Account

gelembung

cursor

Senin, 07 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 30 of 36)

♥ MAAFKAN AKU,ABI... ♥ (Bag 30)

Sesampainya kembali di rumah...
Aneh...,mengapa pintu rumahku terbuka,padahal seingatku aku telah menutup dan mengunci pintu rumah dg baik.Mengapa ada yg membukanya dan seingatku pula hanya abi yg memiliki duplikat kunci rumah ini tapi apakah mungkin abi bertandang ke sini,mengapa tak memberitahu aku sebelumnya ataukah mungkin itu adalah sekawanan orang yg hendak bermaksud jahat terhadapku? Aku harus memastikan siapa yg berada didalam.

Kulangkahkan kakiku perlahan-lahan,mengendap,aku takut seseorang didalam sana mengetahui bahwa aku sudah tiba.Kutelusuri ruang tamu,ruang tengah dan kamarku tapi tak ada seorang pun disini,aneh.Tiba2 sebuah tangan menyentuh pundakku,tak berani kutolehkan wajahku ke arah orang yg menyentuh pundakku.

"Siapa anda? Mengapa masuk kediamanku tanpa seizinku?"

Aku berbicara tanpa memutar tubuhku sedikitpun dan aku yakin orang tersebut masih ada dibelakangku.

"Nida...,ini Abi,Nak...."
Dengan segera aku memutar tubuhku.

"Astaghfirullah Abi,jantungku hampir berhenti berdetak,kenapa Abi tiba? Mengapa tak memberitahuku terlebih dahulu kan aku bisa menjemput abi dibandara."

"Tak apa,abi tak ingin merepotkanmu..."

"Abi duduk saja dulu,kubuatkan minum abi pasti lelah sekali."

Sambil melangkah ke dapur aku mulai berpikir keras memikirkan sebuah jawaban apabila abi menanyakan perihal keberangkatanku ke Amerika,dan... Astaghfirullah aku baru ingat bahwa surat yg diantar tadi pagi masih kuletakkan diatas meja dekat ruang tamu,aku yakin abi pasti duduk disitu.Ya Rabb,jangan biarkan abi membaca surat itu.

Secepat mungkin aku berjalan dg membawa segelas teh ditanganku yg hampir saja tumpah karena terlalu cepatnya aku melangkah.Sesampainya dihadapan abi,gelas yg kupegang tak sengaja jatuh dan pecah berkeping-keping dilantai.Aku terkejut sekali karena ternyata abi tengah membaca isi surat tersebut,aku mulai kalut dan bingung dan dari raut wajah abi aku tahu pasti dalam surat tersebut berita buruklah yg tertulis.

"Abi..."

Aku berlutut didepan abi karena tak tahu harus berbuat apa.

Kemudian abi menyuruhku berdiri dan duduk disampingnya.Kulihat mata abi berkaca-kaca,aku tak tahu abi pasti telah mengetahui bahwa ternyata aku seorang pengindap kanker stadium 3,ya Allah.

"Nak...,mengapa kau tak pernah menceritakan masalah ini kepada Abi? Apa kau tak percaya pada Abi? Sungguh...,abi sangat terpukul mengetahui berita ini."

"Aku tak bermaksud seperti itu,aku hanya tak ingin abi sedih jika mengetahui aku terserang kanker otak."

"Tapi,abi jauh lebih sedih saat ini karena abi tak bisa mendampingi putri semata wayang abi dalam menghadapi ujian yg berat ini dan abi baru mengetahui kau menderita kanker setelah stadium 3.Sungguh...,abi merasa gagal menjadi orang tua karena tak mengetahui hal2 yg terjadi pada anaknya."

"Abi tak boleh berpikiran seperti itu semua ini bukan salah abi,aku yg tidak ingin memberitahukannya kepada abi lantaran tak ingin orang tua yg amat kusayangi menjadi khawatir dan sedih karena mengetahui putri semata wayangnya mengindap kanker otak stadium 3.Maafkan aku,abi.Maafkan pula diriku karena batalnya keberangkatan studiku ke Amerika lantaran tak lulus dalam tes kesehatan ini.Aku pasti telah membuat abi kecewa,maafkan aku."

"Jangan pikirkan hal ini,kesehatanmu lebih utama,lagi pula selama ini kau tak pernah mengecewakan abi.Sekarang,ceritakan pada abi kapan kau terdiagnosa kanker otak?"

Akhirnya,aku mulai menceritakan semuanya kepada abi,tak ada lagi yg kututupi,kuungkapkan semua rasa takutku akan penyakit ini yg makin hari makin ganas.Sampai akhirnya hati ini sedikit lebih lega,beban dalam jiwa ini sedikit berkurang.

Setelah usai bercerita,abi memberiku banyak sekali nasihat yg sungguh berharga.Aku mulai bangkit dan mulai bersemangat melawan sakitku,aku tak mau terbunuh oleh rasa sakitku,bukankah sabar dan ikhtiar itu lebih baik dibandingkan merenung meratapi nasib diri.Aku harus semangat menjalani hidup ini.

***

Setelah berlalunya hari itu,hari dimana aku mendapat banyak pencerahan lewat nasihat abi,aku jadi semakin bersemangat menjalani hidup,aku bahkan telah melupakan bahwa tumor adalah penyakit yg ganas,kini aku menganggapnya sebagai penyakit biasa layaknya batuk dan flu biasa,tentunya ikhtiar yg kulakukan juga bertambah,doa yg kupanjatkan juga semakin khusyuk,aku yakin harapan untukku masih ada.

Entah mengapa,sinar mentari pagi ini indah sekali tak seperti biasanya halus merasuki jiwa setiap manusia,rasa hangatlah yg diberikannya bukan rasa panas yg menyengat kulit.Burung2 pun menari dihadapanku,beterbangan kesana kemari hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya bahkan beberapa ada yg menikmati kebebasannya dg terbang mengelilingi kediamanku tanpa hinggap pada sebatang dahan pun.Subhanallah...,pagi yg indah.

Kumulai melangkahkan kakiku ke dapur membuatkan segelas susu dan roti bakar untuk abi.Tak perlu waktu lama untuk membuatnya hanya 15 menit saja.Kurapihkan meja makan dan kuhidangkan roti dan susu serapi mungkin.Seperti biasanya,abi telah terjaga dari lelapnya dan tengah membaca beberapa lembar koran.

"Abi...,mari makan dulu,Nida telah siapkan semuanya."

Abi langsung memandangku dan melipat serta meletakkan koran tersebut diatas meja.

"Nak...,mulai sekarang kau tak boleh lagi merasa lelah,kau tak perlu lagi membuatkan sarapan pagi untuk abi.Abi takut hal ini akan memperburuk kondisi kesehatanmu."

"Abi...,aku tak apa2,izinkanlah aku memberikan yg terbaik untuk abi sebelum aku pergi menghadap Ilahi,agar bisa tersenyum nanti saat Allah menanyakan amalan2 ku selama di dunia.Kini,aku mulai merasakan berharganya detik demi detik yg aku alami karena aku tak pernah tahu apa detik berikutnya aku masih dapat melihat abi atau tidak."

"Nak...,janganlah bicara seperti itu,ingatlah semua energi yg dipancarkan oleh alam sekitar akan berbanding lurus dg apa yg kau pikirkan maka berpikirlah positif selalu dan percayalah bahwa pertolongan Allah pasti tiba."

Aku tersenyum mencairkan suasana,menghela napas panjang seraya berdoa semoga yg dikatakan abi memang doa tulus untuk diriku bukan hanya sekedar menghiburku saja.Akhirnya kami langkahkan kaki menuju meja makan.

"Harum sekali aroma rotinya,kau yg membuatnya?"

"Tentu saja,kedua tanganku ini yg membuatnya."

Kulihat senyum pun mulai terpancar dari sosok tua yg ada dihadapanku,kuperlihatkan lekat2 sosok itu.Aku sayang abi,tak ingin aku meninggalkannya,enah mengapa abi selalu memujiku saat ini tepatnya saat mengetahui bahwa diriku menderita kanker otak stadium 3.

"Nida...,kau melamun?"

Kata2 abi membuyarkan lamunanku.

"Tidak,aku tidak melamun," tukasku kepada abi.

"Ya,abi percaya.Nak...,sebenarnya niat kedatangan abi kemari adalah untuk mengajakmu kesuatu tempat."

"Suatu tempat? Kemana itu,Bi?"

"Suatu tempat yg amat indah,disana kau bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan yg tak terkira."

Aku semakin penasaran,sebenarnya tempat apa yg ingin abi tunjukkan kepadaku.

"Apa nama tempat itu,abi? Aku penasaran seindah apa tempat yg abi ceritakan itu?"

"Abi akan mengajakmu ke Makkah dan Madinah..."

Mendengar kata Madinah ada getaran halus yg merasuki jiwa ini,entah mengapa aku mulai mengingat,ada apa dg Madinah sepertinya aku memiliki hubungan erat sekali dg Madinah.

"Abi akan mengajakku umrah?"

"Ya,betul sekali Nak.Alhamdulillah Allah memberikan rezeki yg lebih kepada abi."

"Alhamdulillah,akhirnya Allah memanggil kita untuk menyempurnakan ibadah kepada Nya,aku bahagia sekali.Baiklah...,aku akan mempersiapkan semua kebutuhan yg harus kita bawa."

"Kau tak perlu repot,Abi telah mempersiapkan semuanya kita tinggal berangkat saja..."

"Benarkah? Terima kasih,abi."

Langsung kupeluk abiku sambil berlinangan air mata.Terima kasih,ya Rabb.

"Kapan kita berangkat?"

"Tak lama lagi.Lusa kita berangkat,abi telah lama mempersiapkan hal ini dan sengaja tak memberitahukanmu atas semua ini karena abi ingin memberikan sebuah kejutan untuk dirimu.

"Sekali lagi,Nida ucapkan terima kasih banyak pada abi."

***

Aku pikir kondisiku bisa jadi lebih baik dg hadirnya abi disisiku tapi ternyata tidak.Bebanku semakin berat karena harus melihat sosok ayah yg telah kukecewakan berulang kali yg telah kubiarkan menangis berulang kali,demi Allah aku tak tega.Aku yakin jika ummi masih ada aku pasti telah menyayat hatinya karena gagalnya impianku untuk melanjutkan studi di Amerika,walaupun ini semua karena penyakit yg aku derita.Ya Rahman,setiap kali memandang wajah abi,hati ini perih,rasanya ingin sekali aku meninggalkan abi dalam keadaan bahagia tapi apa daya apakah jiwa ini masih mampu untuk menopang sebuah mimpi dan cita2 sementara disetiap detiknya hanya kekecewaan saja yg aku berikan kepada ummi dan abi.

Air mataku terus mengalir tanpa henti bahkan semakin deras.Jika ini adalah tanda maafku kepada abi,aku yakin sampai mataku kering belum tertebus semua kesalahanku ini.

Rabbi...,mengapa ujian terus datang bertubi-tubi padaku sedikit menghela napas akan permasalahan gagalnya pernikahanku kini aku dihadapkan lagi pada sebuah permasalahan yg begitu besar,berat dan telah membuat separuh dari ruhku hilang hingga aku tinggal menunggu waktu kapan separuhnya lagi meninggalkan jasad titipan Allah ini.

Jiwa ini semakin tak tenteram,tak tenang,gelisah,takut,khawatir.Aku tak tahu lagi kata apa yg harus kuucapkan untuk mengungkapkan kondisi hatiku saat ini semuanya terasa sia-sia walaupun senyum selalu abi berikan kepadaku tapi aku tahu bahwa dalam lubuk hatinya yg terdalam pasti kesedihan yg teramat sangat selalu mengganggu pikirannya.Harus dg apa aku menebus ini semua?

Hati ini semakin kelam,tenggelam dalam rasa bersalahku.

BERSAMBUNG... (Bag 31 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar