Account

gelembung

cursor

Senin, 07 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 32 of 36)

[♥] JIWA INI TAK MENENTU [♥] (Bag 32)

Saat perjalanan kembali ke Makkah....


"Astaghfirullah Nak...,abi hampir saja lupa...."

"Kenapa,abi? Hal apa yg telah abi lupakan? Mengapa sampai khawatir seperti itu?"

"Abi lupa...,kita telah berjanji pada ayah dan ibunda Azhar bahwa setelah selesai ibadah umrah kita akan berkunjung ke pesantren milik keluarga Azhar.Abi benar2 lupa."

"Astaghfirullahal'adzim,aku juga lupa,abi.Bagaimana jika sekarang kita langsung kesana? Abi membawa kartu nama yg telah diberikan ayah Azhar bukan?"

"Na'am,Nak.Abi membawanya"

"Boleh aku melihat kartu nama itu,abi?"

"Tentu saja boleh..."

Abi membuka dompetnya dan mengambil secarik kartu nama lalu memberikannya kepadaku "Ini kartu nama yg diberikan oleh ayah Azhar saat bertemu dibandara saat itu,Nak."

Kuterima kartu nama itu dan...

"Pesantren Al Firdaus?"

"Ada apa,Nak? Sepertinya,kau begitu kaget melihat kartu nama tersebut?"

Rabbi...,ini adalah pesantren milik abi Muhammad Muhsin.Ya...,tak salah lagi.Pesantren Al Firdaus adalah pesantren dibawah asuhan Ustadz Muhsin Abdul Jalin dan itu artinya... Ya Allah,mungkinkah aku bertemu dg Muhammad Muhsin disana? Apakah ini bagian dari skenario yg telah Engkau tetapkan dalam hidupku? Hatiku bergetar,jantungku berdegup kencang,aku tak tahu apa yg harus kulakukan.Tiba2 aku merasa takut,mungkinkah aku bertemu dg seseorang yg pernah singgah dalam hatiku dan mungkinkah kini bayangan Muhammad Muhsin bisa benar2 nyata didalam kehidupanku? Air mataku tumpah,aku bingung apa yg harus aku lakukan? Khawatir,takut,bahagia,ah...,tak bisa lagi kuungkapkan lagi kondisi hatiku saat ini... Tapi aneh,sungguh aneh mengapa pesantren milik keluarga Azhar memiliki nama yg sama dg nama pesantren milik keluarga Muhammad Muhsin,adakah hubungan antara keduanya?

"Nida...,kau dengar abi?"

Tapi,entah mengapa aku tetap yakin bahwa pesantren Al Firdaus yg dimaksud oleh keluarga Azhar sama dg pesantren milik Ustadz Muhsin Abdul Jalil.Dan...,sepertinya aku pun tak mendengar apa yg abi ungkapkan.Aku tak percaya bahwa kini posisiku makin dekat untuk bertemu dg Muhammad Muhsin.Entah apa yg terjadi padaku saat ini,semua perasaan aneh berbaur menjadi satu.

"Nida...,Nida..."

Akhirnya,aku pun bisa mendengar suara abi lagi.

"Na'am,Abi..."

"Apa yg terjadi dg mu? Mengapa kau tiba2 menangis dan termenung sekian lama setelah melihat kartu nama tersebut.Tolong Nak...,ceritakan semuanya pada Abi,Abi khawatir akan kondisimu."

"Baiklah,abi... Aku akan menceritakan semuanya pada Abi tapi aku ingin bertanya satu hal pada Abi.Apakah benar yg tertulis dikartu nama ini adalah tempat yg kita tuju saat ini?"

"Ya... Benar sekali,lalu apa permasalahannya,Nida?"

"Abi,apakah pesantren Al Firdaus adalah pesantren yg berada dibawah asuhan Ustadz Muhsin abdul jalil?"

"Ya,benar sekali yg kau katakan.Pesantren yg memiliki ribuan santri itu berada dibawah asuhan Ustadz Muhsin abdul jalil."

Aku masih belum mengerti semua ini.

"Lalu,apa hubungan Ustadz Muhsin abdul jalil dg keluarga Azhar?"

"Saat pertemuan dibandara saat lalu,Ayah Azhar menceritakan sedikit tentang keluarganya,jadi ternyata Ustadz Muhsin abdul jalil adalah kakak kandung dari ayah Azhar."

"Apa? Benarkah yg abi katakan itu?"

"Ya benar,Nak,untuk apa abi berbohong?"

Ya Rabbi,ternyata Azhar dan Muhammad Muhsin adalah kerabat dekat jelas saja saat aku menyebutkan bahwa yg kucintai adalah Muhammad Muhsin dia langsung mengenalinya.Subhanallah,tangisku semakin pecah aku pun tak kuasa lagi menyimpan semua rahasia ini mungkin ini saatnya sebuah tabir rahasia yg telah aku simpan untuk sekian lamanya dapat tersingkap.Hamba mohon,jadikanlah ini adalah kesempatan yg terbaik untuk hamba dalam menceritakan perasaan hamba yg sebenarnya.

Akhirnya... Bismillah...,aku pun menceritakan semua perasaanku pada abi,perasaan cintaku kepada Muhammad Muhsin yg ternyata adalah saudara dekat dari keluarga Azhar,seseorang yg pernah meminangku dulu.Aku pun menceritakan pula bagaimana perjuangan untuk menjaga rasa cinta ini karena aku ingin menjadi wanita seperti Fatimah putri Rasulullah Muhammad yg menjaga cintanya untuk Ali bin Abi thalib.Beliau tak pernah menuturkan perasaannya itu kepada siapa pun,sekuat hati ia berjihad menjaga perasaannya itu.Jika saja Fatimah mau bisa saja Fatimah menceritakan perasaannya itu pada Ayahnya Rasulullah tapi dg keteguhan hatinya Fatimah menyimpan rasa itu karena tak ingin hatinya terkotori apabila Fatimah terlalu sering mengucap nama Ali.

Hanya Allah dan hatinya saja yg mengetahui rasa itu bahkan setan pun tak mengetahui bahwa Fatimah sangat mencintai Ali.Dan ternyata dibalik semua itu,Ali pun merasakan demikian bahwa hanya Fatimahlah yg mampu mengisi hatinya tapi dg kerendahan hatinya Ali bin Abi thalib merasa tak pantas mendampingi wanita ahli surga seperti Fatimah hingga akhirnya terungkaplah rasa saling cinta itu selepas Ijab qabul.Sungguh jika seandainya mereka tak berjodoh mungkin ini hanya akan menjadi rahasia masing2 dari mereka dg Allah saja.Begitulah beberapa buku menuliskan mengenai kekuatan cinta Ali dan Fatimah,itulah semangatku,semangat untuk menjaga rasa ini,semangat untuk menahan diri dan semangat untuk menahan hawa nafsu untuk meredam dalam2 rasa cinta ini sebelum ijab Qabul antara aku dan jodohku terucap.Itulah yg membuat aku memendam semua rasa cinta ini dan kali ini karena aku pun memiliki penyakit yg sungguh sangat mengancam nyawa,aku hanya ingin abi mengetahui isi hatiku,aku takut tak sempat memberinya kebahagiaan.Dengan menceritakan semua perasaanku ini pada abi aku ingin abi bahagia karena putrinya mencintai orang yg benar,mencintai seseorang karena Allah,mencintai seseorang karena agamanya,mengagumi seseorang karena Allah.Setelah semua perasaanku ini kuungkapkan kepada abi hati ini sungguh lega sekali rasanya,tak ada lagi hal yg mengganjal hatiku semoga ini adalah keputusan yg terbaik ya Rabb,dan semoga dg aku bercerita ini semua kepada abi,tabir rahasia tentang jodohku dapat segera terungkap.Aamiin,ya Rabb.

Seusai kuceritakan semua perasaanku itu,abi mulai membuka percakapan kembali dan kulihat ada senyum diwajah abi.

"Nak...,abi bahagia dan bangga memiliki putri sepertimu,kau wanita shalihah,Nak.Kau pastas dapatkan pendamping hidup yg shalih pula.Abi meridhaimu,Nak."

Sungguh bahagia sekali kudengar penuturan abi.Dengan ridha dari orang tua aku bisa mendapatkan ridha dari Allah.

"Syukron,abi... Abi bisa memahami kondisiku."

Abi hanya membalas rasa terima kasihku itu dg senyuman yg sangat indah.

"Nak...,boleh abi bertanya padamu?"

"Tentu saja boleh,apa yg ingin abi tanyakan kepadaku?"

"Kau pernah bertemu dg Muhammad Muhsin?"

"Belum abi,satu lali pun aku tak pernah bertemu dg Muhammad Muhsin."

Akhirnya aku ceritakan kembali kepada abi bahwa rasa cintaku pada Muhammad Muhsin berawal dari kekaguman terhadapnya dg semua cerita tentangnya dari saudara kembarnya Maryam Muhsin.Dia sahabatku tapi semenjak aku melanjutkan studi di Kairo kami sudah tak pernah berkomunikasi kembali jadi saat ini yg aku tahu adalah bayangannya cerita mengenai kebaikan dirinya dan aku belum memgetahui sosoknya yg sebenarnya.

"Ya...,itu cukup membuktikan bahwa yg kau cintai bukan parasnya tapi yg kau cintai adalah kebaikannya,keimanannya dan keshalihannya.Kebanggaan Abi semakin bertambah padamu Nak,sekarang abi mengerti apa yg harus abi lakukan."

"Apa itu,Abi? Boleh aku mengetahuinya?"

"Tentu saja,kita harus secepatnya pergi ke Pesantren Al Firdaus dan secepatnya pula bertemu dg putra Ustadz Muhsin yg kau cintai itu dan abi akan melamar Muhammad Muhsin untuk menjadi imam hidup bagi putri abi yg sangat abi cintai.

Sempat kaget saat kudengar penuturan abi tadi.Apa? Abi akan melamar Muhammad Muhsin untuk diriku? Ya Rabbi...,bunga2 surga seakan ditaburkan dalam hatiku.Air mata ini kembali menetes tapi kali ini berbeda tetesan air mata ini hadir dalam kondisi yg berbeda tak seperti biasanya ini adalah air mata kebahagiaan.Sungguh aku sangat bahagia,ya Allah...

"Terima kasih,abi."

kupeluk abiku erat2,suasana haru biru mulai terasa,langit Madinah yg cerah menjadi saksi kebahagiaanku saat ini.

Akhirnya aku dan abi memutuskan untuk pergi ke Pesantren Al Firdaus,pesantren milik keluarga Azhar dan tentunya juga milik keluarga Muhammad Muhsin.Kami pergi dg menggunakan taksi karena Pesantren Al Firdaus adalah pesantren yg sangat terkenal maka tak sulit bagi kami untuk menemukan pesantren tersebut.Semakin dekat posisiku dg pesantren ini semakin dekat posisiku dg Muhammad Muhsin rasanya hati ini makin tak tenang.

Aku tak sabar untuk segera tiba dipesantren itu dan semua mimpiku dapat terwujud dalam nyata.

"Nak? Kau gugup?"

Sebenarnya aku malu menjawab pertanyaan abi dan aku hanya bisa menjawab dg senyuman.

"Tak perlu gugup,serahkan semua pada Nya,mintalah yg terbaik atas keputusan Nya."

"Baiklah,Abi."

Namun...,walaupun abi telah memberikan nasihat kepadaku,aku masih belum bisa mengendalikan hatiku,aku masih saja gugup tak tenang,resah,bahagia tak bisa lagi kuatur napasku.Aku akan bertemu dg seseorang yg selama bertahun-tahun hanya menjadi bayangan dalam hatiku dan hampir aku tak percaya bahwan Ustadz Muhsin abdul jalil adalah kakak kandung dari Ustadz Alfash Muharromi itu artinya Muhammad dan Azhar adalah saudara dekat.Ya Rabbi,jika bukan karena Engkau yg mengatur semua ini maka mustahil hal ini bisa terjadi.Akhirnya dg waktu kurang dari satu jam kami telah tiba di Ma'had tersebut.Subhanallah,dalam hatiku berdecak sungguh indahnya pesantren ini,santrinya banyak pemandangannya pun sungguh indah,taman2 bunga disetiap sudut ma'had,banyaknya santri yg tengah berdiskusi,belajar bahkan menghafalkan Al Quran al karim dibawah rindangnya pohon.Ternyata pesantren ini pun membudidayakan jenis perkebunan sehhngga bunga2 tetap bisa tumbuh ditengah panasnya Madinah.Rabbi...,tak heran jika setiap santri yg menuntut ilmu di sini memiliki kelebihan dibandingkan tempat lainya,peraturannya sungguh ketat tapi tak sedikit pun tampak adanya kesedihan dan perasaan terkekang dalam diri santri2 nya.

Entah mengapa,yg aku lihat hanyalah keteduhan,kesopanan,serta kebaikan dari setiap santrinya dan kini hatiku menjadi semakin sulit untuk ditata.Bayangkan,dahulu aku hanya bermimpi bisa tiba dipesantren tempat Muhammad Muhsin tinggal dan dibesarkan sejak kecil tapi kini aku benar2 telah berada dipesantren tersebut.Rona kebahagiaan tak bisa kusembunyikan lagi dari wajahku,semua terasa indah hingga aku bagaikan terbang ke langit ke 7 bertemu dg bidadari surga dan kembali lagi ke bumi dg membawa bunga yg dipetik dari tamannya.

Dan yg lebih membuatku bahagia lagi sebentar lagi aku pun dapat bertemu dg Maryam,sahabatku di pesantren dulu,alangkah bahagianya hari ini,ya Allah.

"Assalamu'alaikum... Ustadz Faruq?"

"Wa'alaikum salam..."

Aku dan abi masih terheran-heran,mengapa penjaga gerbang dipesantren ini mengetahui nama abiku dan yg lebih mengherankan lagi,dia pun mengerti bahasa Indonesia.

"Apakah benar Anda Ustadz Faruq?" tanya penjaga gerbang tersebut.

"Na'am...,benar sekali.Saya Ustadz Faruq,apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Karena belum bisa mengingat identitas penjaga gerbang tersebut,akhirnya abi pun bertanya kepadaku.

"Nak...,kau mengenalnya?" tanya abi.

"Tidak Abi,aku pun bingung mengapa beliau mengenali kita tapi sepertinya wajahnya memang tak asing lagi rasanya aku pernah melihatnya tapi entah dimana,aku lupa,abi."

Tiba2 penjaga gerbang tadi membuka kembali pembicaraan dan sepertinya beliau pun mengerti bahwa aku dan abi benar2 tak mengetahui identitas penjaga gerbang tersebut.

"Jadi,Ustadz benar2 tak mengingatku?"

Penjaga gerbang itu pun tersenyum pada kami dan tetap membiarkan kami dalam perasaan ingin tahu yg kian mendalam.

"Baiklah...,mungkin Ustadz benar2 lupa,karena kita memang sudah lama sekali tak bertemu.Saya Muklis,Ustadz tetangga Ustadz sewaktu Ustadz tinggal di Indonesia.Terakhir kita bertemu adalah saat Nida masih kecil sekali."

"Astaghfirullah Muklis... Maafkan aku karena terlalu lama tak bertemu,aku jadi melupakanmu.Kau bekerja disini?"

"Betul Ustadz,saya sudah 10 tahun bekerja disini.Saat itu,saudara saya bekerja dipesantren ini dan ia memberitahukan bahwa ada lowongan pekerjaan dipesantren ini akhirnya saya pun memutuskan untuk berangkat ke Madinah dan sekarang anak dan istri saya juga sudah saya bawa kemari jadi kami sekeluarga sudah tinggal di Madinah sejak 5 tahun lalu,setelah saya bisa membeli sebuah rumah yg tak terlalu mewah.Ustadz...,inikah Nida?"

"Betul Muklis,ini Nida putri semata wayangku."

"Subhanallah...,sekarang kau sudah dewasa,cantik sekali dirimu,Nak."

"Terima kasih,pak Muklis." ucapku pada Pak Muklis.

"Kau hanya kesini bersama abimu? Mana ummimu? Bagaimana kabarnya sekarang,Nida?"

Ummi? RAbbi...,tak bisa kusembunyikan lagi raut wajahku memang langsung berubah.Saat kudengar nama ummi,seakan air mataku ingin jatuh sebanyak-banyaknya,ak jadi sangat merindukannya.

"Ummi memang tak ikut,Pak,karena ummi sudah meninggal."

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.Maafkan Bapak,sungguh tak pernah kudengar kabar ini.Semoga beliau diberi tempat yg terbaik disisi Allah."

"Terima kasih,Pak."

Aamiin ya Rabb...,semoga ummi memang diberikan tempat terbaik disisi Mu.

"Sepertinya,kita terlalu banyak berbincang-bincang hampir saja lupa,sebenarnya apa keperluan Ustadz dan Nida datang ketempat ini?"

"Sebenarnya,kami ingin bertemu dg Ustadz Alfash."

"Subhanallah,jadi tamu agung yg datang...? Ustadz Alfash sudah mengumumkan pada seluruh santri bahwa akan ada tamu agung yg berkunjung kepesantren ini tapi sungguh tak kusangka bahwa tamu yg telah lama dinanti oleh Ustadz Alfash adalah Anda dan Nida."

"Tamu agung? Benarkah Ustadz Alfash berkata demikian?"

"Benar,Ustadz Alfash yg berkata langsung dihadapan seluruh santri.Baiklah,mari saya antar ke kediaman Ustadz Alfash sekarang.Saya yakin Ustadz Alfash pasti sangat bahagia melihat kehadiran anda dan Nida kepesantren ini.Merupakan suatu penghormatan bagi kami dikunjungi oleh tamu agung."

Sempat ada beban yg hinggap dalam hatiku,khawatir jika perkiraan semua orang terhadapku salah,khawatir jika hati ini tak seagung yg dibayangkan bahkan aku pun takut jika pujian ini membuat adanya penyakit hati dalam diriku.Kami pun berjalan dalam pesantren itu.Arsitekturnya bagus,bangunan2 ini modern tapi nilai estetika islam masih melekat dalam setiap bangunan2 nya.Hijab benar2 terjaga sekali,tak tampak adanya campur baur antara laki2 dan perempuan sepertinya semuanya hidup dalam keindahan disini.Tak lama,tapi... Degup jantungku kian tak menentu,ya Rabb.

"Nak...,tenanglah.Kau harus tenang,seorang wanita yg shalihah selalu bisa mengendalikan hatinya.Bukankah kau ingin menjadi wanita yg shalihah,maka tenangkanlah dirimu."

"Baiklah,Abi."

Sepertinya abi benar2 memahami kegelisahanku saat ini.Ya Rabb...,tenangkanlah hati ini jangan biarkan hati ini terus bergejolak tak menentu.Aamiin.

Setelah sekian lama berjalan mengitari pesantren yg sangat luas ini,akhirnya kami tiba disebuah rumah yg terletak sekitar 500 m dari masjid.Itulah kediaman Ustad Alfash dipesantren ini.Kemudian,Pak Muklis mengetuk pintu kediaman Ustadz Alfash.

Tok... Tok... Tok...

"Assalamu'alaikum..."

Tak berapa lama,terdengar suara lembut seorang wanita yg menjawab salam sepertinya itu adalah ibunda Azhar dan pintu rumah pun dibuka.

"Wa'alaikum salam.Apa ada,Pak Muklis?"

"Maaf menganggu,Ustadzah.Tamu yg ditunggu oleh Ustadz Alfash sudah tiba."

"Subhanallah,sekarang dimana mereka?"

Setelah Pak Muklis mengisyaratkan kami untuk masuk kami pun masuk.

"Subhanallah,Nida.Akhirnya kau tiba,Nak.Ammah dan abah telah menunggu kehadiranmu sejak lama."

Ibunda Azhar langsung memeluk diriku dg sangat erat dan beliau mencium keningku berkali-kali.Setelah kepergian ummi hanya ibunda Azharlah yg mencintaiku sebagaimana ummi mencintai diriku.Akhirnya aku dan abi masuk ke kediaman ayah dan ibunda Azhar dipesantren Al Firdaus dan Pak Muklis pun pamit untuk kembali bekerja.

***

Sungguh penyambutan yg sangat baik rupanya ayah dan ibunda Azhar telah mempersiapkan kamar untukku dan abi.Seluruh makanan dan minuman yg mereka miliki pun dihidangkan.Rasanya,bahagia sekali bertemu dg kedua orang tua Azhar.

Karena terlalu telah,akhirnya aku dan abi pun beristirahat sejenak ditempat yg telah dipersiapkan.

BERSABUNG... (Bag 33 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar