♥ MAAFKAN AKU,ABI... ♥ (Bag 30)
Sesampainya kembali di rumah...
Aneh...,mengapa pintu rumahku terbuka,padahal seingatku aku telah
menutup dan mengunci pintu rumah dg baik.Mengapa ada yg membukanya dan
seingatku pula hanya abi yg memiliki duplikat kunci rumah ini tapi
apakah mungkin abi bertandang ke sini,mengapa tak memberitahu aku
sebelumnya ataukah mungkin itu adalah sekawanan orang yg hendak
bermaksud jahat terhadapku? Aku harus memastikan siapa yg berada
didalam.
Kulangkahkan kakiku perlahan-lahan,mengendap,aku takut seseorang
didalam sana mengetahui bahwa aku sudah tiba.Kutelusuri ruang
tamu,ruang tengah dan kamarku tapi tak ada seorang pun
disini,aneh.Tiba2 sebuah tangan menyentuh pundakku,tak berani kutolehkan
wajahku ke arah orang yg menyentuh pundakku.
"Siapa anda? Mengapa masuk kediamanku tanpa seizinku?"
Aku berbicara tanpa memutar tubuhku sedikitpun dan aku yakin orang tersebut masih ada dibelakangku.
"Nida...,ini Abi,Nak...."
Dengan segera aku memutar tubuhku.
"Astaghfirullah Abi,jantungku hampir berhenti berdetak,kenapa Abi
tiba? Mengapa tak memberitahuku terlebih dahulu kan aku bisa menjemput
abi dibandara."
"Tak apa,abi tak ingin merepotkanmu..."
"Abi duduk saja dulu,kubuatkan minum abi pasti lelah sekali."
Sambil melangkah ke dapur aku mulai berpikir keras memikirkan sebuah
jawaban apabila abi menanyakan perihal keberangkatanku ke
Amerika,dan... Astaghfirullah aku baru ingat bahwa surat yg diantar
tadi pagi masih kuletakkan diatas meja dekat ruang tamu,aku yakin abi
pasti duduk disitu.Ya Rabb,jangan biarkan abi membaca surat itu.
Secepat mungkin aku berjalan dg membawa segelas teh ditanganku yg
hampir saja tumpah karena terlalu cepatnya aku melangkah.Sesampainya
dihadapan abi,gelas yg kupegang tak sengaja jatuh dan pecah
berkeping-keping dilantai.Aku terkejut sekali karena ternyata abi
tengah membaca isi surat tersebut,aku mulai kalut dan bingung dan dari
raut wajah abi aku tahu pasti dalam surat tersebut berita buruklah yg
tertulis.
"Abi..."
Aku berlutut didepan abi karena tak tahu harus berbuat apa.
Kemudian abi menyuruhku berdiri dan duduk disampingnya.Kulihat mata
abi berkaca-kaca,aku tak tahu abi pasti telah mengetahui bahwa ternyata
aku seorang pengindap kanker stadium 3,ya Allah.
"Nak...,mengapa kau tak pernah menceritakan masalah ini kepada Abi?
Apa kau tak percaya pada Abi? Sungguh...,abi sangat terpukul mengetahui
berita ini."
"Aku tak bermaksud seperti itu,aku hanya tak ingin abi sedih jika mengetahui aku terserang kanker otak."
"Tapi,abi jauh lebih sedih saat ini karena abi tak bisa mendampingi
putri semata wayang abi dalam menghadapi ujian yg berat ini dan abi baru
mengetahui kau menderita kanker setelah stadium 3.Sungguh...,abi
merasa gagal menjadi orang tua karena tak mengetahui hal2 yg terjadi
pada anaknya."
"Abi tak boleh berpikiran seperti itu semua ini bukan salah abi,aku
yg tidak ingin memberitahukannya kepada abi lantaran tak ingin orang
tua yg amat kusayangi menjadi khawatir dan sedih karena mengetahui
putri semata wayangnya mengindap kanker otak stadium 3.Maafkan
aku,abi.Maafkan pula diriku karena batalnya keberangkatan studiku ke
Amerika lantaran tak lulus dalam tes kesehatan ini.Aku pasti telah
membuat abi kecewa,maafkan aku."
"Jangan pikirkan hal ini,kesehatanmu lebih utama,lagi pula selama
ini kau tak pernah mengecewakan abi.Sekarang,ceritakan pada abi kapan
kau terdiagnosa kanker otak?"
Akhirnya,aku mulai menceritakan semuanya kepada abi,tak ada lagi yg
kututupi,kuungkapkan semua rasa takutku akan penyakit ini yg makin hari
makin ganas.Sampai akhirnya hati ini sedikit lebih lega,beban dalam
jiwa ini sedikit berkurang.
Setelah usai bercerita,abi memberiku banyak sekali nasihat yg
sungguh berharga.Aku mulai bangkit dan mulai bersemangat melawan
sakitku,aku tak mau terbunuh oleh rasa sakitku,bukankah sabar dan
ikhtiar itu lebih baik dibandingkan merenung meratapi nasib diri.Aku
harus semangat menjalani hidup ini.
***
Setelah berlalunya hari itu,hari dimana aku mendapat banyak
pencerahan lewat nasihat abi,aku jadi semakin bersemangat menjalani
hidup,aku bahkan telah melupakan bahwa tumor adalah penyakit yg
ganas,kini aku menganggapnya sebagai penyakit biasa layaknya batuk dan
flu biasa,tentunya ikhtiar yg kulakukan juga bertambah,doa yg
kupanjatkan juga semakin khusyuk,aku yakin harapan untukku masih ada.
Entah mengapa,sinar mentari pagi ini indah sekali tak seperti
biasanya halus merasuki jiwa setiap manusia,rasa hangatlah yg
diberikannya bukan rasa panas yg menyengat kulit.Burung2 pun menari
dihadapanku,beterbangan kesana kemari hinggap dari satu pohon ke pohon
lainnya bahkan beberapa ada yg menikmati kebebasannya dg terbang
mengelilingi kediamanku tanpa hinggap pada sebatang dahan
pun.Subhanallah...,pagi yg indah.
Kumulai melangkahkan kakiku ke dapur membuatkan segelas susu dan
roti bakar untuk abi.Tak perlu waktu lama untuk membuatnya hanya 15
menit saja.Kurapihkan meja makan dan kuhidangkan roti dan susu serapi
mungkin.Seperti biasanya,abi telah terjaga dari lelapnya dan tengah
membaca beberapa lembar koran.
"Abi...,mari makan dulu,Nida telah siapkan semuanya."
Abi langsung memandangku dan melipat serta meletakkan koran tersebut diatas meja.
"Nak...,mulai sekarang kau tak boleh lagi merasa lelah,kau tak perlu
lagi membuatkan sarapan pagi untuk abi.Abi takut hal ini akan
memperburuk kondisi kesehatanmu."
"Abi...,aku tak apa2,izinkanlah aku memberikan yg terbaik untuk abi
sebelum aku pergi menghadap Ilahi,agar bisa tersenyum nanti saat Allah
menanyakan amalan2 ku selama di dunia.Kini,aku mulai merasakan
berharganya detik demi detik yg aku alami karena aku tak pernah tahu
apa detik berikutnya aku masih dapat melihat abi atau tidak."
"Nak...,janganlah bicara seperti itu,ingatlah semua energi yg
dipancarkan oleh alam sekitar akan berbanding lurus dg apa yg kau
pikirkan maka berpikirlah positif selalu dan percayalah bahwa
pertolongan Allah pasti tiba."
Aku tersenyum mencairkan suasana,menghela napas panjang seraya
berdoa semoga yg dikatakan abi memang doa tulus untuk diriku bukan
hanya sekedar menghiburku saja.Akhirnya kami langkahkan kaki menuju
meja makan.
"Harum sekali aroma rotinya,kau yg membuatnya?"
"Tentu saja,kedua tanganku ini yg membuatnya."
Kulihat senyum pun mulai terpancar dari sosok tua yg ada
dihadapanku,kuperlihatkan lekat2 sosok itu.Aku sayang abi,tak ingin aku
meninggalkannya,enah mengapa abi selalu memujiku saat ini tepatnya saat
mengetahui bahwa diriku menderita kanker otak stadium 3.
"Nida...,kau melamun?"
Kata2 abi membuyarkan lamunanku.
"Tidak,aku tidak melamun," tukasku kepada abi.
"Ya,abi percaya.Nak...,sebenarnya niat kedatangan abi kemari adalah untuk mengajakmu kesuatu tempat."
"Suatu tempat? Kemana itu,Bi?"
"Suatu tempat yg amat indah,disana kau bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan yg tak terkira."
Aku semakin penasaran,sebenarnya tempat apa yg ingin abi tunjukkan kepadaku.
"Apa nama tempat itu,abi? Aku penasaran seindah apa tempat yg abi ceritakan itu?"
"Abi akan mengajakmu ke Makkah dan Madinah..."
Mendengar kata Madinah ada getaran halus yg merasuki jiwa ini,entah
mengapa aku mulai mengingat,ada apa dg Madinah sepertinya aku memiliki
hubungan erat sekali dg Madinah.
"Abi akan mengajakku umrah?"
"Ya,betul sekali Nak.Alhamdulillah Allah memberikan rezeki yg lebih kepada abi."
"Alhamdulillah,akhirnya Allah memanggil kita untuk menyempurnakan
ibadah kepada Nya,aku bahagia sekali.Baiklah...,aku akan mempersiapkan
semua kebutuhan yg harus kita bawa."
"Kau tak perlu repot,Abi telah mempersiapkan semuanya kita tinggal berangkat saja..."
"Benarkah? Terima kasih,abi."
Langsung kupeluk abiku sambil berlinangan air mata.Terima kasih,ya Rabb.
"Kapan kita berangkat?"
"Tak lama lagi.Lusa kita berangkat,abi telah lama mempersiapkan hal
ini dan sengaja tak memberitahukanmu atas semua ini karena abi ingin
memberikan sebuah kejutan untuk dirimu.
"Sekali lagi,Nida ucapkan terima kasih banyak pada abi."
***
Aku pikir kondisiku bisa jadi lebih baik dg hadirnya abi disisiku
tapi ternyata tidak.Bebanku semakin berat karena harus melihat sosok
ayah yg telah kukecewakan berulang kali yg telah kubiarkan menangis
berulang kali,demi Allah aku tak tega.Aku yakin jika ummi masih ada aku
pasti telah menyayat hatinya karena gagalnya impianku untuk
melanjutkan studi di Amerika,walaupun ini semua karena penyakit yg aku
derita.Ya Rahman,setiap kali memandang wajah abi,hati ini perih,rasanya
ingin sekali aku meninggalkan abi dalam keadaan bahagia tapi apa daya
apakah jiwa ini masih mampu untuk menopang sebuah mimpi dan cita2
sementara disetiap detiknya hanya kekecewaan saja yg aku berikan kepada
ummi dan abi.
Air mataku terus mengalir tanpa henti bahkan semakin deras.Jika ini
adalah tanda maafku kepada abi,aku yakin sampai mataku kering belum
tertebus semua kesalahanku ini.
Rabbi...,mengapa ujian terus datang bertubi-tubi padaku sedikit
menghela napas akan permasalahan gagalnya pernikahanku kini aku
dihadapkan lagi pada sebuah permasalahan yg begitu besar,berat dan
telah membuat separuh dari ruhku hilang hingga aku tinggal menunggu
waktu kapan separuhnya lagi meninggalkan jasad titipan Allah ini.
Jiwa ini semakin tak tenteram,tak tenang,gelisah,takut,khawatir.Aku
tak tahu lagi kata apa yg harus kuucapkan untuk mengungkapkan kondisi
hatiku saat ini semuanya terasa sia-sia walaupun senyum selalu abi
berikan kepadaku tapi aku tahu bahwa dalam lubuk hatinya yg terdalam
pasti kesedihan yg teramat sangat selalu mengganggu pikirannya.Harus dg
apa aku menebus ini semua?
Hati ini semakin kelam,tenggelam dalam rasa bersalahku.
BERSAMBUNG... (Bag 31 of 36)
Senin, 07 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar