Account

gelembung

cursor

Senin, 07 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 29 of 36)

♥ AKANKAH HARAPANKU HANCUR...? ♥ (Bag 29)

Sesampainya dikediamanku di Belanda...
Aku membuka kotak pos yg terletak persis dihalaman rumahku,ternyata ada sebuah surat didalamnya setelah kubuka ternyata ini adalah surat pemberitahuan tentang keberamgkatanku ke Amerika.Kulihat jadwalnya.

14 agustus: Psikotes
16 agustus: Tes kesehatan
20 agustus: Registrasi
25 agustus: Pengarahan
1 september: Waktu pemberangkatan

Ya Allah...,ternyata ada tes kesehatan,pasti hasilnya buruk pasti tim kesehatan mengetahui bahwa aku mengindap kanker otak stadium 3 dan akhirnya diputuskan aku tak bisa pergi ke Amerika.Ya Rahman,ya Rahim,padahal itu adalah impianku ya Rabb,aku ingin menuntut ilmu di negara adidaya itu,masihkah ada kesempatan untuk diriku ya Rabb? Aku mohon,berikan aku kesempatan.

***

Semakin hari,rasa sakitku semakin bertambah,bahkan kini tak ada bedanya lagi antara aku minum atau tidak obat-obatan yg diberikan oleh dokter,rasanya ingin sekali kubenturkan kepalaku ke dinding kamarku agar bisa sirna rasa sakit ini.Ingin pula kuremas kepala ini dan membuang jauh rasa sakit ini dari dalam diriku tapi tak bisa.Apa yg harus aku lakukan? Tanpa sadar,air mataku mulai menetes menahan rasa sakit itu dan aku terjatuh dan tak ingat apa2 lagi.

Tak lama kemudian aku tersadar,kepalaku pusing sekali dan aku mulai terperajat saat mengetahui tubuhku terbaring dilantai.Ya Allah,ternyata tadi aku pingsan.Aku berjalan mengambil seteguk air dan kubuka jendela ternyata sudah petang mungkin aku pingsan terlalu lama.Kulihat handphoneku yg tergeletak diatas meja ada 7 panggilan tak terjawab dan ternyata abi yg menghubungiku,aku yakin abi pasti khawatir.Ya Allah,jangan biarkan abi mengetahui penyakitku ini.

Kriiing... Kriiing...


Handphoneku mulai berdering kembali dan ternyata benar dugaanku bahwa abi yg menghubungiku.

"Assalamu'alaikum...."

Mungkin kusembunyikan suara parauku dan sebisa mungkin kuhadirkan keceriaan dari suaraku.

"Wa'alaikum salam,Nak,kau sakit?"

Ternyata firasat seorang ayah memang kuat padahal sudah kuatur sedemikian rupa intonasi dan suaraku agar tak lagi terdengar parau.

"Tidak abi,Nida baik2 saja,Nida sehat.Bagaimana dg kabar abi?"

"Alhamdulillah,abi sehat,Nak.Aneh,sepertinya suaramu berubah,seperti sedang sakit? Benar kau baik2 saja? Kau tidak membohongi abi,kan?"

"Tentu saja tidak,mana mungkin aku berkata dusta pada abi."

Maaf abi,aku yakin jika abi mengetahui kondisiku yg sebenarnya abi pasti akan sangat sedih sekali dan aku tak ingin hal itu terjadi,biarlah aku menampung rasa sedih itu sendiri,cukuplah hatiku yg merasakannya aku tak ingin membaginya dg siapa pun.

"Baiklah...,abi percaya.Bagaimana dg perkembangan keberangkatanmu ke Amerika,Nak? Sudah ada pemberitahuan kapan kau berangkat kesana?"

Apalagi yg harus aku jawab,pemberitahuannya memang sudah ada tapi aku yakin aku akan ditolak belajar disana lantaran kesehatanku yg makin hari makin memburum.

"Ehmm...,kabar yg ada belum begitu signifikan nanti bila kabarnya sudah signifikan pasti Nida langsung memberitahu abi,mohon doanya."

"Insya Allah anakku,kau putri semata wayang abi,doa abi untukmu selalu.Baiklah sepertinya ada tamu,abi tutup dulu teloponnya nanti kita sambung lagi,hati2 kau disana jaga dirimu kejar terus impianmu jangan biarkan cita2 mu menguap begitu saja tanpa meninggalkan kebahagiaan sedikitpun."

"Baik,Insya Allah akan selalu kuingat nasihat abi."

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam..."

Air mataku mulai meleleh lagi apalagi setelah mendengar pesan abi yg terakhir,apakah masih bisa seorang wanita penderita kanker otak stadium 3 mengejar dan menggapai cita2 nya yg setinggi bintang2 di angkasa? Untuk melangkahkan kaki saja,hampir aku tak kuat.


Ya Rabb,Engkau turunkan suatu penyakit beserta obatnya,hamba mohon berilah petunjuk kepada hamba.Besok adalah hari dimana tes kesehatan sebagai persyaratan studi di Amerika itu dilaksanakan,hamba tak berani sedikit pun membayangkan hasil apa yg akan hamba terima.Hanya yg terbaik yg hamba harap dari Mu,ya Rabb,aamiin.

Malam harinya,aku tidur dg perasaan,was-was,takut dan gemetar disertai dg kepalaku yg sakitnya kian bertambah.

***

Mentari bersinar lagi tapi tak seperti biasanya.Dahulu,aku sangat bahagia jika menyaksikan terbitnya mentari,seakan diriku merasa hangat dan turut merasakan kebahagiaan karena harapan baru akan tiba disetiap pancaran sinarnya tapi kini tidak,yg kurasakan adalah rasa takut,takut jika hari ini adalah hari terakhirku memandang alam Allah yg kaya akan keindahan bahkan kutatap mentari itu lekat2 kurasakan benar cahayanya merasuk jiwaku karena aku tak yakin esok kakiku masih berpijak dibumi Allah atau tidak.Detik terus bergulir menjauhi waktu dan selama itu pulalah rasa sakit dan ketakutanku bertambah.Pukul 09.00 pagi tes kesehatan itu dimulai,aku harus bersiap-siap secepat mungkin.Masih ada harapan Nida,begitulah setiap harinya aku meyakinkan diriku bahwa harapan itu masih ada untuk orang2 yg ingin menjemput harapan itu.

Tak perlu memerlukan waktu lama untuk tiba ditempat yg telah ditunjukan sebagai tempat yg akan dipergunakan untuk tes kesehatan.Di sana,aku bertemu dg teman2 ku yg semuanya adalah Nasrani.Mereka memang sangat ramah kepadaku,mereka mengajak diriku berbincang-bincang bahkan ada pula yg menanyakan kondisi kesehatanku tapi tetap saja hati tak bisa dibohongi bahwa sebenarnya aku kurang nyaman jika harus berbincang-bincang lebih jauh lagi dg mereka.

Satu per satu dari kami dipanggil ke ruang pemeriksaan,aku mendapat urutan ke 3 dan saat itu aku merasakan ada peningkatan detak jantung pada diriku,keringatku mulai bercucuran,wajahku pun kian memucat,ya Allah,bantu aku.Tak lama kemudian namaku pun dipanggil,aku masuk ruang pemeriksaan dg kaki bergetar disertai dg kepalaku yg tiba2 sakit lagi hingga aku harus jalan dg sangat pelan sekali.Sesampainya diruang pemeriksaan,semua alat canggih lengkap berada didalamnya,aku tahu dan sangat menyadarinya bahwa dg peralatan secanggih itu tak mungkin penyakit kankerku tak terdeteksi.Aku hanya bisa berpasrah pada Mu,ya Rabb.Seorang dokter melakukan pemeriksaan lainnya.Akhirnya pemeriksaan usai juga aku keluar dg mengucap hamdalah karena hanya segala puji bagi Mu ya Allah.

Setelah semua diperiksa seorang staf yg bertanggung jawab dalam program studi ke Amerika ini keluar dari ruangan dokter rupanya beliau turut menyaksikan tes kesehatan yg kami jalani.Beliau juga menginformasikan bahwa hasilnya akan dikirim kealamat kami masing2.

Aku melangkah pulang dg lunglai,lemas sekali.Batin ini terus meyakinkan bahwa harapan itu masih ada,bahwa kesulitan yg sedang kuhadapi saat ini memang 99% tapi masih ada 1% harapan untuk diriku tapi lagi2 diri ini menepisnya aku terlalu takut,takut sekali untuk berharap,takut jikalau harapan yg sudah kutanam dalam jiwa ini harus pupus dan makin membuat diri ini menderita.Tak tahu harus bercerita pada siapa,awalnya aku ingin Najmi mendengarkan keluh kesahku ini tapi saat terbayang raut wajahnya yg penuh kebahagiaan tak tega aku mengganggunya dg hal2 yg pastinya akan membuat dirinya sedih dan khawatir.

Rabbi...,kini hamba baru mengetahui,betapa sabarnya orang2 shalih sebelumku yg selalu tersenyum saat ujian itu hadir menimpa mereka tapi hamba belum bisa meningkatan kadar keimanan hamba,maafkan hamba yg menjadi orang yg merugi karena hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Berlalu menjauhi masa dengan kebisuan hingga aku tersandar,kakiku telah berpijak tepat dikediamanku.Ya Allah,pulihlah kembali semangat hidupku ini,tak ingin kulalani hidup dg penuh kesia-siaan seperti hari ini.Terlalu lelah jiwa ini hingga akhirnya kuterlelap setelah sebelumnya kuminum obat-obatan yg entah berapa butir banyaknya.

***


Keesokan harinya...
Aduh...,lapar sekali perutku ini tapi persediaan makanan didapur sudah habis rupanya aku belum berbelanja dibulan ini.Bersiap-siap kukenakan gamis hijau mudaku dg jilbab putih yg baru saja kubeli hari ini aku hampir saja melupakan kanker otak yg menggerogoti tubuhku.

Ting... Tong...

Siapa yg bertandang kerumahku,sepertinya aku tak memiliki janji dg siapapun pagi ini.Setelah kubuka pintu rumahku ternyata seorang pengantar surat telah berdiri dihalaman.Biasanya,ia mengantarkan surat pada siang hari mengapa sepagi ini sudah pergi mengantarkan surat sempat mengganjal hatiku pertanyaan tersebut.

Kuterima surat itu belum sempat kubaca aku langsung meletakkannya di meja dekat ruang tamu aku bahkan tak berpikiran bahwa mungkin itu adalah surat hasil tes kesehatan yg dilaksanakan kemarin.Aku pergi secepat mungkin meninggalkan rumah untuk membeli beberapa keperluan sehari-hari.

BERSAMBUNG... (Bag 30 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar