulakukan,aku pun tak mungkin menolak ajakan Maryam,aku tak ingin mengecewakan sahabatku,ya Rabb.

"Nida... Ayo,kau harus bertemu dg keluargaku,aku ingin kau mengenal keluargaku dan aku juga menginginkan seluruh keluargaku mengenalmu."

"Tapi,aku..."

"Tapi,apa? Sudahlah,ayo kita pergi kerumahku."

Tak sempat aku memberikan alasan pada Maryam,tangannya dg cepat merengkuh tanganku dan mengajakku ke rumahnya.Tak jauh memang tapi selama perjalanan menuju rumah Maryam langkah ini sepertinya terlalu berat.Hati ini rasanya terlalu berat menghadapi ini semua.Entah mengapa,aku masih saja merasa belum siap untuk bertemu dg sosok Muhammad Muhsin.

Dan kami telah sampai didepan sebuah kediaman yg sungguh menyejukkan,cat tembok berwarna hijau dg dihiasi kaligrafi yg sungguh indah,alunan suara Al Qur'an terdengar dari dalamnya dan aku masih berusaha menolak ajakan sahabatku untuk bertemu dg keluarganya,beribu macam tak berubah sejak dahulu jika menurutnya hal yg dilakukan adalah benar,maka tak seorang pun dapat menghalanginya.

"Ehm... Maryam,siapa yg sedang membaca Al Qur'an didalam?"

"Kau bisa menebaknya?"

"Siapa? Aku tak tahu."

"Bukannya dulu aku sering bercerita kepadamu?"

"Bercerita tentang apa? Sepertinya tidak."

Kulihat sebuah senyum terlihat pada wajah sahabatku.

"Nida... Nida...,ternyata kau benar2 melupakannya."

"Maaf,tapi aku benar2 tak mengingatnya."

Hatiku sempat bertanya-tanya,memang saat di pesantren dulu kami sering bercerita mengenai keluarga masing2.

"Sepertinya,kau belum juga mengingatnya,baiklah aku akan memberitahumu.Kau masih ingat tentang saudara kembarku yg selalu dibanggakan oleh abiku?"

"Apa? Saudara kembarmu?"

"Ya...,saudara kembarku,Muhammad Muhsin,kau ingat?"

"Jadi,yg sedang melantunkan ayat suci Al Quran itu adalah saudara kembarmu,Muhammad Muhsin?"

"Ya...,betul sekali."


Aku tak bisa menahan perasaanku,hatiku tak menentu hingga entah mengapa akhirnya aku berlari secepat mungkin meninggalkan kediaman Maryam sebelum aku sempat bertemu dg keluarganya.

Aku segera kembali ke rumah ammah Azhar.Di sepanjang jalan kuteteskan air mata,entah mengapa kondisiku jadi seperti ini.

Kulihat abi,ammah dan abah Azhar sedang berbincang-bincang dihalaman rumah.Aku yakin,semuanya pasti akan bingung dan bertanya-tanya,mengapa aku berlari sambil meneteskan air mata.Aku langsung menuju kamar dan kutumpahkan semua air mataku.Kudengar langkah kaki menghampiriku.

"Abi...!"

Kupeluk abiku erat2,aku menangis dalam pelukannya hingga punggung abi basah lantaran derasnya air mata yg kukeluarkan.

"Tenanglah,Nak... Ada apa? Ceritakan pada abi."

Tapi napasku masih tak beraturan,aku masih tersedu-sedu hingga tak bisa menceritakan permasalahan ini dg jelas pada abi.

"Nak...,tenangkan dulu dirimu,hapus air matamu,yakinkanlah dirimu bahwa semuanya akan baik2 saja."

Lalu abi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yg masih tersisa dipelupuk mataku.Abi menatapku dan menenangkan diriku.

"Baiklah...,sekarang ceritakan semuanya pada abi."

Kuceritakan semuanya pada abi dan aku pun bercerita akan rasa takut yg selalu mengejarku akhir2 ini.

"Boleh Abi bertanya padamu,Nak? Sebenarnya,apa yg membuatmu takut? Seharusnya kau bahagia karena kini posisimu dekat dg Muhammad Muhsin,walaupun hingga saat ini kau belum bertemu langsung dg dirinya."

"Sebenarnya,aku belum siap bertemu dg Muhammad Muhsin dg kondisiku saat ini."

"Kondisi seperti apa,Nak? Kau wanita shalihah dan Muhammad Muhsin adalah pria yg shalih lalu kondisi apa lagi yg membuatmu takut,Nak?"

"Aku takut jika Muhammad mengetahui bahwa aku sedang mengindap kanker otak stadium 3,aku tak siap abi,sungguh aku tak siap hadapi ini."

Tiba2 kudengar seorang menghampiriku ternyata itu adalah ammah dan abah Azhar.Ammah langsung memeluk tubuhku.

"Nak...,mengapa kau tak katakan pada ammah jika kau mengindap kanker otak stadium 3?"


Ammah menangis mengetahui kondisiku saat ini.Rabb...,satu demi satu orang yg kusayangi bersedih mengetahui kondisiku saat ini.Inilah yg tak kuinginkan dan kulihat juga abah Azhar meneteskan air mata.Ya Rahman...

"Aku hanya tak ingin membuat ammah bersedih,lagi pula aku juga tak ingin merepotkan ammah dan abah."

"Nida,ammah dan abah tak pernah merasa direpotkan olehmu.Ammah ingin menceritakan kisah hidup ammah.Dulu ammah juga pernah mengindap kanker bahkan kanker yg amah derita telah stadium akhir tapi alhamdulillah karena kehendak Allah ammah dapat sembuh dg kesembuhan yg sempurna setelah menjalani pengobatan dipusat kota Madinah.Terapi air zamzam,ammah menjalani terapi air zamzam 6 bulan lamanya,awalnya ammah ragu karena berbagai pengobatan diseluruh penjuru Syria telah ammah jalani tapi hasilnya tak sesuai yg diharapkan.Tapi akhirnya ammah mulai meyakinkan diri ammah sendiri bahwa air zamzam adalah air yg penuh berkah karena berada dibumi yg diberkahi yaitu bumi Madinah dan muncul dg kisah yg sangat diberkahi yaitu kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail,dg berbekal keyakinan itulah ammah mulai menata semangat diri,menghapus air mata hingga akhirnya tibalah saatnya dimana Allah menyembuhkan penyakit ammah dg sempurna.Nak,kau mau menjalani terapi itu? Ammah akan selalu mendampingi dirimu saat terapi berlangsung."

"Benarkah apa yg ammah katakan itu?"

"Untuk apa ammah berdusta padamu,Nida?"

Rasanya memang sungguh bahagia,bagaikan mendapatkan sepercik harapan,harapan untuk sembuh dari penyakitku ini.Terima kasih,Rabbi.

"Nida...,ammah ingin bertanya kepadamu.Ammah mendengar pembicaraanmu dg abimu dan sepertinya kalian menyinggung nama Muhammad? Apa Muhammad yg kau bicarakan itu adalah Muhammad Muhsin putra Ustadz Muhsin Abdul jalil?"

Sepertinya aku tak harus menyembunyikan kisah tentang Muhammad lagi pada ammah dan abah.Rasanya sudah lelah terus hidup dalam sebuah rahasia,kuharap ini akan membawa kebaikan bagi hidupku.

"Betul,ammah.Muhammad yg kumaksud adalah Muhammad Muhsin,saudara kembar Maryam Muhsin dan putra dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil."

"Kau mengenalnya?"

Abi pun menjawab pertanyaan ammah,abi menceritakan semuanya pada ammah dan abah tanpa terkecuali,termasuk kejadian yg baru saja kualami tadi dan kini akhirnya kedua orang tua Azhar mengetahui bahwa aku mencintai Muhammad Muhsin.

"Benarkah yg abimu ceritakan itu,Nida?"

Sepertinya ammah dan abah ingin meyakinkan dirinya tentang kebenaran semua yg dikatakan bi tentang perasaanku pada Muhammad.

"Itu memang benar,ammah,abah tapi sekarang aku mulai belajar untuk tak berharap terlalu banyak.Cukuplah pilihan Allah saja yg kuharapkan,entah siapa pun yg Allah ditakdirkan untukku,insya Allah aku akan belajar untuk rela dan ikhlas."

"Sungguh,kau wanita yg shalihah,Nida.Ammah dan abah yakin hanya laki2 shalih yg akan mendampingimu didunia dan akhirat."

"Mohon doanya,ammah,abah."

Ammah pun memeluk diriku dg hangat.

BERSAMBUNG... (Bag 35 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar