♥ AKANKAH HARAPANKU HANCUR...? ♥ (Bag 29)
Sesampainya dikediamanku di Belanda...
Aku membuka kotak pos yg terletak persis dihalaman rumahku,ternyata
ada sebuah surat didalamnya setelah kubuka ternyata ini adalah surat
pemberitahuan tentang keberamgkatanku ke Amerika.Kulihat jadwalnya.
14 agustus: Psikotes
16 agustus: Tes kesehatan
20 agustus: Registrasi
25 agustus: Pengarahan
1 september: Waktu pemberangkatan
Ya Allah...,ternyata ada tes kesehatan,pasti hasilnya buruk pasti tim
kesehatan mengetahui bahwa aku mengindap kanker otak stadium 3 dan
akhirnya diputuskan aku tak bisa pergi ke Amerika.Ya Rahman,ya
Rahim,padahal itu adalah impianku ya Rabb,aku ingin menuntut ilmu di
negara adidaya itu,masihkah ada kesempatan untuk diriku ya Rabb? Aku
mohon,berikan aku kesempatan.
***
Semakin hari,rasa sakitku semakin bertambah,bahkan kini tak ada
bedanya lagi antara aku minum atau tidak obat-obatan yg diberikan oleh
dokter,rasanya ingin sekali kubenturkan kepalaku ke dinding kamarku
agar bisa sirna rasa sakit ini.Ingin pula kuremas kepala ini dan
membuang jauh rasa sakit ini dari dalam diriku tapi tak bisa.Apa yg
harus aku lakukan? Tanpa sadar,air mataku mulai menetes menahan rasa
sakit itu dan aku terjatuh dan tak ingat apa2 lagi.
Tak lama kemudian aku tersadar,kepalaku pusing sekali dan aku mulai
terperajat saat mengetahui tubuhku terbaring dilantai.Ya Allah,ternyata
tadi aku pingsan.Aku berjalan mengambil seteguk air dan kubuka jendela
ternyata sudah petang mungkin aku pingsan terlalu lama.Kulihat
handphoneku yg tergeletak diatas meja ada 7 panggilan tak terjawab dan
ternyata abi yg menghubungiku,aku yakin abi pasti khawatir.Ya
Allah,jangan biarkan abi mengetahui penyakitku ini.
Kriiing... Kriiing...
Handphoneku mulai berdering kembali dan ternyata benar dugaanku bahwa abi yg menghubungiku.
"Assalamu'alaikum...."
Mungkin kusembunyikan suara parauku dan sebisa mungkin kuhadirkan keceriaan dari suaraku.
"Wa'alaikum salam,Nak,kau sakit?"
Ternyata firasat seorang ayah memang kuat padahal sudah kuatur
sedemikian rupa intonasi dan suaraku agar tak lagi terdengar parau.
"Tidak abi,Nida baik2 saja,Nida sehat.Bagaimana dg kabar abi?"
"Alhamdulillah,abi sehat,Nak.Aneh,sepertinya suaramu berubah,seperti
sedang sakit? Benar kau baik2 saja? Kau tidak membohongi abi,kan?"
"Tentu saja tidak,mana mungkin aku berkata dusta pada abi."
Maaf abi,aku yakin jika abi mengetahui kondisiku yg sebenarnya abi
pasti akan sangat sedih sekali dan aku tak ingin hal itu terjadi,biarlah
aku menampung rasa sedih itu sendiri,cukuplah hatiku yg merasakannya
aku tak ingin membaginya dg siapa pun.
"Baiklah...,abi percaya.Bagaimana dg perkembangan keberangkatanmu ke
Amerika,Nak? Sudah ada pemberitahuan kapan kau berangkat kesana?"
Apalagi yg harus aku jawab,pemberitahuannya memang sudah ada tapi
aku yakin aku akan ditolak belajar disana lantaran kesehatanku yg makin
hari makin memburum.
"Ehmm...,kabar yg ada belum begitu signifikan nanti bila kabarnya
sudah signifikan pasti Nida langsung memberitahu abi,mohon doanya."
"Insya Allah anakku,kau putri semata wayang abi,doa abi untukmu
selalu.Baiklah sepertinya ada tamu,abi tutup dulu teloponnya nanti kita
sambung lagi,hati2 kau disana jaga dirimu kejar terus impianmu jangan
biarkan cita2 mu menguap begitu saja tanpa meninggalkan kebahagiaan
sedikitpun."
"Baik,Insya Allah akan selalu kuingat nasihat abi."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Air mataku mulai meleleh lagi apalagi setelah mendengar pesan abi yg
terakhir,apakah masih bisa seorang wanita penderita kanker otak stadium
3 mengejar dan menggapai cita2 nya yg setinggi bintang2 di angkasa?
Untuk melangkahkan kaki saja,hampir aku tak kuat.
Ya Rabb,Engkau turunkan suatu penyakit beserta obatnya,hamba mohon
berilah petunjuk kepada hamba.Besok adalah hari dimana tes kesehatan
sebagai persyaratan studi di Amerika itu dilaksanakan,hamba tak berani
sedikit pun membayangkan hasil apa yg akan hamba terima.Hanya yg
terbaik yg hamba harap dari Mu,ya Rabb,aamiin.
Malam harinya,aku tidur dg perasaan,was-was,takut dan gemetar disertai dg kepalaku yg sakitnya kian bertambah.
***
Mentari bersinar lagi tapi tak seperti biasanya.Dahulu,aku sangat
bahagia jika menyaksikan terbitnya mentari,seakan diriku merasa hangat
dan turut merasakan kebahagiaan karena harapan baru akan tiba disetiap
pancaran sinarnya tapi kini tidak,yg kurasakan adalah rasa takut,takut
jika hari ini adalah hari terakhirku memandang alam Allah yg kaya akan
keindahan bahkan kutatap mentari itu lekat2 kurasakan benar cahayanya
merasuk jiwaku karena aku tak yakin esok kakiku masih berpijak dibumi
Allah atau tidak.Detik terus bergulir menjauhi waktu dan selama itu
pulalah rasa sakit dan ketakutanku bertambah.Pukul 09.00 pagi tes
kesehatan itu dimulai,aku harus bersiap-siap secepat mungkin.Masih ada
harapan Nida,begitulah setiap harinya aku meyakinkan diriku bahwa
harapan itu masih ada untuk orang2 yg ingin menjemput harapan itu.
Tak perlu memerlukan waktu lama untuk tiba ditempat yg telah
ditunjukan sebagai tempat yg akan dipergunakan untuk tes kesehatan.Di
sana,aku bertemu dg teman2 ku yg semuanya adalah Nasrani.Mereka memang
sangat ramah kepadaku,mereka mengajak diriku berbincang-bincang bahkan
ada pula yg menanyakan kondisi kesehatanku tapi tetap saja hati tak
bisa dibohongi bahwa sebenarnya aku kurang nyaman jika harus
berbincang-bincang lebih jauh lagi dg mereka.
Satu per satu dari kami dipanggil ke ruang pemeriksaan,aku mendapat
urutan ke 3 dan saat itu aku merasakan ada peningkatan detak jantung
pada diriku,keringatku mulai bercucuran,wajahku pun kian memucat,ya
Allah,bantu aku.Tak lama kemudian namaku pun dipanggil,aku masuk ruang
pemeriksaan dg kaki bergetar disertai dg kepalaku yg tiba2 sakit lagi
hingga aku harus jalan dg sangat pelan sekali.Sesampainya diruang
pemeriksaan,semua alat canggih lengkap berada didalamnya,aku tahu dan
sangat menyadarinya bahwa dg peralatan secanggih itu tak mungkin
penyakit kankerku tak terdeteksi.Aku hanya bisa berpasrah pada Mu,ya
Rabb.Seorang dokter melakukan pemeriksaan lainnya.Akhirnya pemeriksaan
usai juga aku keluar dg mengucap hamdalah karena hanya segala puji bagi
Mu ya Allah.
Setelah semua diperiksa seorang staf yg bertanggung jawab dalam
program studi ke Amerika ini keluar dari ruangan dokter rupanya beliau
turut menyaksikan tes kesehatan yg kami jalani.Beliau juga
menginformasikan bahwa hasilnya akan dikirim kealamat kami masing2.
Aku melangkah pulang dg lunglai,lemas sekali.Batin ini terus
meyakinkan bahwa harapan itu masih ada,bahwa kesulitan yg sedang
kuhadapi saat ini memang 99% tapi masih ada 1% harapan untuk diriku
tapi lagi2 diri ini menepisnya aku terlalu takut,takut sekali untuk
berharap,takut jikalau harapan yg sudah kutanam dalam jiwa ini harus
pupus dan makin membuat diri ini menderita.Tak tahu harus bercerita
pada siapa,awalnya aku ingin Najmi mendengarkan keluh kesahku ini tapi
saat terbayang raut wajahnya yg penuh kebahagiaan tak tega aku
mengganggunya dg hal2 yg pastinya akan membuat dirinya sedih dan
khawatir.
Rabbi...,kini hamba baru mengetahui,betapa sabarnya orang2 shalih
sebelumku yg selalu tersenyum saat ujian itu hadir menimpa mereka tapi
hamba belum bisa meningkatan kadar keimanan hamba,maafkan hamba yg
menjadi orang yg merugi karena hari ini lebih buruk dari hari kemarin.
Berlalu menjauhi masa dengan kebisuan hingga aku tersandar,kakiku
telah berpijak tepat dikediamanku.Ya Allah,pulihlah kembali semangat
hidupku ini,tak ingin kulalani hidup dg penuh kesia-siaan seperti hari
ini.Terlalu lelah jiwa ini hingga akhirnya kuterlelap setelah
sebelumnya kuminum obat-obatan yg entah berapa butir banyaknya.
***
Keesokan harinya...
Aduh...,lapar sekali perutku ini tapi persediaan makanan didapur
sudah habis rupanya aku belum berbelanja dibulan ini.Bersiap-siap
kukenakan gamis hijau mudaku dg jilbab putih yg baru saja kubeli hari
ini aku hampir saja melupakan kanker otak yg menggerogoti tubuhku.
Ting... Tong...
Siapa yg bertandang kerumahku,sepertinya aku tak memiliki janji dg
siapapun pagi ini.Setelah kubuka pintu rumahku ternyata seorang
pengantar surat telah berdiri dihalaman.Biasanya,ia mengantarkan surat
pada siang hari mengapa sepagi ini sudah pergi mengantarkan surat sempat
mengganjal hatiku pertanyaan tersebut.
Kuterima surat itu belum sempat kubaca aku langsung meletakkannya di
meja dekat ruang tamu aku bahkan tak berpikiran bahwa mungkin itu
adalah surat hasil tes kesehatan yg dilaksanakan kemarin.Aku pergi
secepat mungkin meninggalkan rumah untuk membeli beberapa keperluan
sehari-hari.
BERSAMBUNG... (Bag 30 of 36)
Senin, 07 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar