Account

gelembung

cursor

Senin, 07 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 33 of 36)

[♥] BENARKAH DIA ADALAH...? [♥] (Bag 33)

Menjelang Magrib,aku dan abi keluar dari kamar,bercengkerama dg keluarga Azhar.Sungguh hangat sekali rasanya persaudaraan ini.Saat Adzan magrib dikumandangkan,ibunda Azhar mengajakku ke masjid untuk shalat berjamaah bersama para santri lain.Kediaman orang tua Azhar memang tak terlalu jauh dari masjid jadi
kami tak harus berjalan terlalu jauh.Ammah membuka pembicaraan,beliau bertanya tentang banyak hal bahkan beliau juga bertanya tentang perasaanku.

"Nida...,kau sudah ammah anggap sebagai putri ammah sendiri.Semenjak Azhar meninggal,ammah memang kesepian,sepertinya dunia ini runtuh,ammah hampir putus asa tapi abah Azhar selalu memberikan motivasi hidup kepada ammah.Abah Azhar selalu meyakinkan ammah bahwasanya ada kabar baik dari Allah yg disampaikan melalui firman Nya dalam al quran bahwasanya Allah akan menguji hamba Nya dg berbagai macam ujian hanya kesabaranlah yg harus digunakan untuk menghadapi ujian seberat apa pun.Selain itu ammah juga selalu mengingatmu Nida,walaupun kau tak berjodoh dg Azhar tapi ammah tetap yakin bahwa kau pasti akan tetap menjadi kerabat dekat ammah,entah mengapa ammah selalu berpikiran seperti itu..."

Rabbi...,apakah ini adalah salah satu tanda yg Engkau berikan,apakah benar hamba akan menikah dg Muhammad Muhsin dan itu juga artinya hamba benar2 akan menjadi kerabat dekat dari ammah Azhar.Wallahu'alam,hanya Engkau yg mengetahui.Hampir saja aku melamun hingga tak mendengar kata2 yg diucapkan ammah.

"Nak...,boleh ammah bertanya kepadamu?"

"Ada apa,ammah? Apa yg ingin ammah tanyakan kepadaku?"

"Sebelumnya,ammah minta maaf jika ammah terlalu mencampuri urusan pribadimu tapi sungguh ammah tak memiliki maksud lain.Ammah hanya ingin menganggapmu sebagai putri ammah dan ammah ingin mengetahui serta membantu kesulitanmu.Nak...,apakah telah ada seorang pria yg mengisi hatimu saat ini?"

"Maksud,ammah?"

"Ya...,apakah saat ini sudah ada pria yg kau cintai?"


Astaghfirullah... Baru saja hatiku sedikit lebih tenang setelah beristirahat sejenak di kediaman ammah Azhar tadi tapi mengapa ammah kembali mengingatkanku akan perasaan cintaku pada Muhammad.Ya Rabbi,kini aku tengah berada dalam satu tempat dg dirinya tapi ditengah ketidak tahuanku ini aku tak menyadari pertemuanku dg Muhammad Muhsin.Dan tiba2...,saat aku mengarahkan pandanganku kearah serambh masjid,masya Allah,siapakah gerangan pria tersebut? Wajahnya begitu menyejukan.Dan...,bukankah itu abi? Siapakah pria itu? Mengapa abi bisa berbincang-bincang dg dirinya? Mungkinkah itu... Ah,terlalu cepat jika kuambil kesimpulan saat ini.Astaghfirullah... Aku lupa,aku belum menjawab pertanyaan ammah.

"Ammah,maafkan aku terlalu lama membuat ammah menunggu jawabanju.Sebenarnya memang telah ada seorang pria yg mengisi hatiku tapi keadaannya tak semudah yg kupikirkan,semoga Allah memberiku jalan."

"Apa kesulitanmu,Nak? Boleh ammah membantumu?"

"Tentu saja boleh ammah,bahkan aku sangat bahagia jika ammah mau membantu urusanku tapi untuk saat ini aku masih bisa mengatasinya sendiri,jika nanti kutemukan permasalahan serius yg tak bisa kuselesaikan seorang diri,aku pasti akan meminta bantuan ammah."

"Baiklah Nak,insya Allah ammah siap membantumu kapan pun.Jangan ragu untuk bicara pada ammah jika kau berada dalam kesulitan."

"Tentu saja ammah,terima kasih."

Akhirnya aku dan ammah tiba dimasjid.Kami segera menempati shaf terdepan dalam jamaah itu.Subhanallah,santrinya banyak sekali,santri putri shalat dilantai 2 dari masjid sedangkan santri putra shalat dilantai pertama,hijab memang benar2 terjaga disini.Segera kutunaikan shalat Tahiyyatul masjid 2 rakaat,kuucapkan dzikir untuk menenangkan hatiku tiba2 aku teringat Maryam Muhsin sahabatku.Mungkinkah dia juga ada didalam masjid ini? Ingin rasanya aku bertanya pada ammah tapi aku tak ingin jika ammah mengetahui tentang perasaanku kepada Muhammad Muhsin.

Tak berapa lama kemudian,iqamah dikumandangkan,shalat Magrib pun ditunaikan dg khusyuk hingga salam.

Seusai shalat kulanjutkan dg berdzikir yg dipimpin oleh imam shalat yg suaranya sungguh merdu sekali.Subhanallah,indah sekali suaranya terlebih lagi saat shalat Magrib tadi,surat ar Rahman dibacanya dg begitu tartil.Hingga bergetar hatiku mendengarnya.Subhanallah.

Setelah dzikir dilanjutkan dg shalat sunah 2 rakaat lalu ceramah.Seorang Ustadz berjubah putih berdiri di mimbar,wajahnya menyejukkan.Salam pembuka diucapkannya,kalimat demi kalimat pun mengalir,ayat2 yg disampaikan juga pas dg pokok bahasan.Apakah Ustadz ini yg menjadi imam shalat Magrib tadi? Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan hal ini kepada ammah.

"Ammah,siapa sebenarnya Ustadz yg tengah berceramah dimimbar tersebut?"

"Kau belum mengetahui siapa beliau?"

"Belum,siapa beliau,ammah? Ceramahnya sungguh bagus penyampainnya pun menarik."

"Beliau adalah pengasuh pesantren ini dan beliau adalah kakak kandung dari abah Azhar,secara otomatis beliau adalah kakak iparku."

"Subhanallah,jadi beliau adalah Ustadz Muhsin Abdul Jalil?"

"Betul Nida,beliau adalah Ustadz Muhsin Abdul Jalil,sepertinya kau terkejut,ada apa?"

"Tidak ada apa2,ammah.Lalu,apakah beliau yg menjadi imam saat shalat Magrib tadi?"

"Bukan,setiap ba'da Magrib,Ustadz Muhsin selalu memberi taushiyah hingga shalat Isya dan menjadi imam shalat Isya tapi jika shalat Magrib putranyalah yg menjadi imam shalat."

"Putranyag?"

"Ya,betul.Putra dari Ustadz Muhsin yg menjadi imam shalat Magrib tadi,ada apa sebenarnya,Nida? Mengapa tiba2 wajahmu pucat sekali?"

"Siapa nama putranya,ammah?"

"Muhammad."

"Muhammad? Nama lengkapnya ammah,siapa nama lengkapnya?"

"Muhammad,Muhammad Muhsin tepatnya."

Rabbi... Itu adalah suara Muhammad Muhsin,kini hamba benar2 berada dalam satu majelis dg nya bahkan kini hamba telah mendengar bacaan Qur'annya dan... Surat ar Rahman lah yg dibaca,seperti mahar yg kuharapkan.Ya Allah...,tiba2 kepalaku sakit sekali,dan...

***

Ya Allah...,rasa sakit pada kepalaku ini kembali hadir,kurasakan mataku sungguh berat sulit sekali rasanya untuk membuka kelopak mata.


Ya Allah,mungkinkah standium kankerku kini makin meningkat,hamba takut ya Rabb.Akhirnya...,aku berhasil membuka kelopak mataku.

"Dimana aku?"

"Tenanglah,Nida."

Sebuah tangan yg hangat menggenggam jemariku erat sekali dan sepertinya aku mengenali suara ini.

"Nida,kau ingat aku?"

"Maryam,kaukah itu?"

"Betul Nida,aku Maryam.Alhamdulillah,Allah mempertemukan kita kembali."

"Alhamdulillah,bagaimana kabarmu Maryam? Aku merindukanmu." suaraku mulai terbata-bata lantaran menahan sakitnya kepalaku ini.

"Alhamdulillah,kabarku baik Nida.Sudahlah,kau tak perlu banyak berbicara dulu,kau harus istirahat setelah kau sehat aku berjanji padamu kita akan banyak berbincang-bincang."

"Baiklah,dimana abiku?"

Dengan segera,abi menghampiriku dan kulihat matanya kembali berkaca-kaca.

"Abi...''

"Abi disini,Nida."

"Abi menangis ya? Maafkan aku,aku selalu membuat abi sedih."

"Tidak,Nak.Abi tidak menangis dan satu lagi yg harus abi sampaikan kau tak pernah membuat abi menangis."

Kujawab tutur kata abi dg senyuman,berusaha sekuat mungkin tuk memberikan senyuman terbaikku.Aku takut jika ini adalah senyuman terakhirku yg kuberikan untuk abi.

"Sudahlah Nak...,kau harus minum obat dan beristirahatlah dahulu.Abi akan menemanimu."

"Baiklah abi...,terima kasih banyak.Sampaikan permohonan maafku pada ammah dan abah,maaf jika kedatanganku kemari telah merepotkan ammah dan abah."

Tiba2 ammah dan abah datang,keduanya berusaha menghiburku walaupun senyum sudah terukir diwajah keduanya tapi aku tetap merasakan bahwa ammah dan abah juga merasakan kesedihan atas kondisiku saat ini.

"Sudahlah,Nida sayang kau tak pernah meropatkan ammah dan abah.Abimu benar kau harus minum obat dan beristirahat,berdoalah agar hari esok jauh lebih baik,Nak.Ammah dan abah menyayangimu."

"Terima kasih,ammah,abah."

***

Keesokan harinya...

Kondisiku memang belum begitu pulih tapi aku bahagia karena aku sudah bisa beranjak dari tempat tidur walaupun wajahku masih pucat pasi.

Aku keluar kamar,kuhirup udara pagi yg sungguh menyejukan,kuambil air wudhu dan kudirikan shalat Tahajjud beberapa rakaat dan kupanjatkan doa pada Rabb ku dalam sujud panjangku.

Rabbi...,hanya Engkau yg dapat memberikan ujian dan hanya dg bantuan Engkau pulalah setiap cobaan itu dapat diatasi.Hamba tahu sakit ini adalah cobaan dari Mu maka hamba mohon kesembuhan yg sempurna akan rasa sakit ini,ya Rabb.Aamiin.

Sayup2 aku mendengar adzan subuh tengah berkumandang.Rupanya,ammah,abah dan abi pun telah bersiap-siap untuk pergi ke masjid.Ammah pun menghampiriku.

"Nida...,kau sudah merasa lebih baik?"

"Alhamdulillah ammah,setidaknya keadaanku jauh lebih baik dari kemarin.Ammah,sebenarnya apa yg terjadi padaku kemarin?"

"Kau pingsan dimasjid,Nak.Akhirnya kau dibantu oleh beberapa santri untuk dibawa kemari."

"Astaghfirullah,maaf ammah,pasti aku merepotkan ammah."

"Tidak Nida,tidak sama sekali.Sudahlah,lupakanlah masalah itu.Kau yakin hendak shalat subuh dimasjid? Udara diluar begitu dingin,bagaimana jika kau shalat dirumah,ammah takut kondisimu kembali memburuk jika kau harus terkena udara dingin nanti biar ammah yg menemanimu dirumah."

'Ammah pergi saja kemasjid saja,insya Allah aku tak apa2 sendiri dirumah"

"Kau yakin?"

"Baiklah...,tapi sebelumnya,ammah telah membuatkan teh hangat untukmu.Ammah telah meletakkannya dikamarmu,kau harus meminumnya."

"Baiklah ammah,aku akan meminumnya."

Kutunaikan shalat subuh dirumah ammah,kubuka kalam Ilahi sungguh indah sekali ayatnya.Kali ini aku membacanya diatas bumi Madinah,bumi yg penuh dg keberkahan dan aku merasakan keberuntungan yg amat besar karena cintaku kutemukan diatas bumi yg suai di Madinah Al Munawwarah.Subhanallah.

BERSAMBUNG... (Bag 34 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar