[♥] JIWA INI TAK MENENTU [♥] (Bag 32)
Saat perjalanan kembali ke Makkah....
"Astaghfirullah Nak...,abi hampir saja lupa...."
"Kenapa,abi? Hal apa yg telah abi lupakan? Mengapa sampai khawatir seperti itu?"
"Abi lupa...,kita telah berjanji pada ayah dan ibunda Azhar bahwa
setelah selesai ibadah umrah kita akan berkunjung ke pesantren milik
keluarga Azhar.Abi benar2 lupa."
"Astaghfirullahal'adzim,aku juga lupa,abi.Bagaimana jika sekarang
kita langsung kesana? Abi membawa kartu nama yg telah diberikan ayah
Azhar bukan?"
"Na'am,Nak.Abi membawanya"
"Boleh aku melihat kartu nama itu,abi?"
"Tentu saja boleh..."
Abi membuka dompetnya dan mengambil secarik kartu nama lalu
memberikannya kepadaku "Ini kartu nama yg diberikan oleh ayah Azhar saat
bertemu dibandara saat itu,Nak."
Kuterima kartu nama itu dan...
"Pesantren Al Firdaus?"
"Ada apa,Nak? Sepertinya,kau begitu kaget melihat kartu nama tersebut?"
Rabbi...,ini adalah pesantren milik abi Muhammad Muhsin.Ya...,tak
salah lagi.Pesantren Al Firdaus adalah pesantren dibawah asuhan Ustadz
Muhsin Abdul Jalin dan itu artinya... Ya Allah,mungkinkah aku bertemu
dg Muhammad Muhsin disana? Apakah ini bagian dari skenario yg telah
Engkau tetapkan dalam hidupku? Hatiku bergetar,jantungku berdegup
kencang,aku tak tahu apa yg harus kulakukan.Tiba2 aku merasa
takut,mungkinkah aku bertemu dg seseorang yg pernah singgah dalam
hatiku dan mungkinkah kini bayangan Muhammad Muhsin bisa benar2 nyata
didalam kehidupanku? Air mataku tumpah,aku bingung apa yg harus aku
lakukan? Khawatir,takut,bahagia,ah...,tak bisa lagi kuungkapkan lagi
kondisi hatiku saat ini... Tapi aneh,sungguh aneh mengapa pesantren
milik keluarga Azhar memiliki nama yg sama dg nama pesantren milik
keluarga Muhammad Muhsin,adakah hubungan antara keduanya?
"Nida...,kau dengar abi?"
Tapi,entah mengapa aku tetap yakin bahwa pesantren Al Firdaus yg
dimaksud oleh keluarga Azhar sama dg pesantren milik Ustadz Muhsin
Abdul Jalil.Dan...,sepertinya aku pun tak mendengar apa yg abi
ungkapkan.Aku tak percaya bahwa kini posisiku makin dekat untuk bertemu
dg Muhammad Muhsin.Entah apa yg terjadi padaku saat ini,semua perasaan
aneh berbaur menjadi satu.
"Nida...,Nida..."
Akhirnya,aku pun bisa mendengar suara abi lagi.
"Na'am,Abi..."
"Apa yg terjadi dg mu? Mengapa kau tiba2 menangis dan termenung
sekian lama setelah melihat kartu nama tersebut.Tolong Nak...,ceritakan
semuanya pada Abi,Abi khawatir akan kondisimu."
"Baiklah,abi... Aku akan menceritakan semuanya pada Abi tapi aku
ingin bertanya satu hal pada Abi.Apakah benar yg tertulis dikartu nama
ini adalah tempat yg kita tuju saat ini?"
"Ya... Benar sekali,lalu apa permasalahannya,Nida?"
"Abi,apakah pesantren Al Firdaus adalah pesantren yg berada dibawah asuhan Ustadz Muhsin abdul jalil?"
"Ya,benar sekali yg kau katakan.Pesantren yg memiliki ribuan santri itu berada dibawah asuhan Ustadz Muhsin abdul jalil."
Aku masih belum mengerti semua ini.
"Lalu,apa hubungan Ustadz Muhsin abdul jalil dg keluarga Azhar?"
"Saat pertemuan dibandara saat lalu,Ayah Azhar menceritakan sedikit
tentang keluarganya,jadi ternyata Ustadz Muhsin abdul jalil adalah kakak
kandung dari ayah Azhar."
"Apa? Benarkah yg abi katakan itu?"
"Ya benar,Nak,untuk apa abi berbohong?"
Ya Rabbi,ternyata Azhar dan Muhammad Muhsin adalah kerabat dekat
jelas saja saat aku menyebutkan bahwa yg kucintai adalah Muhammad
Muhsin dia langsung mengenalinya.Subhanallah,tangisku semakin pecah
aku pun tak kuasa lagi menyimpan semua rahasia ini mungkin ini saatnya
sebuah tabir rahasia yg telah aku simpan untuk sekian lamanya dapat
tersingkap.Hamba mohon,jadikanlah ini adalah kesempatan yg terbaik
untuk hamba dalam menceritakan perasaan hamba yg sebenarnya.
Akhirnya... Bismillah...,aku pun menceritakan semua perasaanku pada
abi,perasaan cintaku kepada Muhammad Muhsin yg ternyata adalah saudara
dekat dari keluarga Azhar,seseorang yg pernah meminangku dulu.Aku pun
menceritakan pula bagaimana perjuangan untuk menjaga rasa cinta ini
karena aku ingin menjadi wanita seperti Fatimah putri Rasulullah
Muhammad yg menjaga cintanya untuk Ali bin Abi thalib.Beliau tak pernah
menuturkan perasaannya itu kepada siapa pun,sekuat hati ia berjihad
menjaga perasaannya itu.Jika saja Fatimah mau bisa saja Fatimah
menceritakan perasaannya itu pada Ayahnya Rasulullah tapi dg keteguhan
hatinya Fatimah menyimpan rasa itu karena tak ingin hatinya terkotori
apabila Fatimah terlalu sering mengucap nama Ali.
Hanya Allah dan hatinya saja yg mengetahui rasa itu bahkan setan pun
tak mengetahui bahwa Fatimah sangat mencintai Ali.Dan ternyata dibalik
semua itu,Ali pun merasakan demikian bahwa hanya Fatimahlah yg mampu
mengisi hatinya tapi dg kerendahan hatinya Ali bin Abi thalib merasa
tak pantas mendampingi wanita ahli surga seperti Fatimah hingga
akhirnya terungkaplah rasa saling cinta itu selepas Ijab qabul.Sungguh
jika seandainya mereka tak berjodoh mungkin ini hanya akan menjadi
rahasia masing2 dari mereka dg Allah saja.Begitulah beberapa buku
menuliskan mengenai kekuatan cinta Ali dan Fatimah,itulah
semangatku,semangat untuk menjaga rasa ini,semangat untuk menahan diri
dan semangat untuk menahan hawa nafsu untuk meredam dalam2 rasa cinta
ini sebelum ijab Qabul antara aku dan jodohku terucap.Itulah yg membuat
aku memendam semua rasa cinta ini dan kali ini karena aku pun memiliki
penyakit yg sungguh sangat mengancam nyawa,aku hanya ingin abi
mengetahui isi hatiku,aku takut tak sempat memberinya
kebahagiaan.Dengan menceritakan semua perasaanku ini pada abi aku ingin
abi bahagia karena putrinya mencintai orang yg benar,mencintai
seseorang karena Allah,mencintai seseorang karena agamanya,mengagumi
seseorang karena Allah.Setelah semua perasaanku ini kuungkapkan kepada
abi hati ini sungguh lega sekali rasanya,tak ada lagi hal yg mengganjal
hatiku semoga ini adalah keputusan yg terbaik ya Rabb,dan semoga dg
aku bercerita ini semua kepada abi,tabir rahasia tentang jodohku dapat
segera terungkap.Aamiin,ya Rabb.
Seusai kuceritakan semua perasaanku itu,abi mulai membuka percakapan kembali dan kulihat ada senyum diwajah abi.
"Nak...,abi bahagia dan bangga memiliki putri sepertimu,kau wanita
shalihah,Nak.Kau pastas dapatkan pendamping hidup yg shalih pula.Abi
meridhaimu,Nak."
Sungguh bahagia sekali kudengar penuturan abi.Dengan ridha dari orang tua aku bisa mendapatkan ridha dari Allah.
"Syukron,abi... Abi bisa memahami kondisiku."
Abi hanya membalas rasa terima kasihku itu dg senyuman yg sangat indah.
"Nak...,boleh abi bertanya padamu?"
"Tentu saja boleh,apa yg ingin abi tanyakan kepadaku?"
"Kau pernah bertemu dg Muhammad Muhsin?"
"Belum abi,satu lali pun aku tak pernah bertemu dg Muhammad Muhsin."
Akhirnya aku ceritakan kembali kepada abi bahwa rasa cintaku pada
Muhammad Muhsin berawal dari kekaguman terhadapnya dg semua cerita
tentangnya dari saudara kembarnya Maryam Muhsin.Dia sahabatku tapi
semenjak aku melanjutkan studi di Kairo kami sudah tak pernah
berkomunikasi kembali jadi saat ini yg aku tahu adalah bayangannya
cerita mengenai kebaikan dirinya dan aku belum memgetahui sosoknya yg
sebenarnya.
"Ya...,itu cukup membuktikan bahwa yg kau cintai bukan parasnya tapi
yg kau cintai adalah kebaikannya,keimanannya dan
keshalihannya.Kebanggaan Abi semakin bertambah padamu Nak,sekarang abi
mengerti apa yg harus abi lakukan."
"Apa itu,Abi? Boleh aku mengetahuinya?"
"Tentu saja,kita harus secepatnya pergi ke Pesantren Al Firdaus dan
secepatnya pula bertemu dg putra Ustadz Muhsin yg kau cintai itu dan abi
akan melamar Muhammad Muhsin untuk menjadi imam hidup bagi putri abi
yg sangat abi cintai.
Sempat kaget saat kudengar penuturan abi tadi.Apa? Abi akan melamar
Muhammad Muhsin untuk diriku? Ya Rabbi...,bunga2 surga seakan
ditaburkan dalam hatiku.Air mata ini kembali menetes tapi kali ini
berbeda tetesan air mata ini hadir dalam kondisi yg berbeda tak seperti
biasanya ini adalah air mata kebahagiaan.Sungguh aku sangat bahagia,ya
Allah...
"Terima kasih,abi."
kupeluk abiku erat2,suasana haru biru mulai terasa,langit Madinah yg cerah menjadi saksi kebahagiaanku saat ini.
Akhirnya aku dan abi memutuskan untuk pergi ke Pesantren Al
Firdaus,pesantren milik keluarga Azhar dan tentunya juga milik keluarga
Muhammad Muhsin.Kami pergi dg menggunakan taksi karena Pesantren Al
Firdaus adalah pesantren yg sangat terkenal maka tak sulit bagi kami
untuk menemukan pesantren tersebut.Semakin dekat posisiku dg pesantren
ini semakin dekat posisiku dg Muhammad Muhsin rasanya hati ini makin tak
tenang.
Aku tak sabar untuk segera tiba dipesantren itu dan semua mimpiku dapat terwujud dalam nyata.
"Nak? Kau gugup?"
Sebenarnya aku malu menjawab pertanyaan abi dan aku hanya bisa menjawab dg senyuman.
"Tak perlu gugup,serahkan semua pada Nya,mintalah yg terbaik atas keputusan Nya."
"Baiklah,Abi."
Namun...,walaupun abi telah memberikan nasihat kepadaku,aku masih
belum bisa mengendalikan hatiku,aku masih saja gugup tak
tenang,resah,bahagia tak bisa lagi kuatur napasku.Aku akan bertemu dg
seseorang yg selama bertahun-tahun hanya menjadi bayangan dalam hatiku
dan hampir aku tak percaya bahwan Ustadz Muhsin abdul jalil adalah
kakak kandung dari Ustadz Alfash Muharromi itu artinya Muhammad dan
Azhar adalah saudara dekat.Ya Rabbi,jika bukan karena Engkau yg
mengatur semua ini maka mustahil hal ini bisa terjadi.Akhirnya dg waktu
kurang dari satu jam kami telah tiba di Ma'had
tersebut.Subhanallah,dalam hatiku berdecak sungguh indahnya pesantren
ini,santrinya banyak pemandangannya pun sungguh indah,taman2 bunga
disetiap sudut ma'had,banyaknya santri yg tengah berdiskusi,belajar
bahkan menghafalkan Al Quran al karim dibawah rindangnya pohon.Ternyata
pesantren ini pun membudidayakan jenis perkebunan sehhngga bunga2
tetap bisa tumbuh ditengah panasnya Madinah.Rabbi...,tak heran jika
setiap santri yg menuntut ilmu di sini memiliki kelebihan dibandingkan
tempat lainya,peraturannya sungguh ketat tapi tak sedikit pun tampak
adanya kesedihan dan perasaan terkekang dalam diri santri2 nya.
Entah mengapa,yg aku lihat hanyalah keteduhan,kesopanan,serta
kebaikan dari setiap santrinya dan kini hatiku menjadi semakin sulit
untuk ditata.Bayangkan,dahulu aku hanya bermimpi bisa tiba dipesantren
tempat Muhammad Muhsin tinggal dan dibesarkan sejak kecil tapi kini aku
benar2 telah berada dipesantren tersebut.Rona kebahagiaan tak bisa
kusembunyikan lagi dari wajahku,semua terasa indah hingga aku bagaikan
terbang ke langit ke 7 bertemu dg bidadari surga dan kembali lagi ke
bumi dg membawa bunga yg dipetik dari tamannya.
Dan yg lebih membuatku bahagia lagi sebentar lagi aku pun dapat
bertemu dg Maryam,sahabatku di pesantren dulu,alangkah bahagianya hari
ini,ya Allah.
"Assalamu'alaikum... Ustadz Faruq?"
"Wa'alaikum salam..."
Aku dan abi masih terheran-heran,mengapa penjaga gerbang dipesantren
ini mengetahui nama abiku dan yg lebih mengherankan lagi,dia pun
mengerti bahasa Indonesia.
"Apakah benar Anda Ustadz Faruq?" tanya penjaga gerbang tersebut.
"Na'am...,benar sekali.Saya Ustadz Faruq,apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Karena belum bisa mengingat identitas penjaga gerbang tersebut,akhirnya abi pun bertanya kepadaku.
"Nak...,kau mengenalnya?" tanya abi.
"Tidak Abi,aku pun bingung mengapa beliau mengenali kita tapi
sepertinya wajahnya memang tak asing lagi rasanya aku pernah melihatnya
tapi entah dimana,aku lupa,abi."
Tiba2 penjaga gerbang tadi membuka kembali pembicaraan dan
sepertinya beliau pun mengerti bahwa aku dan abi benar2 tak mengetahui
identitas penjaga gerbang tersebut.
"Jadi,Ustadz benar2 tak mengingatku?"
Penjaga gerbang itu pun tersenyum pada kami dan tetap membiarkan kami dalam perasaan ingin tahu yg kian mendalam.
"Baiklah...,mungkin Ustadz benar2 lupa,karena kita memang sudah lama
sekali tak bertemu.Saya Muklis,Ustadz tetangga Ustadz sewaktu Ustadz
tinggal di Indonesia.Terakhir kita bertemu adalah saat Nida masih kecil
sekali."
"Astaghfirullah Muklis... Maafkan aku karena terlalu lama tak bertemu,aku jadi melupakanmu.Kau bekerja disini?"
"Betul Ustadz,saya sudah 10 tahun bekerja disini.Saat itu,saudara
saya bekerja dipesantren ini dan ia memberitahukan bahwa ada lowongan
pekerjaan dipesantren ini akhirnya saya pun memutuskan untuk berangkat
ke Madinah dan sekarang anak dan istri saya juga sudah saya bawa kemari
jadi kami sekeluarga sudah tinggal di Madinah sejak 5 tahun
lalu,setelah saya bisa membeli sebuah rumah yg tak terlalu
mewah.Ustadz...,inikah Nida?"
"Betul Muklis,ini Nida putri semata wayangku."
"Subhanallah...,sekarang kau sudah dewasa,cantik sekali dirimu,Nak."
"Terima kasih,pak Muklis." ucapku pada Pak Muklis.
"Kau hanya kesini bersama abimu? Mana ummimu? Bagaimana kabarnya sekarang,Nida?"
Ummi? RAbbi...,tak bisa kusembunyikan lagi raut wajahku memang
langsung berubah.Saat kudengar nama ummi,seakan air mataku ingin jatuh
sebanyak-banyaknya,ak jadi sangat merindukannya.
"Ummi memang tak ikut,Pak,karena ummi sudah meninggal."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.Maafkan Bapak,sungguh tak pernah
kudengar kabar ini.Semoga beliau diberi tempat yg terbaik disisi
Allah."
"Terima kasih,Pak."
Aamiin ya Rabb...,semoga ummi memang diberikan tempat terbaik disisi Mu.
"Sepertinya,kita terlalu banyak berbincang-bincang hampir saja
lupa,sebenarnya apa keperluan Ustadz dan Nida datang ketempat ini?"
"Sebenarnya,kami ingin bertemu dg Ustadz Alfash."
"Subhanallah,jadi tamu agung yg datang...? Ustadz Alfash sudah
mengumumkan pada seluruh santri bahwa akan ada tamu agung yg berkunjung
kepesantren ini tapi sungguh tak kusangka bahwa tamu yg telah lama
dinanti oleh Ustadz Alfash adalah Anda dan Nida."
"Tamu agung? Benarkah Ustadz Alfash berkata demikian?"
"Benar,Ustadz Alfash yg berkata langsung dihadapan seluruh
santri.Baiklah,mari saya antar ke kediaman Ustadz Alfash sekarang.Saya
yakin Ustadz Alfash pasti sangat bahagia melihat kehadiran anda dan Nida
kepesantren ini.Merupakan suatu penghormatan bagi kami dikunjungi oleh
tamu agung."
Sempat ada beban yg hinggap dalam hatiku,khawatir jika perkiraan
semua orang terhadapku salah,khawatir jika hati ini tak seagung yg
dibayangkan bahkan aku pun takut jika pujian ini membuat adanya
penyakit hati dalam diriku.Kami pun berjalan dalam pesantren
itu.Arsitekturnya bagus,bangunan2 ini modern tapi nilai estetika islam
masih melekat dalam setiap bangunan2 nya.Hijab benar2 terjaga sekali,tak
tampak adanya campur baur antara laki2 dan perempuan sepertinya
semuanya hidup dalam keindahan disini.Tak lama,tapi... Degup jantungku
kian tak menentu,ya Rabb.
"Nak...,tenanglah.Kau harus tenang,seorang wanita yg shalihah selalu
bisa mengendalikan hatinya.Bukankah kau ingin menjadi wanita yg
shalihah,maka tenangkanlah dirimu."
"Baiklah,Abi."
Sepertinya abi benar2 memahami kegelisahanku saat ini.Ya
Rabb...,tenangkanlah hati ini jangan biarkan hati ini terus bergejolak
tak menentu.Aamiin.
Setelah sekian lama berjalan mengitari pesantren yg sangat luas
ini,akhirnya kami tiba disebuah rumah yg terletak sekitar 500 m dari
masjid.Itulah kediaman Ustad Alfash dipesantren ini.Kemudian,Pak Muklis
mengetuk pintu kediaman Ustadz Alfash.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum..."
Tak berapa lama,terdengar suara lembut seorang wanita yg menjawab
salam sepertinya itu adalah ibunda Azhar dan pintu rumah pun dibuka.
"Wa'alaikum salam.Apa ada,Pak Muklis?"
"Maaf menganggu,Ustadzah.Tamu yg ditunggu oleh Ustadz Alfash sudah tiba."
"Subhanallah,sekarang dimana mereka?"
Setelah Pak Muklis mengisyaratkan kami untuk masuk kami pun masuk.
"Subhanallah,Nida.Akhirnya kau tiba,Nak.Ammah dan abah telah menunggu kehadiranmu sejak lama."
Ibunda Azhar langsung memeluk diriku dg sangat erat dan beliau
mencium keningku berkali-kali.Setelah kepergian ummi hanya ibunda
Azharlah yg mencintaiku sebagaimana ummi mencintai diriku.Akhirnya aku
dan abi masuk ke kediaman ayah dan ibunda Azhar dipesantren Al Firdaus
dan Pak Muklis pun pamit untuk kembali bekerja.
***
Sungguh penyambutan yg sangat baik rupanya ayah dan ibunda Azhar
telah mempersiapkan kamar untukku dan abi.Seluruh makanan dan minuman
yg mereka miliki pun dihidangkan.Rasanya,bahagia sekali bertemu dg
kedua orang tua Azhar.
Karena terlalu telah,akhirnya aku dan abi pun beristirahat sejenak ditempat yg telah dipersiapkan.
BERSABUNG... (Bag 33 of 36)
Senin, 07 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar