[♥] BENARKAH DIA ADALAH...? [♥] (Bag 33)
Menjelang Magrib,aku dan abi keluar dari kamar,bercengkerama dg
keluarga Azhar.Sungguh hangat sekali rasanya persaudaraan ini.Saat Adzan
magrib dikumandangkan,ibunda Azhar mengajakku ke masjid untuk shalat
berjamaah bersama para santri lain.Kediaman orang tua Azhar memang tak
terlalu jauh dari masjid jadi
kami tak harus berjalan terlalu jauh.Ammah membuka
pembicaraan,beliau bertanya tentang banyak hal bahkan beliau juga
bertanya tentang perasaanku.
"Nida...,kau sudah ammah anggap sebagai putri ammah sendiri.Semenjak
Azhar meninggal,ammah memang kesepian,sepertinya dunia ini runtuh,ammah
hampir putus asa tapi abah Azhar selalu memberikan motivasi hidup
kepada ammah.Abah Azhar selalu meyakinkan ammah bahwasanya ada kabar
baik dari Allah yg disampaikan melalui firman Nya dalam al quran
bahwasanya Allah akan menguji hamba Nya dg berbagai macam ujian hanya
kesabaranlah yg harus digunakan untuk menghadapi ujian seberat apa
pun.Selain itu ammah juga selalu mengingatmu Nida,walaupun kau tak
berjodoh dg Azhar tapi ammah tetap yakin bahwa kau pasti akan tetap
menjadi kerabat dekat ammah,entah mengapa ammah selalu berpikiran
seperti itu..."
Rabbi...,apakah ini adalah salah satu tanda yg Engkau berikan,apakah
benar hamba akan menikah dg Muhammad Muhsin dan itu juga artinya hamba
benar2 akan menjadi kerabat dekat dari ammah Azhar.Wallahu'alam,hanya
Engkau yg mengetahui.Hampir saja aku melamun hingga tak mendengar kata2
yg diucapkan ammah.
"Nak...,boleh ammah bertanya kepadamu?"
"Ada apa,ammah? Apa yg ingin ammah tanyakan kepadaku?"
"Sebelumnya,ammah minta maaf jika ammah terlalu mencampuri urusan
pribadimu tapi sungguh ammah tak memiliki maksud lain.Ammah hanya ingin
menganggapmu sebagai putri ammah dan ammah ingin mengetahui serta
membantu kesulitanmu.Nak...,apakah telah ada seorang pria yg mengisi
hatimu saat ini?"
"Maksud,ammah?"
"Ya...,apakah saat ini sudah ada pria yg kau cintai?"
Astaghfirullah... Baru saja hatiku sedikit lebih tenang setelah
beristirahat sejenak di kediaman ammah Azhar tadi tapi mengapa ammah
kembali mengingatkanku akan perasaan cintaku pada Muhammad.Ya Rabbi,kini
aku tengah berada dalam satu tempat dg dirinya tapi ditengah ketidak
tahuanku ini aku tak menyadari pertemuanku dg Muhammad Muhsin.Dan
tiba2...,saat aku mengarahkan pandanganku kearah serambh masjid,masya
Allah,siapakah gerangan pria tersebut? Wajahnya begitu
menyejukan.Dan...,bukankah itu abi? Siapakah pria itu? Mengapa abi bisa
berbincang-bincang dg dirinya? Mungkinkah itu... Ah,terlalu cepat jika
kuambil kesimpulan saat ini.Astaghfirullah... Aku lupa,aku belum
menjawab pertanyaan ammah.
"Ammah,maafkan aku terlalu lama membuat ammah menunggu
jawabanju.Sebenarnya memang telah ada seorang pria yg mengisi hatiku
tapi keadaannya tak semudah yg kupikirkan,semoga Allah memberiku jalan."
"Apa kesulitanmu,Nak? Boleh ammah membantumu?"
"Tentu saja boleh ammah,bahkan aku sangat bahagia jika ammah mau
membantu urusanku tapi untuk saat ini aku masih bisa mengatasinya
sendiri,jika nanti kutemukan permasalahan serius yg tak bisa
kuselesaikan seorang diri,aku pasti akan meminta bantuan ammah."
"Baiklah Nak,insya Allah ammah siap membantumu kapan pun.Jangan ragu untuk bicara pada ammah jika kau berada dalam kesulitan."
"Tentu saja ammah,terima kasih."
Akhirnya aku dan ammah tiba dimasjid.Kami segera menempati shaf
terdepan dalam jamaah itu.Subhanallah,santrinya banyak sekali,santri
putri shalat dilantai 2 dari masjid sedangkan santri putra shalat
dilantai pertama,hijab memang benar2 terjaga disini.Segera kutunaikan
shalat Tahiyyatul masjid 2 rakaat,kuucapkan dzikir untuk menenangkan
hatiku tiba2 aku teringat Maryam Muhsin sahabatku.Mungkinkah dia juga
ada didalam masjid ini? Ingin rasanya aku bertanya pada ammah tapi aku
tak ingin jika ammah mengetahui tentang perasaanku kepada Muhammad
Muhsin.
Tak berapa lama kemudian,iqamah dikumandangkan,shalat Magrib pun ditunaikan dg khusyuk hingga salam.
Seusai shalat kulanjutkan dg berdzikir yg dipimpin oleh imam shalat
yg suaranya sungguh merdu sekali.Subhanallah,indah sekali suaranya
terlebih lagi saat shalat Magrib tadi,surat ar Rahman dibacanya dg
begitu tartil.Hingga bergetar hatiku mendengarnya.Subhanallah.
Setelah dzikir dilanjutkan dg shalat sunah 2 rakaat lalu
ceramah.Seorang Ustadz berjubah putih berdiri di mimbar,wajahnya
menyejukkan.Salam pembuka diucapkannya,kalimat demi kalimat pun
mengalir,ayat2 yg disampaikan juga pas dg pokok bahasan.Apakah Ustadz
ini yg menjadi imam shalat Magrib tadi? Akhirnya aku memberanikan diri
untuk menanyakan hal ini kepada ammah.
"Ammah,siapa sebenarnya Ustadz yg tengah berceramah dimimbar tersebut?"
"Kau belum mengetahui siapa beliau?"
"Belum,siapa beliau,ammah? Ceramahnya sungguh bagus penyampainnya pun menarik."
"Beliau adalah pengasuh pesantren ini dan beliau adalah kakak kandung
dari abah Azhar,secara otomatis beliau adalah kakak iparku."
"Subhanallah,jadi beliau adalah Ustadz Muhsin Abdul Jalil?"
"Betul Nida,beliau adalah Ustadz Muhsin Abdul Jalil,sepertinya kau terkejut,ada apa?"
"Tidak ada apa2,ammah.Lalu,apakah beliau yg menjadi imam saat shalat Magrib tadi?"
"Bukan,setiap ba'da Magrib,Ustadz Muhsin selalu memberi taushiyah
hingga shalat Isya dan menjadi imam shalat Isya tapi jika shalat Magrib
putranyalah yg menjadi imam shalat."
"Putranyag?"
"Ya,betul.Putra dari Ustadz Muhsin yg menjadi imam shalat Magrib
tadi,ada apa sebenarnya,Nida? Mengapa tiba2 wajahmu pucat sekali?"
"Siapa nama putranya,ammah?"
"Muhammad."
"Muhammad? Nama lengkapnya ammah,siapa nama lengkapnya?"
"Muhammad,Muhammad Muhsin tepatnya."
Rabbi... Itu adalah suara Muhammad Muhsin,kini hamba benar2 berada
dalam satu majelis dg nya bahkan kini hamba telah mendengar bacaan
Qur'annya dan... Surat ar Rahman lah yg dibaca,seperti mahar yg
kuharapkan.Ya Allah...,tiba2 kepalaku sakit sekali,dan...
***
Ya Allah...,rasa sakit pada kepalaku ini kembali hadir,kurasakan
mataku sungguh berat sulit sekali rasanya untuk membuka kelopak mata.
Ya Allah,mungkinkah standium kankerku kini makin meningkat,hamba takut ya Rabb.Akhirnya...,aku berhasil membuka kelopak mataku.
"Dimana aku?"
"Tenanglah,Nida."
Sebuah tangan yg hangat menggenggam jemariku erat sekali dan sepertinya aku mengenali suara ini.
"Nida,kau ingat aku?"
"Maryam,kaukah itu?"
"Betul Nida,aku Maryam.Alhamdulillah,Allah mempertemukan kita kembali."
"Alhamdulillah,bagaimana kabarmu Maryam? Aku merindukanmu." suaraku mulai terbata-bata lantaran menahan sakitnya kepalaku ini.
"Alhamdulillah,kabarku baik Nida.Sudahlah,kau tak perlu banyak
berbicara dulu,kau harus istirahat setelah kau sehat aku berjanji padamu
kita akan banyak berbincang-bincang."
"Baiklah,dimana abiku?"
Dengan segera,abi menghampiriku dan kulihat matanya kembali berkaca-kaca.
"Abi...''
"Abi disini,Nida."
"Abi menangis ya? Maafkan aku,aku selalu membuat abi sedih."
"Tidak,Nak.Abi tidak menangis dan satu lagi yg harus abi sampaikan kau tak pernah membuat abi menangis."
Kujawab tutur kata abi dg senyuman,berusaha sekuat mungkin tuk
memberikan senyuman terbaikku.Aku takut jika ini adalah senyuman
terakhirku yg kuberikan untuk abi.
"Sudahlah Nak...,kau harus minum obat dan beristirahatlah dahulu.Abi akan menemanimu."
"Baiklah abi...,terima kasih banyak.Sampaikan permohonan maafku pada
ammah dan abah,maaf jika kedatanganku kemari telah merepotkan ammah dan
abah."
Tiba2 ammah dan abah datang,keduanya berusaha menghiburku walaupun
senyum sudah terukir diwajah keduanya tapi aku tetap merasakan bahwa
ammah dan abah juga merasakan kesedihan atas kondisiku saat ini.
"Sudahlah,Nida sayang kau tak pernah meropatkan ammah dan abah.Abimu
benar kau harus minum obat dan beristirahat,berdoalah agar hari esok
jauh lebih baik,Nak.Ammah dan abah menyayangimu."
"Terima kasih,ammah,abah."
***
Keesokan harinya...
Kondisiku memang belum begitu pulih tapi aku bahagia karena aku sudah
bisa beranjak dari tempat tidur walaupun wajahku masih pucat pasi.
Aku keluar kamar,kuhirup udara pagi yg sungguh menyejukan,kuambil air
wudhu dan kudirikan shalat Tahajjud beberapa rakaat dan kupanjatkan
doa pada Rabb ku dalam sujud panjangku.
Rabbi...,hanya Engkau yg dapat memberikan ujian dan hanya dg bantuan
Engkau pulalah setiap cobaan itu dapat diatasi.Hamba tahu sakit ini
adalah cobaan dari Mu maka hamba mohon kesembuhan yg sempurna akan rasa
sakit ini,ya Rabb.Aamiin.
Sayup2 aku mendengar adzan subuh tengah
berkumandang.Rupanya,ammah,abah dan abi pun telah bersiap-siap untuk
pergi ke masjid.Ammah pun menghampiriku.
"Nida...,kau sudah merasa lebih baik?"
"Alhamdulillah ammah,setidaknya keadaanku jauh lebih baik dari kemarin.Ammah,sebenarnya apa yg terjadi padaku kemarin?"
"Kau pingsan dimasjid,Nak.Akhirnya kau dibantu oleh beberapa santri untuk dibawa kemari."
"Astaghfirullah,maaf ammah,pasti aku merepotkan ammah."
"Tidak Nida,tidak sama sekali.Sudahlah,lupakanlah masalah itu.Kau
yakin hendak shalat subuh dimasjid? Udara diluar begitu
dingin,bagaimana jika kau shalat dirumah,ammah takut kondisimu kembali
memburuk jika kau harus terkena udara dingin nanti biar ammah yg
menemanimu dirumah."
'Ammah pergi saja kemasjid saja,insya Allah aku tak apa2 sendiri dirumah"
"Kau yakin?"
"Baiklah...,tapi sebelumnya,ammah telah membuatkan teh hangat
untukmu.Ammah telah meletakkannya dikamarmu,kau harus meminumnya."
"Baiklah ammah,aku akan meminumnya."
Kutunaikan shalat subuh dirumah ammah,kubuka kalam Ilahi sungguh
indah sekali ayatnya.Kali ini aku membacanya diatas bumi Madinah,bumi
yg penuh dg keberkahan dan aku merasakan keberuntungan yg amat besar
karena cintaku kutemukan diatas bumi yg suai di Madinah Al
Munawwarah.Subhanallah.
BERSAMBUNG... (Bag 34 of 36)
Senin, 07 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar