Account

gelembung

cursor

Rabu, 09 Oktober 2013

# SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI # (Bag 14 of 36)

Karya:Putri Indah Wulandari

AKANKAH AKU JADI PERMAISURINYA...? (Bag 14)


4 hari berikutnya...
Kriiing... Kriiing... Kriiing...

Suara telepon membangunkanku dari tidurku.Ternyata abi yg meneleponku,ada apa ini ya Rabb?

"Assalamu'alaikum,Nak..."

"Wa'alaikum salam,abi..."

"Nak,saat ini abi sedang berada dibandara untuk ke Belanda bersama Aziz dan keluarganya."

''Aziz itu siapa,Bi?"

"Insya Allah,beliaulah yg akan menemanimu ke Amerika serikat,Nak."

"Jadi,nama calon suamiku adalah Aziz?"

"Betul,putriku.Insya Allah,beliau shalih dan dapat menuntunmu menuju jalan yg diridhai Allah.Sebenarnya,abi telah lama merencanakan ingin menjodohkanmu dg nya namun karena ada beberapa hal abi urungkan niat tersebut."

"Tapi,aku ingin sekali menikah di Madinah bukan disini di Belanda."

"Nak...,mengertilah keadaan ini sangat darurat beberapa hari lagi kau kan harus pergi ke Amerika dan kita belum mempersiapankan perihal pernikahanmu."

"Tapi..."

"Anakku,kau bagaikan mutiara bagi kehidupan abi.Kini,hidup abi hanya tinggal berdua dg mu dan abi juga ingin sekali menepati janji abi pada ummi bahwa abi akan menjagamu dan mempertemukanmu dg calon suami yg insya Allah berpegang teguh pada agama,lalu menikahkanmu."

Tak bisa kutolak lagi keinginan abi,aku harus menerimanya.Insya Allah,tidak akan pernah ada orang tua yg memberikan putra-putrinya menderita.

"Baiklah,Bi."

"Alhamdulillah,nanti abi kabari lagi jika abi sudah sampai di Belanda."

"Na'am,Abi."

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam..."

Detik-detikku menegangkan,mungkinkah dg cara sesingkat ini Engkau pertemukan hamba dg jodoh hamba ya Rabb,setelah hamba melupakan Muhammad dan menolak pinangan Azhar? Ya Allah,jadi teringat kembali kejadian antara aku dan Azhar saat itu kejadian yg tak mungkin kulupakan dalam kehidupanku.Jadilah acara lamaran hari ini antara aku dan Aziz terbaik sesuai keputusan Mu,ya Rabb.Jangan biarkan ada salah satu dari kami yg hatinya merasa tersakiti,siapa pun itu.

Kriiing... Kriiing... Kriiing...

Mengapa abi menghubungiku lagi?
"Assalamu'alaikum,Abi..."

"Halo,benarkah ini dg Shabrina Lailatun Nida?"

Sepertinya,ini bukan suara abi.

"Oh maaf,kupikir ayahku.Ya benar,saya Nida.Maaf ini siapa?"

"Saya Thomas,salah satu mahasiswa yg mengikuti pendalaman studi ilmu pengetahuan Barat di Amerika.Salam kenal,semoga kita dapat bekerja sama dg baik."

"Ya...,salam kenal juga,semoga kita bisa saling membantu disana."

"Tentu,Nida.Oh iya,aku hampir lupa pagi tadi aku sudah menghubungi Fatimah,Jenever,Fransisco mereka semua adalah rekan kita yg akan berangkat ke Amerika juga.Kita sudah merencanakan sebuah agenda sebelum berangkat ke Amerika serikat,kau mau ikut?"

"Kapan?"

"Minggu pagi,kita bertemu ditaman sekitar pukul 07.00."

"Kalau boleh tahu,agenda pertemuannya apa ya?"

"Tentu kau boleh tahu karena kau bagian dari kami rencananya kami ingin pergi ke tempat2 wisata yg ada di Belanda tapi sebelumnya kami kebaktian terlebih dahulu di Gereja Santo mario bukankah gereja itu deket dg tempat tinggalku saat ini? Jadi kau langsung menuju gereja saja.Oh iya,tapi kita hanya pergi dg Jenever dan Fransisco saja karena Fatimah tak bisa ikut."

Ya Allah,gereja? Belum berangkat ke Amerika,aku sudah dihadapan dg keadaan seperti ini padahal aku harus Menempuh studi selama 6 bulan disana dg teman2 yg seperti ini? Apa aku kuat menghadapi ini semua,ya Rabb?

"Halo... Nida,bagaimana dg tawaranku tadi? Aku menunggu jawabanmu."

"Maaf,bukannya aku tak mau ikut tapi hari ini ayahku kesini dan kemungkinan beliau tinggal disini sampai keberangkatanku ke Amerika dan lagi pula aku adalah seorang muslim."

"Oh,maaf Nida aku benar2 tak tahu jika kau seorang muslim.Maafkan aku,mungkin kita bisa merencanakan agenda lain yg cocok untuk kita semua.Baiklah,sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Klik....
Kututup telepon dari Thomas yg telah membuat hatiku semakin takut.Kini,aku mulai paham mengapa abi bersikukuh untuk menikahkanku dg pemuda muslim yg shalih sebelum aku berangkat ke Amerika.Ternyata,begitu beratnya ujian keimanan yg akan kuhadapi disana.Ya Rabb,lindungi selalu keimananku.

Aku baru sadar bahwa persediaan kebutuhan sehari-hari telah habis padahal sebentar lagi akan ada banyak tamu yg datang kesini,kuputuskan pergi ketoko sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan.Kupakai jilbabku dan perlahan aku menangis saat mengenakan jilbab itu.Ya Allah,tetapkan kain panjang ini terus menutup rambutku jangan biarkan terlepas dan terlihat oleh seseorang yg tak memjadi muhrimku,ya Rabb.Lalu kupandangi Al Quran yg selalu menemani hariku.Ya Rabbi,jangan biarkan aku meninggalkan dan menyimpannya dalam lemari hingga tak pernah aku membukanya dan membacanya.Izinkan aku untuk terus hidup bersama petunjuk Mu ya Rabb,Al Quran Al Karim lalu pandangi mukena yg terlipat rapi diatas kasurku dan lagi air mata itu mengalir.Ya Allah,tetapkan shalat sebagai pelindungku dari perbuatan keji dan mungkar,bersujudku kepada Mu tuk haturkan segala penghambaanku kepada Mu dan tetapkan ini hingga kematian hadir menjemputku,aamiin.

Ya Rabbi...,sebentar lagi abi akan datang bersama Aziz,seseorang yg akan meminangku.Jika memang dia yg terbaik untuk diriku maka jadikanlah rencana pernikahan ini dapat berjalan dg baik dan penuh dg keikhlasan serta rahmat dari Mu.


Jika memang dialah jodohku,izinkan aku untuk dapat mencintainya agar dapat kupatuhi perintahnya saat telah menjadi imamku kelak ya Rabb,aamiin.

Setelah beberapa saat terhanyut dalam tangis,sesegera aku pergi ke toko dan harus kembali lagi ke rumah secepat mungkin untuk menara dan membersihkan rumah.

***

Tepat pukul tiga sore.
Tok....tok....tok....

"Assalamu'alaikum..."
Kudengar suara orang yg mengucap salam di depan rumah.

"Wa'alaikum salam..."

Tak langsung kubuka pintu itu,perlu beberapa detik terlebih dahulu untuk mempersiapkan mentalku.Aku yakin yg mengetuk pintu tersebut adalah abi dan abi pasti datang dg Aziz dan keluarganya.Kuatkan aku,ya Allah.... Perlahan tapi pasti kumulai membuka pintu rumahku sedikit demi sedikit dan ternyata benar itu abi.

"Assalamu'alaikum,Nida putriku."

"Wa'alaikum salam,Abi."

"Nak,perkenalkan ini adalah Aziz yg Abi pernah ceritakan kepadamu."

Subhanallah,sekilas aku memandangnya dan langsung kutundukan lagi pandanganku.Tanpan sekali dirinya,abi,seakan aku ingin langsung mengekspresikan perasaanku saat itu cahaya keimanannya pun terpancar dari dalam dirinya.Subhanallah,kemudian abi membuka pembicaraan kembali.

"Dan perkenalkan ini adalah Ahmad,Fatimah,Naila." seraya menunjukan kepada masing2 dan ketiganya.

"Assalamu'alaikum." kuucapkan salam kepada mereka semua.

Tapi aneh...,abi belum memperkenalkan seorang wanita yg amat cantik yg berdiri disamping Aziz.

"Abi,lalu siapa yg berdiri disamping Aziz itu? Sepertinya,abi belum memperkenalkannya kepadaku."

"Oh,na'am hampir saja Abi lupa Dia adalah Aisyah."

"Assalamu'alaikum,Aisyah." kuucapkan salam kepadanya.

"Wa'alaikum salam,Nida."

"Silahkan masuk...."

Aku memang kagum terhadap Aziz,cahaya keimanan itu memang terpancar dari dalam hatinya,baik,santun dan memiliki kepribadian yg baik semoga rasa kagum inilah yg mengawali tumbuhnya benih2 cintaku untuk Aziz,aamiin.Setelah semuanya masuk kedalam rumah aku mempersilahkan semua tamu istimewaku yg datang hari ini untuk beristirahat karena aku tahu perjalanan yg ditempuh Oleh mereka semua bukanlah perjalanan yg dekat.Bibi Fatimah,Naila,dan Aisyah beristirahat dikamar tamu sedangkan abi,Aziz dan paman Ahmad beristirahat di wisma putra yg terletak disamping kediamanku namun sebelum pergi abi berkata padaku.

"Nak...,bagaimana?"

"Bagaimana dg apa,Abi?"

Aku sengaja berpura-pura tak mengerti.

"Bagaimana dg Aziz? Apa kau menyukainya?"

Pertanyaan berat yg harus kujawab dg jujur.

''Dia baik."

"Jadi kau menyukainya,Nak?"

"Abi,setiap wanita pasti menginginkan laki2 baik yg akan menuntunnya menuju rahmat Allah.Aku akui Aziz memang pria baik,cahaya keimanannya terpancar dari dalam hatinya,dia juga tampan tapi untuk sementara ini aku hanya sebatas mengaguminya rasa cinta belum tumbuh sedikit pun."

"Itu wajar,Nak.Kau kan baru saja mengenalnya tapi abi yakin seiring berjalannya waktu Allah akan menumbuhkan rasa cinta itu dalam hati kalian berdua."

"Aamiin...,abi.Boleh aku menanyakan beberapa hal tentang Aziz?"

"Apa yg ingin kau tanyakan?"

"Mengapa orang tua Aziz tidak ikut?"

"Ibunda Aziz sudah meninggal sejak dia berusia 10 tahun sedangkan ayahnya meninggal dunia saa Aziz berusia 19 tahun."

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,semoga Allah telah memberikan tempat terbaik untuk keduanya.Aamiin,lalu siapa Ahmad,Fatimah dan Naila,Bi?"

"Ahmad adalah kakak kandung dari Aziz,sedangkan Fatimah adalah kakak ipar Aziz istri dari Ahmad dan Naila adik kandung dari Aziz keluarga terdekatnya hanya mereka.Aziz diasuh oleh kakaknya sejak kedua orang tuanya meninggal dunia."

"Subhanallah,begitu sulit kehidupannya ditinggal oleh kedua orang tuanya saat bimbingan dan motivasi masih dibutuhkan.Lalu siapa Aisyah,Bi? Mengapa aku melihat raut kesedihan diwajah Aisyah sejak pertama kali aku melihat wajahnya tadi?"

"Nak...,abi lelah sekali abi ingin beristirahat terlebih dahulu sebaiknya kau juga menyiapkan makanan untuk Aziz dan keluarganya."

"Tapi pertanyaanku yg terakhir belum abi jawab..."

"Anakku..."

"Baiklah,Abi..."


Kutinggalkan abi yg sedang beristirahat,ditanganku dg penuh rasa penasaran.Mengapa abi tak menjawab pertanyaanku? Siapa sebenarnya Aisyah itu? Mengapa tatapan matanya kadang tak bersahabat kepadaku,apa aku punya salah terhadapnya,tapi bukankah aku baru mengenalnya hari ini.Lalu kudengar isak tangis,siapa yg menangis? Kucari sumber suaranya dari mana datangnya.Setelah kususuri rumah sembari mendengarkan dan mencari muara dari suara tersebut akhirnya kutemukan juga,ternyata suara itu berasal dari toilet.

Tok... Tok... Tok...

Aneh...,siapa yg menangis didalam? Suara tangis itu terdengar semakin nyata dan tak kunjung reda.

"Siapa di dalam?"

Tak ada jawaban apapun,aku semakin heran.

"Keluarlah,siapa di dalam? Siapa pun engkau tolong keluarlah,ceritakan semua keluh kesahmu kepadaku,Insya Allah aku akan membantu mengatasi permasalahan yg sedang engkau hadapi."

Kutunggu selama 5 menit,tapi tetap tak ada jawaban dan perlahan isak tangis yg kudengar dari dalam toilet pun menghilang dan tak lama kemudian suara pintu toilet mulai terbuka.Dan....

"Astaghfirullah,Aisyah... Ada apa dg mu?"

Dia hanya menatapku tajam dan dalam sekali,tapi tak mengatakan sepatah apa pun matanya sembab,tubuhnya gemetar,pakaiannya basah,jilbabnya tak beraturan.Aku jadi yakin hatinya pasti sedang kacau sekali.

"Aisyah...''

Aku mendekat beberapa meter ke arahnya tapi saat kakiku langkahkan dia pergi dan berlari meninggalkanku dg menyisakan beribu pertanyaan dalam hatiku.Ada apa sebenarnya ini? Apa yg terjadi dg dirinya? Mengapa dia menangis,seharusnya kan dia bahagia karena sebentar lagi akan ada pesta pernikahan antara aku dan Aziz? Bukankah dia juga masih kerabat dg Aziz? Pertanyaanku tentang Aisyah semakin menjadi saat teringat bahwa abi tak pernah mau memberi informasi banyak tentang Aisyah kepadaku.Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya dia.Aku tak ingin dalam pernikahanku ada air mata yg mengalir lantaran kesedihan,siapa pun itu orangnya akan kubuat semua turut bahagia atas bersatunya 2 hati dalam pelaminan nanti.

***

Keesokan harinya,seusai shalat subuh berjamaah...

Aisyah... Siapa dirinya? Abi tak menjawab pertanyaanku tentang siapa sebenarnya Aisyah dan aku juga tak mungkin menanyakan kepada Aziz.Walaupun kami akan menikah tapi tetap saja hijabku dg dirinya tetap harus dijaga sebelum ijab qabul itu terucap.Akhirnya aku terpikir mengapa tak kutanyakan kepada Bibi Fatimah dan Paman Ahmad saja mereka berdua kan kerabat terdekat Aziz pasti keduanya akan mengetahui ada apa sebenarnya antara Aisyah dan aku.Kuputuskan menemui paman Ahmad dan Bibi Fatimah dikamarnya.

Tok... Tok... Tok...

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam... Siapa?"

"Aku Nida,bisa aku berbicara dg Bibi sebentar?"

"Tentu saja,tunggu sebentar."

Tak lama,perempuan berjilbab biru panjang keluar dari kamar.

"Ada apa,Nida? Apa yg ingin kau bicarakan?" tanya Bibi Fatimah.

"Na'am,ada yg ingin kubicarakan tapi aku tak ingin ada seorang pun yg mengetahuinya."

"Baiklah kalau begitu,masuklah..."

Bibi Fatimah mempersilakanku masuk,sambil melangkah aku berpikir keras bagaimana caraku menyampaikan pertanyaan itu kepada Bibi Fatimah.

"Bibi,maaf jika kedatanganku mengganggu."

"Tidak Nida,lagi pula sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami tak perlu sungkan,katakanlah apa yg ingin kau katakan."

"Sebelumnya aku minta maaf dg sangat jika pertanyaanku menyinggung hati Bibi karena mungkin ini adalah privasi yg harus dijaga.Bibi,siapa sebenarnya Aisyah itu? Mengapa tatapan dan perilakunya begitu dingin terhadapku? Aku pernah menanyakan tentang Aisyah kepada Abi namun abi tak menjawab sepatah kata pun kemarin aku menemukan Aisyah tengah menangis ditoilet dan saat aku bertanya kepadanya dia tak menjawab apa pun.

Ada apa ini sebenarnya? Apa ada yg disembunyikan dariku? Sungguh,aku tak ingin satu orang pun ada yg tersakiti saat pernikahanku dg Aziz berlangsung."

Saat itu,ekspresi wajah bibi langsung berubah seakan bingung apa yg harus dikatakan kepadaku,ia pun terdiam selama beberapa saat.

"Bibi,tolonglah... Aku ingin ada keterbukaan antara kita seperih apapun kenyataan yg akan kuhadapi.Jadi aku mohon bicaralah padaku."

Bibi Fatimah hanya tertunduk.

"Nida...,sebenarnya..."

Kriiing... Kriiing... Kriiing...

Terdengar telepon genggam Bibi Fatimah berdering.

"Sebentar Nida,Bibi angkat telepon terlebih dahulu."

"Baiklah,silahkan..."

Aku menunggu sekitar 5 menit.

"Nida,sepertinya Bibi tak bisa menjawab pertanyaanmu saat ini barusan paman Ahmad menghubungi Bibi beliau berkata bahwa baru saja perusahan kateringnya memberi kabar bahwa Paman dan Bibi harus kesana untuk melunasi pembayaran kateringnya."

"Tapi,Bibi berikan aku jawaban itu sebelum pergi..."

"Maaf,Nida Bibi dan Paman harus segera kesana."

"Bibi... Aku mohon hanya 5 menit saja."

"Nida sayang,kau pasti akan mengetahuinya disaat yg tepat bukan saat ini.Maafkan kami,kami harus pergi,Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam..."

"Aku hanya bisa menatap Bibi meninggalkanku sendiri dalam perasaan ingin tahu yg makin memuncak.Siapa Aisyah? Apakah Aisyah adalah? Tapi tak mungking.Mungkin Bibi benar,saat ini Allah memang belum mengizinkan aku untuk mengetahui identitas Aisyah yg sebenarnya.Berikan petunjuk itu jika Kau yakin aku mampu menerima kenyataan yg ada ya Allah,aamiin.

***

Seminggu sebelum pernikahanku...

Tak terasa,rumahku tepatnya rumah yg diberikan oleh pemerintahan Belanda untuk kujadikan tempat tinggalku selama kutempuh studi di Belanda kini sudah penuh dg berbagai keperluan perlengkapan pernikahan.Katering sudah dipesan,undangan sudah dibagikan,aula yg akan kupergunakan untuk resepsi juga sudah dipersiapkan,beberapa setel baju pengantin dan make up juga sudah dipesan,beberapa sanak saudaraku dari Kufah dan Indonesia juga sudah mulai berdatangan.Alhamdulillah,semua persiapan berjalan dg lancar tak ada satu kendala yg amat berarti semoga semuanya lancar hingga aku sah menjadi permaisuri Aziz walaupun entah cinta itu telah tumbuh atau belum dari dalam hatiku tapi yg jelas dg melihat senyum kebahagiaan yg tersirat diwajah abi,

Itu telah menjadi kebahagiaan terbesar yg kualami.Alhamdulillah,paman Ahmad,bibi Fatimah,Naila,begitu pun dg saudaraku yg datang dari Kufah dan Indonesia termasuk Aisyah juga turut membantu.Walaupun aku yakin dia begitu keberatan saat membantu mempersiapkan acara pernikahanku tapi dibalik kebahagiaan itu aku merasakan kerinduan yg teramat sangat,aku rindu terhadap sosok ummi aku ingin ummi menyasikanku menjadi permaisuri Aziz hari itu,aku inginkan ummi hadir dan daapat menyaksikanku saat ijab qabul.Ya Rabbi,aku rindu ummiku tolong dekap selalu ummi dalam naungan Cinta Mu,Ya Allah.Lalu,terbesit di pikiranku untuk pergi ke pemakaman ummi sebelum berlangsungnya pernikahanku hingga setelah beberapa lama aku berpikir,aku beranikan diri untuk bicara nengenai niatku kepada abi tapi kucoba untuk mencari waktu yg tepat dan akhirnya kutemukan abi sedang duduk santai sambil memandang foto kecilku yg kuletakkan dikamar.

"Abi..."

"Ya Nida,ada apa?"

"Apa yg sedang abi lakukan? Mengapa abi merenung sendiri dikamarku sambil memandangi foto2 kecilku?"

"Tidak,Nak.Abi hanya merasa bahagia karena hampir saja abi telah usai menjalankan kewajiban abi dg mendidikmu menjadi wanita shalihah,kau seorang hafizhah dan abi juga telah berhasil mendapatkan pria shalih untuk menggantikan posisi abi dalam menjagamu,Nak."

Kulihat abi menatapku penuh cinta dan kasih sayang seakan abi takut akan kehilanganku dan sepertinya abi tak rela melepasku.

"Abi,aku sayang abi..."

Kupeluk erat tubuh ayahku yg ternyata sudah tak sekuat dulu kulitnya kini mulai keriput,tulang belulangnya sudah dapat kurasakan saat aku memeluknya matanya kini tak sejernih dahulu.Ya Allah,berikan usia yg panjang dg disertai keberkahan,kesehatan dan kebahagiaan dunia akherat untuk abiku,ya Rabb.Kulepaskan eratnya pelukanku pada abi.

"Abi adalah orang tua terbaik yg pernah aku temui,sosok Abi begitu kukagumi,terima kasih Abi telah mendidikku hingga aku dapat menjadi seseorang yg baik yg dihormati orang lain."


Keadaan penuh haru biru itu tak berlangsung lama,kuputuskan tuk bicara akan keinginanku kepemakaman ummi sebelum terlaksananya pernikahanku.

"Abi...,boleh aku meminta sesuatu pada Abi?"

"Apa,Nak?"

"Izinkan aku ke Kufah,Bi.Aku ingin pergi kepemakaman ummi,aku rindu sekali padanya izinkan aku ke sana sebelum hari pernikahanku."
"Tapi Nak,waktunya terlalu sempit,pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi."

"Na'am Bi,aku tahu tapi aku mohon Bi..."

Abi menghela nafas sejenak dan tersenyum ke arahku.

"Baiklah,Nak.Abi akan pesankan tiket pesawat untukmu."

Tersungging senyum dibibirku "Terima kasih,Bi.''

"Tapi,kau tak boleh pergi kesana sendiri,bagaimana kalau kau ditemani oleh Bibi Fatimah?"

"Apa tidak merepotkan,Bi?"

"Lebih merepotkan lagi jika kau pergi kesana seorang diri karena Abi khawatir ada sesuatu yg terjadi dg mu.Abi tak rela jika mutiara Abi pergi seorang diri tanpa didampingi oleh siapa pun."

Aku tersenyum."Baiklah,Bi..."


Malam harinya...

"Nida..." Bibi Fatimah memanggilku.

"Ya Bibi,ada apa?"

"Tadi,abimu berkata tiket pesawat telah dipesan esok pagi kita berangkat kebandara."

"Benarkah? Aku bahagia mendengarnya aku akan segera bersiap-siap."

Aku langsung terburu-buru meninggalkan Bibi Fatimah dan bergegas ke kamarku,tapi...."

"Nida,tunggu dulu..."

"Ada apa?"

"Nanti saja kau mempersiapankan keperluanmu,sekarang duduklah sebentar."

Aku duduk disamping Bibi Fatimah sedangkan abi,Naila,Aisyah,Paman Ahmad dan saudara2 ku semua hadir disitu dan tentunya Aziz tak berada disitu.Abi benar2 menjagaku supaya tak terlalu banyak komunikasi antara Aziz dan aku karena kami belum sah menjadi sepasang suami istri.

"Nida,tadi sore salah seorang karyawan butik kemari,dia mengantarkan gaun pengantin yg akan kau pakai nanti saat pernikahanmu."

"Benarkah? Aku tak sabar ingin segera melihatnya."

"Nak... Kau bukan hanya boleh melihatnya tapi kau juga boleh mencobanya." ucap abi kepadaku.

Abi memberikan sebuah kotak merah yg didalamnya terdapat gaun pengantinku.

"Kau boleh mencobanya dikamarmu,ambillah."

"Terima kasih,Abi."

Aku masuk kedalam kamarku,kubuka kotak merah yg diberikan oleh abi tadi.Subhanallah,gaun berwana dasar putih dihiasi manik2 berwarna merah marun yg kilaunya dapat membuat mataku silau.Untaian bunga melengkapi indahnya gaun pengantinku,kuraih jilbab panjang berwarna merah muda yg amat indah disetiap sisinya terdapat pernak-pernik yg bervariasi,kuraih sepatunya semuanya serasi semuanya indah semuanya membuatku bahagia.Kemudian kukenakan gaun pengantinku lengkap dg jilbab dan sepatunya.Aku berdiri didepan kaca.Subhanallah...,cantiknya diriku,aku berputar mengelilingi kamarku seakan bunga2 taman surga telah Allah taburkan dalam kamarku,semuanya indah hatiku bahagia sekali.Aku ingin menunjukannya pada abi dan yg lainnya.Kubuka pintu kamarku dan aku berjalan ke arah mereka berkumpul dan sesampainya disana semuanya terdiam seakan tak percaya bahwa akulah yg memakai gaun pengantin seindah ini.

''Nida,kaukah Nida? Putri mungil abi...?"

Abi memandangku dan menatapku dalam sekali,seakan tak mempercayai bahwa aku adalah putrinya,yg dahulu masih digendongnya ditaman bunga yg dahulu masihdiajaknya bermain tapi kini aku sudah tumbuh dewasa bahkan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.

''Na'am Abi,ini aku Nida."

"Nida,Aziz beruntung memilihmu menjadi calon pendamping hidupnya,kau sungguh cantik sekali,laksana bidadari yg Allah turunkan dari surga." puji paman Ahmad.

"Betul Nida,Bibi kagum sekali padamu selain cantik kau juga seorang hafizhah dan cerdas juga beruntung sekali abimu memiliki putri sepertimu." ucap bibi Fatimah.

"Benar,Kak.Kakak cantik sekali jika aku menikah nanti aku ingin memakai gaun seindah gaun yg kakak pakai." kata Naila

Semuanya memandangku dg penuh tatapan bahagia semuanya melihatku dg rona kekaguman tapi Aisyah justru tak memberikan reaksi apa pun bahkan dia pun tak melihatku sama sekali apakah mungkin dia membenciku tapi mengapa? Kemudian tak lama setelah aku memandangnya ku melihat Aisyah pergi dg wajah yg kurang menyenangkan


Aku menjadi semakin penasaran,mengapa hanya raut kebencian yg terpancar dari mimik wajah Aisyah setiap bertemu dg diriku.Ya Allah,ada apa ini sebenarnya?


4 hari pra pernikahanku...
Hari ini adalah hari yg amat kutunggu karena pada hari ini aku akan berangkat ke Kufah kekota kelahiran ku untuk berziarah ke pemakaman ummi.Semoga perjalanan ini mendapat keridhaan Mu ya Rabb,hingga aku dan bibi Fatimah sampai dg selamat.Semua barang kukemasi dalam koper,semua persiapan telah matang.

"Nida..."
Terdengar suara bibi Fatimah memanggilku.

"Na'am,sebentar lagi aku keluar dari kamarku."

Semua perlengkapan kubawa.Bismillaah...,kulangkahkan kaki dg nama Mu dan saat aku sampai didepan teras rumah ternyata semuanya telah menungguku dan kali ini Aziz juga hadir disitu walaupun tak sedetik pun dia menatap diriku.

"Nak...,hati2 dijalan,jangan lupa berdoa terlebih dahulu." pesan abi.

"Na'am Abi,doakan aku semoga bisa sampai di Kufah dg selamat."

"Fatimah,tolong jaga Nida dg baik ya..." pesan abi kepada bibi Fatimah.

"Insya Allah..." jawab bibi Fatimah.

"Hati-hati,Shabrina..."

Aku terkejut ternyata itu suara Aziz,Dia berbicara kepadaku entah mengapa dan dimulai sejak kapan kali ini aku benar2 merasa bahagia saat mendengarkan tutur kata Aziz terhadapku hampir saja aku salah tingkah dan tanpa memandangnya kuucapkan terima kasih kepadanya tak berapa lama taksi yg akan mengantarkanku dan bibi Fatimah kebandara datang.Aku pun pergi meninggalkan rumah dg diiringi kebahagiaan.

BERSAMBUNG......... (Bag 15 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar