Account

gelembung

cursor

Selasa, 08 Oktober 2013

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI (Bag 17 of 36)

♥ AIR MATA SEBAGAI SAKSI HATI KEESOKAN HARINYA♥ (Bag 17 )

"Assalamu'alaikum..."


Ternyata abi dan keluarga Aisyah sudah datang? Termasuk suami Aisyah.Ya Aziz... Suaminya yg entah akan menjadi suamiku atau tidak.

"Wa'alaikum salam..." jawabku.

"Bagaimana keadaanmu,Aisyah?" tanya Aziz untuk pertama kalinya Aziz berbicara dg Aisyah tepat didepan mataku.Sakit sekali rasanya hati ini mendengarnya tapi tak kuasa aku berbuat apa pun.Aku hampir tak pernah membayangkan bahwa calon imam yg akan memimpin rumah tanggaku nanti ternyata sudah memiliki permaisuri dalam hatinya dan dia ada dihadapanku saat ini dan yg lebih menyakitkan lagi aku baru mengetahui hal ini 3 hari sebelum pernikahanku berlangsung.Ya Rahman...,aku tahu aku diberi cobaan ini karena Engkau mengasihiku.Ya Rahim...,aku percaya,aku diberi cobaan ini karena Engkau menyayangiku sebagai hamba Mu.Kuatkan hamba,ya Rabb.Air mataku tak bisa kubendung lagi...

"Permisi,aku izin ketoilet sebentar." ucapku pada semuanya.

"Ya,silahkan." jawab Aziz.

Aku berlari,berlari sejauh mungkin menjauhi ruangan dimana Aisyah dirawat karena aku tak ingin seorang pun melihat linangan air mata yg mengalir dari pipiku.Aku terhenti di mushala rumah sakit,kuambil wudhu.Subhanallah...,sejuk sekali air ini,tolong sejukkan dan ikhlaskan hatiku,Ya Rabb akan semua kejadian ini.Kudirikan shalat istikharah sebanyak yg kubisa,kucoba terus mencari sebuah jawaban akan rumitnya masalahku ini,kudirikan shalat diserambi masjid sebelah kanan.Seusai shalat kusungkurkan dan kutundukkan wajahku terbayang kembali semua cerita yg Aisyah tuturkan kepadaku,terbayang didepan mataku akan rencana pernikahanku yg entah akan terjadi ataukah tidak.

"Assalamu'alaikum,Nida..."

Ah...,suara siapakah itu sepertinya aku mengenalnya dg ragu aku terbangun dari sujud panjangku.

"Wa'alaikum salam..."

Ternyata abi dan siapa yg berdiri dibelakangnya...? Kutatap terus sosoknya dan ternyata... Itu adalah Aziz segera kuhapus air mataku...

"Apa yg kulakukan disini,Nak?" tanya abi kepadaku.


"Tidak abi...,aku sedang shalat dan berdoa untuk kesembuhan Aisyah."

''Nida...,abi adalah ayahmu,abi tahu tentang dirimu,abi paham mengapa kau berada disini oleh karena itu abi langsung menghampirimu ke sini."

"Na'am,abi... Aku hanya menenangkan diriku."

"Iya,abi mengerti perasaanmu.Abi paham dg kondisi yg kau rasakan sekarang.Sekarang abi ingin berbicara kepadaku.Kini kau telah mengetahui apa yg sebenarnya terjadi dan kini kau juga telah mengetahui alasan abi dan semua keluarga Aziz tak pernah menjawab semua pertanyaanmu tentang Aisyah karena sebenarnya Aisyah adalah istri sah dari seorang pria yg akan kau jadikan imam bagi kehidupanmu nanti,abi harap kau bisa menerima kenyataan ini walaupun abi tahu ini adalah kenyataan yg pahit."

"Maafkan aku Nida,yg telah menyakiti hati dan perasaanmu sebelum engkau sah menjadi istriku," ucap Aziz.

"Tak apa Aziz,ini bukan sepenuhnya kesalahanmu."

"Sungguh,kau memang wanita yg berhati mulia," ucap Aziz lagi.

Pujian yg keluar dari lisan Aziz tak sedikit pun membuat diriku bahagia bahkan hatiku makin perih mendengar tutur katanya.Ya Allah,dahulu aku sempat kehilangan Azhar,apakah kini aku harus kehilangan sosok sebaik Aziz yg kuharapkan dia menjadi pembimbing kehidupanku hingga aku sampai kepada Dzat Mu yg maha suci tapi kini aku mulai bisa menerima semua kenyataan yg ada,aku harus tegas untuk menentukan pilihan hidupku.Kuhapus air mataku yg berlinang dipipiku.

''Abi...,boleh aku bicara?"

"Silahkan,Nak.Katakanlah...,apa yg akan kau bicarakan."

"Tapi,aku ingin bukan hanya abi dan Aziz saja yg mendengarkan kata2 yg akan kuucapkan ini,aku ingin semuanya mendengar keputusanku,termasuk Aisyah."

"Apa yg akan kau katakan Shabrina?" tanya Aziz.


"Afwan Aziz,kau bisa mengetahuinya nanti saat aku katakan keputusan yg kubuat kepada semuanya."

"Boleh aku mengetahuinya sekarang karena aku sungguh khawatir dg keadaan Aisyah,aku takut hal buruk akan terjadi pada kesehatannya saat mendengar keputusan yg engkau buat."


Ya Allah...,perih sekali,calon suamiku membela wanita lain dan itu bukan aku,ingin kuteteskan kembali air mata yg sudah susah payah kuhapus.Apalagi yg harus aku lakukan ini.Ya Allah,tolong kuatkan aku jangan biarkan kelemahan ini terus berpijak dalam hatiku,izinkan aku memerima semua takdir yg telah Engkau tetapkan bagi kehidupanku.

"Aziz...,insya Allah kata2 ku tak akan menyakiti hati Aisyah jadi kau tak perlu khawatir."

"Baiklah Nida,terima kasih."

Kami bertiga berjalan melewati bangsal2 rumah sakit kami berlalu diantara para pasien dan petugas kesehatan lainnya.Kurasakan perjalanan ini sangat jauh sekali walaupun aku yakin ini tak lebih dari 1 km,perjalanan kami penuh dg kebisuan tak ada cakap kata yg terucap hingga akhirnya tibalah didepan kamar Aisyah.Kuucapkan salamku kepada Aisyah.

"Assalamu'alaikum Aisyah,bagaimana keadaanmu?"

"Alhamdulillah,sudah lebih baik,Nida."

Tersenyum... Ya...,Aisyah tersenyum kepadaku tak seperti biasanya sebelumnya tak pernah kulihat senyum Aisyah setulus itu kepadaku.Aku heran dan tak menyangka sama sekali mungkin karena semua rahasia yg telah dia pendam selama ini telah dia katakan semuanya tapi bagaimana dg aku? Siapa yg mengerti keadaanku? Kapan senyumku akan kembali seperti sedia kala?

"Nida,mengapa kau termenung saja? Kau sedang ada masalah?"

Rabbi...,mengapa Aisyah bertanya seperti itu jelas saja wajahku merasakan kesedihan karena tak kusangka kebahagiaanku seakan sirna dalam sekejap,tolong beri aku kesabaran,ya Rabb.

"Oh... Tidak,tak ada masalah apa pun Aisyah...,ada yg ingin kukatakan kepadamu.Sebenarnya tak hanya dg mu tapi dg semua yg ada disini,aku ingin memberitahukan keputusanku."

"Keputusan apa,Nida?" tanya bibi Fatimah.

"Aku yakin,semua yg hadir disini menyimpan sebuah rahasia besar yg tak kuketahui tapi ketahuilah kini aku telah mengetahui semuanya aku telah menemukan jawaban atas pertanyaanku dahulu dan kali ini aku ingin semuanya yg berada disini mengetahui keputusan akhirku yg tak bisa kuubah lagi,kubuat keputusan ini dg istikharahku dan petunjuk dari Allah.Bibi Fatimah,paman Ahmad,Naila dan semuanya yg berada disini aku telah mengetahui bahwa sebenarnya Aziz seseorang yg beberapa hari lagi akan menikah dg ku ternyata beliau adalah suami sah dari Aisyah."

Aku melihat semua mata terbelalak mendengar penuturanku dan aku pun sama tangisku pecah tak kuasa kubendung lagi air mata ini.

"Sudah Nida...,jangan bicara seperti itu," jawab Aisyah.

"Tidak Aisyah,ini adalah kenyataan yg harus kuterima dan ini merupakan salah satu hal yg harus kuungkapkan,tolong izinkan aku selesai berbicara."

"Baiklah..."

"Awalnya,aku memang sangat terpukul mendengar kabar itu.Dahulu,aku sempat kehilangan sesosok insan yg sangat shalih,Azhar namanya tapi mungkin Allah belum mengizinkan aku menikah dg dirinya dan pada saat itu aku sangat berharap dalam doa dan sujud panjang tahajudku untuk dapat dipertemukan dg jodohku yg telah Allah persiapkan dan terus terang saat aku bertemu dg Aziz aku merasa bahagia,Aziz insan yg baik sama seperti Azhar tapi sayangnya aku harus mengalami kejadian seperti ini dan engkau Aisyah kau sangat cocok menjadi pendamping hidug bagi Aziz.Aziz sangat mencintaimu,dia amat menyayangimu kau beruntung memiliki imam hidup seperti dia."

"Tapi kau juga akan menjadi istrinya dan kita berdua akan bersama-sama membangun surga dirumah kita.Aku yakin,Aziz adalah imam yg adil bagi kehidupan rumah tangga kita," ucap Aisyah

"Tidak Aisyah...,aku tahu bagaimana perasaanmu,aku tahu perihnya hatimu,aku mengerti betapa beratnya dirimu menerima keputusan ini.Aku sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dg Aziz,aku sudah memikirkan hal ini dg matang.Semua biaya pernikahan yg telah disiapkan akan kusumbangkan untuk orang2 yg membutuhkan."

"Nak...,apa yg kau lakukan?" tanya abi.

"Maafkan aku,tapi aku tak ingin melihat air mata kesedihan bercucuran dalam pernikahanku nanti,aku tak ingin tersenyum sementara Aisyah menangis di kamar aku bisa merasakan ini semua,abi.Aku mohon,tolong terimalah keputusanku aku menginginkan sebuah kebahagiaan abadi antara aku dan suamiku,serta semua orang yg menyaksikan pernikahanku.Aku tak rela jika kebahagiaan itu harus ternoda dg sebuah air mata kesedihan."

"Baiklah,Nak... Abi mengerti."

Ya Allah... Air mata abi mengalir,ampuni aku yg telah mengecewakan abi,ampuni aku yg telah membuat orang tuaku menangis,ampuni aku,ya Rabb.

"Abi..."

Aku mendekat kearahnya,kupeluk tubuhnya yg kini sudah sangat renta dan air matanya menetes dijilbabku,bahkan isak tangis abi terdengar ditelingaku,kemudian abi menatap mataku.

"Nak...,maafkan abi.Abi tak bisa memilihkan pendamping hidup untukmu,maafkan abi yg mengecewakanmu,maafkan abi yg tak bisa mengerti apa yg kau rasakan,Nak.Seharusnya abi mengatakan dari awal bahwa sebenarnya Aziz telah memiliki seorang istri.Abi menyesal,Nak.Maafkan,Abi."

Ya Rahman,ya Rahim ini bukan salah abi...

"Tidak abi,ini salahku,ini bukan salah abi.Aku mengerti bahwa abi akan selalu berusaha melindungiku tapi aku yg selalu mengecewakan abi tapi aku tak bisa merubah keputusanku,aku sudah menetapkan hal ini,aku harap abi bisa mengerti."

"Abi mengerti dan abi selalu yakin pangeran yg Allah siapkan untukmu akan hadir diwaktu yg tepat.Jangan bersedih Nak,Allah selalu bersama kita."

"Na'am Abi...,terima kasih banyak aku sangat menyayangi Abi."


Keesokan harinya,tepatnya sehari sebelum pernikahanku yg gagal aku sempat menginap dirumah Farah,salah satu temanku di Belanda yg berasal dari Indonesia dan keesokan harinya kuberanikan diriku untuk pulang kerumah.Kulihat kediamanku di Belanda dari kejauhan tampak sangat ramai sekali ternyata abi dan seluruh keluarga Aziz termasuk Aisyah membuat acara dg mengundang seluruh anak yatim dan para fakir miskin serta dhu'afa dikediamanku untuk membagikan segala keperluan pernikahanku yg sekiranya bermanfaat bagi mereka.Ya Allah...,ya Karim...,sesungguhnya hati ini perih,seharusnya semua perlengkapan itu akan kugunakan esok dihari pernikahanku tapi kini aku melihat bahwa harapan itu pupus didepan mataku.


Suara handphoneku membuyarkan lamunanku dan menghentikan tangisku.Kulihat,dan ternyata Najmi yg menghubungiku.

"Assalamu'alaikum Nida,apa kabar? Aku yakin kau pasti sangat bahagia,sebentar lagi kau akan menikah dg Aziz,kuucapkan selamat kepadamu,selamat menempuh hidup baru,jadikan pernikahanmu sebagai ladang amalmu,jadikan rumahmu sebagai surga yg penuh dg keharmonisan rumah tangga dg diselimuti oleh cinta Ilahi.Sekarang aku sedang berada dibandara,aku menuju ke Belanda sekarang,maafkan aku baru datang hari ini karena ada beberapa tugas yg harus kuselesaikan terlebih dahulu."

Aku hanya terdiam,berusaha menahan tangisku,aku lupa bahwa aku belum memberitahukan Najmi bahwa pernikahanku telah gagal.

"Halo Nida...,kau mendengarku?"

Tak berani kukeluarkan seucap kata pun.Aku tak ingin sahabatku mengetahui bahwa aku tengah bersedih bahwa sebenarnya hatiku hancur sekali.

"Nida...,ada apa dg mu?"

"Wa'alaikum salam,maaf aku belum menjawab salammu."

"Apa yg terjadi dg dirimu?"

"Tidak,aku tak apa2," ucapku kepada Najmi.

"Lalu,mengapa kau lebih sering terdiam? Seakan kau tak mendengarkan ucapanku,apa kau sedang ada masalah? Ceritakan kepadaku."

"Tidak,tak ada masalah apa pun yg menimpaku,aku baik2 saja."

"Tapi kau tampak berbeda,aku ini sahabatmu,aku mengetahui tingkah lakumu,aku paham karaktermu.Tolonglah,aku hanya ingin membantu menyelesaikan permasalahanmu."

"Pernikahanku..."

Tak kuasa kulanjutkan kata2 ku,hingga akhirnya Najmi pun bisa mendengar isak tangisku.

"Nida...,kau menangis?"

"Pernikahanku batal,kau tak perlu pergi ke Belanda."

"Apa? Kau jangan mempermainkan sebuah acara yg sangat sakral,apa maksudmu pernikahanmu gagal?"

"Ceritanya panjang,sangat panjang tapi yg jelas pernikahanku batal karena sebenarnya Aziz telah memiliki seorang istri yg bernama Aisyah,seorang istri sah yg mungkin sangat dia cintai,aku baru mengetahui 3 hari yg lalu,aku tak kuasa menerima kenyataan ini.Aku yakin,Aisyah pasti sangat sedih dan tak rela harus membagi kasih dan cinta suaminya dg diriku,aku ingin tak ada seorang pun yg bersedih saat pernikahanku nanti,aku tak rela kebahagiaanku diwarnai dg air mata,tak ingin kurasakan kebahagiaan diatas penderitaan Aisyah,hingga akhirnya kuputuskan untuk membatalkan pernikahanku."

"Inna lillahi... Ya Rabb,aku harap kau bersabar.Sungguh,Allah tak akan menguji hamba Nya diluar batas kemampuan hamba Nya.''

"Betul Najmi,meski pikiranku penat,mataku lelah untuk menangis namun hatiku tetap terilhami bahwa ini adalah ujian Allah yg harus kulewati."

"Nida... Tenanglah,kau tahu semakin berat perjuanganmu untuk bertemu dg jodohmu,semakin baik pula pendamping hidup yg akan kau dapatkan,yakinlah bahwa kau akan mendapatkan imam hidup yg lebih baik dari Azhar dan lebih shalih dari Aziz."

"Aamiin...,terima kasih atas doamu.Aku yakin,Allah mencintaiku juga mencintai dirimu."

"Tentu saja,sekarang hapus air matamu jangan lagi kau menangis,kau harus kuat dan percaya segala alur hidup yg kita jalani telah ditentukan oleh Nya dan itu pasti yg terbaik."

"Insya Allah,aku ikhlas menerima semuanya.Terima kasih,Najmi."

"Sama2,baiklah jika kau membutuhkan teman untuk mendengarkan seluruh keluh kesah yg kau rasakan hubungi aku kapan pun kau mau,aku siap jadi sahabatmu."

"Syukron,Najmi."

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam..."

Usai kututup telepon Najmi,kuberanikan diri untuk melangkah perlahan menuju kediamanku,kutenangkan diriku dan menata hatiku.Sesampainya didepan rumah...

"Nak..." kudengar suara abi menyapaku.

"Abi..."

"Dari mana kau? Mengapa semalam tak kembali kerumah? Abi mengkhawatirkanmu,abi takut ada hal buruk yg terjadi padamu,kau baik2 saja?"

"Aku baik2 saja.Maafkan aku,aku tak bermaksud membuat abi khawatir,aku hanya perlu menenangkan diriku,aku ingin berpikir sejenak,aku ingin menghilangkan semua pikiran buruk dihatiku,aku tak ingin hidup dg air mata yg terus mengalir oleh karena itu kuputuskan untuk menenangkan diriku sejenak."

"Baiklah,abi mengerti,sekarang masuklah keluarga Aziz ingin bertemu dg mu,mereka ingin berpamitan kepadamu."

"Baiklah..."


Kutundukan wajahku,tak berani kutatap semua yg hadir disitu...

"Nida...,bagaimana keadaanmu?" tanya bibi Fatimah kepadaku.

"Aku baik2 saja..."

"Kau sakit?" paman Ahmad pun menanyakan kondisiku.

"Tidak..."

Entah mengapa,lidah ini kelu tuk bicara...

"Nida...,boleh aku berbicara kepadamu?" pinta Aziz.

"Silahkan...," jawabku dg singkat.

"Maafkan aku Nida...,aku tahu aku telah menyakiti hati dan perasaanmu,aku telah menyakiti hati wanita sebelum ia sah menjadi istriku,sungguh aku tak mengharapkan kejadian ini bisa terjadi,tak ada sedikit pun niat dihatiku untuk membuatmu menangis.Kuhargai keputusanmu,kau adalah wanita shalihah yg kan bersinar sebagai perhiasan terindah didunia,aku yakin kau kan dapatkan pendamping hidup yg amat baik menurut Allah."

"Aku juga meminta maaf kepadamu,aku telah mengambil keputusan sepihak,aku membatalkan pernikahan ini tanpa meminta persetujuanmu,aku harap kau mengerti kondisiku."


"Aku mengerti Nida,sangat mengerti... Aku pun tak kuasa berbuat apa pun karena itu adalah hakmu untuk menikah dg ku atau tidak tapi aku bahagia bisa mengenal wanita sepertimu,aku pun bahagia bisa mengenal keluargamu yg sungguh berbudi luhur.Perlu kuberitahukan kepadamu,aku sudah mengurus semuanya,katering yg telah dipesan telah kukirimkan ke fakir miskin dan anak2 yatim,aku pun telah mengurus yg lainnya."

"Terima kasih Aziz,maaf aku tak bisa membantumu..."

"Tidak apa2,Nida."

"Nida..." Aisyah menyapaku "Bukan maksudku untuk menggagalkan rencana pernikahanmu dg suamiku."

"Apa? Aisyah bilang bahwa Aziz adalah suaminya.Ya Rahman,ini sungguh mengiris hatiku,seharusnya dia adalah calon suamiku.Ya Karim,tolong bendung air mataku jangan biarkan ia memecah.

"Aku mengerti kondisimu,pasti sangat berat jika harus berbagi bersama orang lain apalagi berbagi cinta dan kasih sayang seorang suami yg amat kau cintai."

"Aku merasa bersalah padamu Nida,aku telah menghancurkan hatimu."

"Sudahlah Aisyah...,Allah yg memberikan ujian ini kepadaku,Allah yg telah menentukan setiap skenario kehidupanku dan aku yakin Allah


pulalah yg akan memberikan penawar dari sakitku,doakan aku agar dapat seorang pendamping hidup yg terbaik."

"Aamiin...,aku pasti berdoa untukmu.Nida...,aku pamit untuk kembali ke Kufah ada beberapa hal yg harus kami kerjakan."

"Baiklah,semoga selamat sampai tujuan."

Kuantarkan keluarga Aziz hingga halaman rumah.Tak berapa lama,sebuah taksi datang untuk mengantarkan mereka menuju bandara.Ya Allah,mengapa hati ini berat sekali melepaskan Aziz pergi,apakah hamba telah mencintainya,apakah hamba telah mengharapkannya tapi mengapa perasaan ini muncul setelah kejadian itu terjadi,setelah aku tahu bahwa Aisyah adalah istri sahnya,ya Allah...

"Nak...,kau sedih akan kepergian dia?"

"Dia siapa,Bi?"

"Abi yakin kau mengerti maksud Abi.Apa kau sedih akan kepergian Aziz?"

"Sejujurnya memang begitu tapi,aku tak berhak bersedih untuknya,aku tak berhak menangis untuk dirinya karena dia belum halal untuk diriku."

"Bersabarlah Nak,kau harus percaya setelah gemuruh yg hebat kam muncul hujan yg deras tapi kau tak perlu khawatir sebab usai hujan tiba pelangi nan indah akan muncul membahagiakan dirimu,yakinlah itu,Nak.Inni tawakkaltu'alal hayyil ladzii la yamuut,walaa haula walaa quwwata illa billaahil aliyyil adziim.Sesungguhnya,hanya kepada Allah lah tempat kita berserah diri kepada yg maha hidup yg tiada pernah mati.Tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah yg maha tinggi dan maha agung.Asaa rabbunaa ayyubdilanaa khairamminha,inna ila rabbinaa raaghibuun.Mudaha-mudahan,Allah memberikan ganti kepadamu dg pengganti yg jauh lebih baik dari darinya.Sesungguhnya kita semua mengharapkan ampunan dari Allah."

"Terima kasih,abi... Doa tadi dapat menenteramkan jiwaku,aku malu tak tegar hadapi ini semua."

"Tidak,Nak.Tetesan air mata yg jatuh dari mata seseorang hingga akhirnya mengalir ke pipinya itu bukan menandakan kelemahannya dalam menghadapi cobaan yg sedang Allah berikan kepadamu.Kau harus yakin,janganlah kau merasa ragu atas keputusan Nya.Ingatlah,sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah,maka janganlah sekali-kali kau merasakan keraguan."

"Na'am,abi... Aku percaya bahwasanya Allah Azza wa Jalla takkan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba Nya,aku harus semangat dalam menjalani hidup.Terima kasih,Abi."

"Nak...,tak perlu kau ucapkan terima kasih kepada abi,sudah kewajiban abi sebagai orang tua memberikan nasihat kepada putrinya."

BERSAMBUNG.. (Bag 18of 36)

0 komentar:

Posting Komentar