♥ PENGUNGKAPAN SEBUAH RAHASIA YG TERSINGKAP LAMA ♥ (Bag 16)
Seusai shalat isya,dokter yg memeriksa Aisyah tiba,beliau memeriksa keadaan Aisyah dan menyampaikan kepadaku bahwa kondisi Aisyah mulai berangsur-angsur membaik,semoga Aisyah segera sadar.
Aku membaca Al Quran.Aku yakin dg bacaan kalam Ilahi ini,pertolongan Allah akan hadir dan tak berapa lama jemari Aisyah bergerak.Ya Allah,Alhamdulillah...
"Aisyah...,Aisyah...,kau dengar aku?"
Aisyah tak menjawab.Tapi,kini matanya mulai terbuka secara perlahan-lahan.Ya Allah,terima kasih.
"Aisyah...,kau sudah sadar..."
"Nida,dimana aku?"
"Kau dirumah sakit Aisyah.Sudahlah...,kau jangan banyak berbicara dulu kondisimu masih sangat lemah sebaiknya kau beristirahat saja dulu."
"Terima kasih,Nida."
"Aisyah...,aku izin keluar sebentar ada beberapa keperluan yg harus kubeli,sebentar lagi aku kembali."
Aku membeli roti dan beberapa air mineral ternyata maagku mulai kambuh karena sejak pagi tadi aku tak makan apapun dan setelah itu aku bergegas kembali kekamar Aisyah lagi.Kulihat keadaannya,dia tertidur,pasti kondisinya masih sangat lemah ketika aku memalingkan wajahku,terdengar suara memanggilku.
"Nida..."
"Iya Aisyah,ada apa?"
"Kau butuh sesuatu? Katakanlah kepadaku,biar aku yg mengambilkan."
"Boleh aku berbicara dg mu?"
"Tentu saja boleh,tapi tidak sekarang kau harus banyak istirahat supaya kondisimu cepat pulih kembali."
"Tidak Nida,aku harus menyampaikannya sekarang."
"Tapi Aisyah,kau harus..."
"Aku mohon,kau harus mengetahui yg sebenarnya terjadi..."
"Baiklah,apa yg ingin kau bicarakan?"
"Sebelumnya,aku ingin meminta maaf kepadamu,Nida..."
Suara Aisyah masih terbata-bata,aku tak tega mendengarnya.
"Minta maaf untuk apa,Aisyah?"
"Untuk semua kesalahanku,aku yg selalu bersikap dingin kepadamu,aku yg selalu sinis kepadamu,tapi sungguh Nida,itu semua kulakukan bukan karena aku membencimu.Itu ekspresi dan luapan emosi yg tak bisa kukendalikan.Sebenarnya,aku juga tak ingin bersikap seperti ini kepadamu karena bagaimanapun nanti kita juga akan memiliki imam yg sama."
"Imam? Imam yg sama? Apa maksudmu? Sungguh,aku tak mengerti sama sekali."
"Jadi,abimu tak menceritakan sedikitpun tentang ini kepadamu?"
"Menceritakan apa? Aku memang pernah bertanya tentang identitasmu kepada abi dan bibi Fatimah tapi mereka semua tak menjawab sepatah kata pun."
"Baiklah...,sepertinya aku harus menjelaskannya terlebih dahulu.Sekitar 5 tahun yg lalu,aku bertemu dg jodohku.Dia mengkhitbahku dan akhirnya kami menikah pada awalnya keluarga kecilku sangat bahagia kami merasa ada surga di rumah kami,keceriaan dan kemesraan serta kasih sayang selalu menghiasi hari2 kami.Tahun pertama kami jalani tanpa adanya putra-putri yg hadir dalam keluarga kecil kami itu begitu juga dg tahun ke 2,tahun ke 3,tahun ke 4 dan akhirnya pada tahun ke 5 aku memberanikan diri bertanya kepada suamiku apakah dia menginginkan keturunan? Lalu dia menjawab,"Aku sangat menginginkan keturunan yg memang benar2 lahir dari rahimmu',aku menjadi semakin sedih mendengar jawaban dari suamiku.Keesokan harinya,aku dan suamiku memberanikan diri untuk pergi ke dokter aku ingin bertanya bagaimana kondisi rahimku,apakah aku bisa mengandung atau tidak,begitu juga dg suamiku,bagaimana dg kondisi dirinya,apakah bisa memiliki keturunan atau tidak.Suamiku mengantarkanku ke salah satu dokter muslim di Kufah.Aku dan suamiku menjalani berbagai pemeriksaan dan selama itu berlangsung suamiku tetap bersabar dan selalu menghiburku,dia membuatku tenang dan meyakinkanku bahwa semuanya akan baik2 saja.Hasil pemeriksaan keluar 2 jam kemudian,aku dan suamiku dipanggil kembali oleh dokter yg menangani kami tadi.Dokter tersebut menyampaikan berita yg hampir saja membuat jantungku berhenti berdetak,sang dokter berkata bahwa aku telah mengindap kanker rahim dan saat ini telah mencapai stadium akhir itu yg menyebabkanku tidak bisa hamil beberapa waktu ini sedangkan dokter mengatakan bahwa kondisi suamiku baik2 saja,dia normal tak mengidap penyakit serius apa pun.Akhirnya kami berdua kembali kerumah dg diliputi kesedihan dan suamiku tetap tegar mendengar berita itu,suamiku berkata dia akan setia terhadapku meski aku tak bisa memberikan keturunan untuk dirinya dan akhirnya kami berdua berpelukan dalam tangis.Setiap malam2 ku,aku isi dg istikharah meminta petunjuk akan permasalahanku yg rumit,berhari-hari kujalani istikharah dg penuh kesungguhan dan berharap bahwa Allah akan memberikan jawaban dari permasalahanku dan akhirnya jawaban itu muncul ketetapan hatiku mulai hadir,aku tak bisa menzhalimi suamiku yg amat kucintai,akhirnya kuputuskan untuk mengizinkan suamiku untuk menikah lagi dg wanita yg mudah-mudahan dapat memberikan keturunan untuk dirinya dan kau tahu Nida...,suamiku adalah Aziz,seorang yg akan menjadi suamimu 4 hari lagi yg akan datang."
"Astaghfirullahal adzim... Astaghfirullahal adzim... Astaghfirullahal adzim... Apa benar yg kau katakan tadi?"
Kemudian Aisyah memintaku untuk membuka dompetnya dan saat kubuka terlihat foto pernikahan mereka berdua.Aku hampir saja tak percaya mendengar semua yg telah dituturkan oleh Aisyah tadi.
Aku tak percaya ini semua terjadi kepada diriku.Tapi,setelah foto pernikahan Aziz dan Aisyah tampak di depan mataku,aku mulai berusaha meyakinkan diriku bahwa ini adalah kenyataan yg memang terjadi dalam episode kehidupanku.
"Tapi,mengapa tak ada yg memberitahuku bahwa kau adalah istri Aziz?"
"Karena aku yg memintanya,Aziz adalah putra dari teman kecil abimu dan saat abimu datang kepada keluarga Aziz untuk meminta Aziz menjadi pendampingmu abimu tak tahu kalau Aziz sudah menikah 5 tahun yg lalu dan abimu hendak mengurungkan niatnya tapi aku mendengar pembicaraan abimu dan keluarga Aziz lalu aku keluar dan berkata kepada semuanya,aku bersedia jikalau Aziz menikah lagi asalkan semua syaratku terpenuhi.Syarat pertamaku,wanita yg menikah dg Aziz nanti haruslah wanita yg hafal Al Quran al karim dan kau memenuhi syarat itu.Kedua,wanita yg dinikahi Aziz harus shalihah dan kau adalah wanita yg shalihah aku dapat menilai itu dari tingkah lakumu,Nida.Ketiga,wanita yg dinikahi Aziz haruslah seorang wanita yg cerdas dan lagi2 kau mendapatkannya,kau mendapat beasiswa di Kairo,Belanda dan saat ini kau juga akan berangkat ke Amerika.Keempat,aku meminta kepada semuanya untuk merahasiakan pernikahan Aziz dan aku.Biar aku yg menyampaikan langsung kondisi yg sebenarnya kepada calon istri Aziz dan tentunya sebelum pernikahan itu berlangsung dan semuanya juga menyetujui termasuk abimu jadi semua tak salah Nida,aku yg bersalah mereka semua diam saat kau bertanya tentang diriku itu semata-mata karena aku yg memintanya untuk merahasiakan ini semua.Aziz sempat kaget mendengar penuturanku saat itu,dia langsung memeluk diriku,hujan air mata membanjiri rumah kami saat itu."
Ya Allah... Hamba kalut,bingung tak kuasa air mata ini terhenti membanjiri kedua pipi ini.Ya Allah,ini amat berat tolong kuatkan aku,ya Rabb... Aku ingin menjerit,mengapa begitu sulit masalah jodoh kujalani,dulu aku kehilangan Azhar dan apa saat ini aku juga harus kehilangan Aziz padahal aku juga sudah mulai berusaha menimbulkan bibit2 cinta dihatiku.
Ya Allah,apa yg harus kulakukan? Aku hendak berlari,berlari sejauh mungkin hingga aku tak melihat kembali kejadian itu tapi kaki ini beku tak bisa tergerak sama sekali bibir ini kelu tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.Ya Rahman ya Rahim jika dg ini Kau ridha kepadaku aku ikhlas jika dg ini Kau tinggikan derajat keimananku maka aku mohon kuatkan aku,ya Rabb...
"Nida...,aku tahu kau pasti akan sangat terpukul mendengar berita ini,aku yakin kau sulit untuk menerima kenyataan ini tapi cepat atau lambat kau harus mengetahui ini semua.Sekarang,kau sudah tahu mengapa sikapku begitu sinis dan dingin kepadamu itu semua karena aku cemburu kepadamu.Walaupun aku pernah berkata pada Aziz bahwa aku rela jika dia menikah lagi tapi tetap saja hati ini sakit,sakit sekali.Aku menderita,menderita melawan gejolak hatiku yg berlawanan dg apa yg terjadi sebenarnya,aku selalu menangis dan menjerit saat melihatmu mengenakan gaun pengatin,aku juga menangis saat semua perlengkapan pernikahanmu dibeli dan aku semakin tak rela jika harus membayangkan suami yg amat kucintai harus membagi cintanya kepada orang lain."
"Baiklah Aisyah...,kini aku mengerti..."
Aku pun memeluk Aisyah dan isak tangis mulai berhamburan saat itu.
"Aisyah...,aku janji aku akan membatalkan pernikahanku dg Aziz.''
Tiba2 Aisyah melepaskan pelukannya.
"Tidak Nida,kau tak boleh menghentikan rencana pernikahanmu jangan kecewakan abimu beliau sangat berharap banyak kepadamu.Aku hanya ingin memberitahukan kejadian yg sebenarnya bukan untuk mencegah kelangsungan pernikahanmu itu.Aku ingin kita dapat bekerja sama untuk menjadi seorang pendamping yg baik dimata Allah."
"Tapi,aku tak ingin ada seorang pun yg tersakiti karena pernikahanku,aku menikah untuk kebahagiaan semuanya,aku tak rela tersenyum diatas tangisan dirimu,Aisyah."
"Aku juga bahagia jika suamiku bahagia..."
Aku terdiam,tak tahu harus berkata apa "Aku akan istikharah,Aisyah..."
"Baiklah,kutunggu jawabanmu...."
Ya Allah,apa yg harus kulakukan? Aku hendak berlari,berlari sejauh mungkin hingga aku tak melihat kembali kejadian itu tapi kaki ini beku tak bisa tergerak sama sekali bibir ini kelu tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.Ya Rahman ya Rahim jika dg ini Kau ridha kepadaku aku ikhlas jika dg ini Kau tinggikan derajat keimananku maka aku mohon kuatkan aku,ya Rabb...
"Nida...,aku tahu kau pasti akan sangat terpukul mendengar berita ini,aku yakin kau sulit untuk menerima kenyataan ini tapi cepat atau lambat kau harus mengetahui ini semua.Sekarang,kau sudah tahu mengapa sikapku begitu sinis dan dingin kepadamu itu semua karena aku cemburu kepadamu.Walaupun aku pernah berkata pada Aziz bahwa aku rela jika dia menikah lagi tapi tetap saja hati ini sakit,sakit sekali.Aku menderita,menderita melawan gejolak hatiku yg berlawanan dg apa yg terjadi sebenarnya,aku selalu menangis dan menjerit saat melihatmu mengenakan gaun pengatin,aku juga menangis saat semua perlengkapan pernikahanmu dibeli dan aku semakin tak rela jika harus membayangkan suami yg amat kucintai harus membagi cintanya kepada orang lain."
"Baiklah Aisyah...,kini aku mengerti..."
Aku pun memeluk Aisyah dan isak tangis mulai berhamburan saat itu.
"Aisyah...,aku janji aku akan membatalkan pernikahanku dg Aziz.''
Tiba2 Aisyah melepaskan pelukannya.
"Tidak Nida,kau tak boleh menghentikan rencana pernikahanmu jangan kecewakan abimu beliau sangat berharap banyak kepadamu.Aku hanya ingin memberitahukan kejadian yg sebenarnya bukan untuk mencegah kelangsungan pernikahanmu itu.Aku ingin kita dapat bekerja sama untuk menjadi seorang pendamping yg baik dimata Allah."
"Tapi,aku tak ingin ada seorang pun yg tersakiti karena pernikahanku,aku menikah untuk kebahagiaan semuanya,aku tak rela tersenyum diatas tangisan dirimu,Aisyah."
"Aku juga bahagia jika suamiku bahagia..."
Aku terdiam,tak tahu harus berkata apa "Aku akan istikharah,Aisyah..."
"Baiklah,kutunggu jawabanmu...."
BERSAMBUNG.., (Bag 17 of 36)








0 komentar:
Posting Komentar