Karya:Putri Indah Wulandari
AKANKAH AKU JADI PERMAISURINYA...? (Bag 14)
4 hari berikutnya...
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Suara telepon membangunkanku dari tidurku.Ternyata abi yg meneleponku,ada apa ini ya Rabb?
"Assalamu'alaikum,Nak..."
"Wa'alaikum salam,abi..."
"Nak,saat ini abi sedang berada dibandara untuk ke Belanda bersama Aziz dan keluarganya."
''Aziz itu siapa,Bi?"
"Insya Allah,beliaulah yg akan menemanimu ke Amerika serikat,Nak."
"Jadi,nama calon suamiku adalah Aziz?"
"Betul,putriku.Insya Allah,beliau shalih dan dapat menuntunmu menuju
jalan yg diridhai Allah.Sebenarnya,abi telah lama merencanakan ingin
menjodohkanmu dg nya namun karena ada beberapa hal abi urungkan niat
tersebut."
"Tapi,aku ingin sekali menikah di Madinah bukan disini di Belanda."
"Nak...,mengertilah keadaan ini sangat darurat beberapa hari lagi kau
kan harus pergi ke Amerika dan kita belum mempersiapankan perihal
pernikahanmu."
"Tapi..."
"Anakku,kau bagaikan mutiara bagi kehidupan abi.Kini,hidup abi hanya
tinggal berdua dg mu dan abi juga ingin sekali menepati janji abi pada
ummi bahwa abi akan menjagamu dan mempertemukanmu dg calon suami yg
insya Allah berpegang teguh pada agama,lalu menikahkanmu."
Tak bisa kutolak lagi keinginan abi,aku harus menerimanya.Insya
Allah,tidak akan pernah ada orang tua yg memberikan putra-putrinya
menderita.
"Baiklah,Bi."
"Alhamdulillah,nanti abi kabari lagi jika abi sudah sampai di Belanda."
"Na'am,Abi."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Detik-detikku menegangkan,mungkinkah dg cara sesingkat ini Engkau
pertemukan hamba dg jodoh hamba ya Rabb,setelah hamba melupakan Muhammad
dan menolak pinangan Azhar? Ya Allah,jadi teringat kembali kejadian
antara aku dan Azhar saat itu kejadian yg tak mungkin kulupakan dalam
kehidupanku.Jadilah acara lamaran hari ini antara aku dan Aziz terbaik
sesuai keputusan Mu,ya Rabb.Jangan biarkan ada salah satu dari kami yg
hatinya merasa tersakiti,siapa pun itu.
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Mengapa abi menghubungiku lagi?
"Assalamu'alaikum,Abi..."
"Halo,benarkah ini dg Shabrina Lailatun Nida?"
Sepertinya,ini bukan suara abi.
"Oh maaf,kupikir ayahku.Ya benar,saya Nida.Maaf ini siapa?"
"Saya Thomas,salah satu mahasiswa yg mengikuti pendalaman studi ilmu
pengetahuan Barat di Amerika.Salam kenal,semoga kita dapat bekerja sama
dg baik."
"Ya...,salam kenal juga,semoga kita bisa saling membantu disana."
"Tentu,Nida.Oh iya,aku hampir lupa pagi tadi aku sudah menghubungi
Fatimah,Jenever,Fransisco mereka semua adalah rekan kita yg akan
berangkat ke Amerika juga.Kita sudah merencanakan sebuah agenda sebelum
berangkat ke Amerika serikat,kau mau ikut?"
"Kapan?"
"Minggu pagi,kita bertemu ditaman sekitar pukul 07.00."
"Kalau boleh tahu,agenda pertemuannya apa ya?"
"Tentu kau boleh tahu karena kau bagian dari kami rencananya kami
ingin pergi ke tempat2 wisata yg ada di Belanda tapi sebelumnya kami
kebaktian terlebih dahulu di Gereja Santo mario bukankah gereja itu
deket dg tempat tinggalku saat ini? Jadi kau langsung menuju gereja
saja.Oh iya,tapi kita hanya pergi dg Jenever dan Fransisco saja karena
Fatimah tak bisa ikut."
Ya Allah,gereja? Belum berangkat ke Amerika,aku sudah dihadapan dg
keadaan seperti ini padahal aku harus Menempuh studi selama 6 bulan
disana dg teman2 yg seperti ini? Apa aku kuat menghadapi ini semua,ya
Rabb?
"Halo... Nida,bagaimana dg tawaranku tadi? Aku menunggu jawabanmu."
"Maaf,bukannya aku tak mau ikut tapi hari ini ayahku kesini dan
kemungkinan beliau tinggal disini sampai keberangkatanku ke Amerika dan
lagi pula aku adalah seorang muslim."
"Oh,maaf Nida aku benar2 tak tahu jika kau seorang muslim.Maafkan
aku,mungkin kita bisa merencanakan agenda lain yg cocok untuk kita
semua.Baiklah,sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Klik....
Kututup telepon dari Thomas yg telah membuat hatiku semakin
takut.Kini,aku mulai paham mengapa abi bersikukuh untuk menikahkanku dg
pemuda muslim yg shalih sebelum aku berangkat ke
Amerika.Ternyata,begitu beratnya ujian keimanan yg akan kuhadapi
disana.Ya Rabb,lindungi selalu keimananku.
Aku baru sadar bahwa persediaan kebutuhan sehari-hari telah habis
padahal sebentar lagi akan ada banyak tamu yg datang kesini,kuputuskan
pergi ketoko sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan.Kupakai jilbabku
dan perlahan aku menangis saat mengenakan jilbab itu.Ya Allah,tetapkan
kain panjang ini terus menutup rambutku jangan biarkan terlepas dan
terlihat oleh seseorang yg tak memjadi muhrimku,ya Rabb.Lalu kupandangi
Al Quran yg selalu menemani hariku.Ya Rabbi,jangan biarkan aku
meninggalkan dan menyimpannya dalam lemari hingga tak pernah aku
membukanya dan membacanya.Izinkan aku untuk terus hidup bersama petunjuk
Mu ya Rabb,Al Quran Al Karim lalu pandangi mukena yg terlipat rapi
diatas kasurku dan lagi air mata itu mengalir.Ya Allah,tetapkan shalat
sebagai pelindungku dari perbuatan keji dan mungkar,bersujudku kepada Mu
tuk haturkan segala penghambaanku kepada Mu dan tetapkan ini hingga
kematian hadir menjemputku,aamiin.
Ya Rabbi...,sebentar lagi abi akan datang bersama Aziz,seseorang yg
akan meminangku.Jika memang dia yg terbaik untuk diriku maka jadikanlah
rencana pernikahan ini dapat berjalan dg baik dan penuh dg keikhlasan
serta rahmat dari Mu.
Jika memang dialah jodohku,izinkan aku untuk dapat mencintainya agar
dapat kupatuhi perintahnya saat telah menjadi imamku kelak ya
Rabb,aamiin.
Setelah beberapa saat terhanyut dalam tangis,sesegera aku pergi ke
toko dan harus kembali lagi ke rumah secepat mungkin untuk menara dan
membersihkan rumah.
***
Tepat pukul tiga sore.
Tok....tok....tok....
"Assalamu'alaikum..."
Kudengar suara orang yg mengucap salam di depan rumah.
"Wa'alaikum salam..."
Tak langsung kubuka pintu itu,perlu beberapa detik terlebih dahulu
untuk mempersiapkan mentalku.Aku yakin yg mengetuk pintu tersebut adalah
abi dan abi pasti datang dg Aziz dan keluarganya.Kuatkan aku,ya
Allah.... Perlahan tapi pasti kumulai membuka pintu rumahku sedikit demi
sedikit dan ternyata benar itu abi.
"Assalamu'alaikum,Nida putriku."
"Wa'alaikum salam,Abi."
"Nak,perkenalkan ini adalah Aziz yg Abi pernah ceritakan kepadamu."
Subhanallah,sekilas aku memandangnya dan langsung kutundukan lagi
pandanganku.Tanpan sekali dirinya,abi,seakan aku ingin langsung
mengekspresikan perasaanku saat itu cahaya keimanannya pun terpancar
dari dalam dirinya.Subhanallah,kemudian abi membuka pembicaraan kembali.
"Dan perkenalkan ini adalah Ahmad,Fatimah,Naila." seraya menunjukan kepada masing2 dan ketiganya.
"Assalamu'alaikum." kuucapkan salam kepada mereka semua.
Tapi aneh...,abi belum memperkenalkan seorang wanita yg amat cantik yg berdiri disamping Aziz.
"Abi,lalu siapa yg berdiri disamping Aziz itu? Sepertinya,abi belum memperkenalkannya kepadaku."
"Oh,na'am hampir saja Abi lupa Dia adalah Aisyah."
"Assalamu'alaikum,Aisyah." kuucapkan salam kepadanya.
"Wa'alaikum salam,Nida."
"Silahkan masuk...."
Aku memang kagum terhadap Aziz,cahaya keimanan itu memang terpancar
dari dalam hatinya,baik,santun dan memiliki kepribadian yg baik semoga
rasa kagum inilah yg mengawali tumbuhnya benih2 cintaku untuk
Aziz,aamiin.Setelah semuanya masuk kedalam rumah aku mempersilahkan
semua tamu istimewaku yg datang hari ini untuk beristirahat karena aku
tahu perjalanan yg ditempuh Oleh mereka semua bukanlah perjalanan yg
dekat.Bibi Fatimah,Naila,dan Aisyah beristirahat dikamar tamu sedangkan
abi,Aziz dan paman Ahmad beristirahat di wisma putra yg terletak
disamping kediamanku namun sebelum pergi abi berkata padaku.
"Nak...,bagaimana?"
"Bagaimana dg apa,Abi?"
Aku sengaja berpura-pura tak mengerti.
"Bagaimana dg Aziz? Apa kau menyukainya?"
Pertanyaan berat yg harus kujawab dg jujur.
''Dia baik."
"Jadi kau menyukainya,Nak?"
"Abi,setiap wanita pasti menginginkan laki2 baik yg akan menuntunnya
menuju rahmat Allah.Aku akui Aziz memang pria baik,cahaya keimanannya
terpancar dari dalam hatinya,dia juga tampan tapi untuk sementara ini
aku hanya sebatas mengaguminya rasa cinta belum tumbuh sedikit pun."
"Itu wajar,Nak.Kau kan baru saja mengenalnya tapi abi yakin seiring
berjalannya waktu Allah akan menumbuhkan rasa cinta itu dalam hati
kalian berdua."
"Aamiin...,abi.Boleh aku menanyakan beberapa hal tentang Aziz?"
"Apa yg ingin kau tanyakan?"
"Mengapa orang tua Aziz tidak ikut?"
"Ibunda Aziz sudah meninggal sejak dia berusia 10 tahun sedangkan ayahnya meninggal dunia saa Aziz berusia 19 tahun."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,semoga Allah telah memberikan
tempat terbaik untuk keduanya.Aamiin,lalu siapa Ahmad,Fatimah dan
Naila,Bi?"
"Ahmad adalah kakak kandung dari Aziz,sedangkan Fatimah adalah kakak
ipar Aziz istri dari Ahmad dan Naila adik kandung dari Aziz keluarga
terdekatnya hanya mereka.Aziz diasuh oleh kakaknya sejak kedua orang
tuanya meninggal dunia."
"Subhanallah,begitu sulit kehidupannya ditinggal oleh kedua orang
tuanya saat bimbingan dan motivasi masih dibutuhkan.Lalu siapa
Aisyah,Bi? Mengapa aku melihat raut kesedihan diwajah Aisyah sejak
pertama kali aku melihat wajahnya tadi?"
"Nak...,abi lelah sekali abi ingin beristirahat terlebih dahulu
sebaiknya kau juga menyiapkan makanan untuk Aziz dan keluarganya."
"Tapi pertanyaanku yg terakhir belum abi jawab..."
"Anakku..."
"Baiklah,Abi..."
Kutinggalkan abi yg sedang beristirahat,ditanganku dg penuh rasa
penasaran.Mengapa abi tak menjawab pertanyaanku? Siapa sebenarnya Aisyah
itu? Mengapa tatapan matanya kadang tak bersahabat kepadaku,apa aku
punya salah terhadapnya,tapi bukankah aku baru mengenalnya hari ini.Lalu
kudengar isak tangis,siapa yg menangis? Kucari sumber suaranya dari
mana datangnya.Setelah kususuri rumah sembari mendengarkan dan mencari
muara dari suara tersebut akhirnya kutemukan juga,ternyata suara itu
berasal dari toilet.
Tok... Tok... Tok...
Aneh...,siapa yg menangis didalam? Suara tangis itu terdengar semakin nyata dan tak kunjung reda.
"Siapa di dalam?"
Tak ada jawaban apapun,aku semakin heran.
"Keluarlah,siapa di dalam? Siapa pun engkau tolong
keluarlah,ceritakan semua keluh kesahmu kepadaku,Insya Allah aku akan
membantu mengatasi permasalahan yg sedang engkau hadapi."
Kutunggu selama 5 menit,tapi tetap tak ada jawaban dan perlahan isak
tangis yg kudengar dari dalam toilet pun menghilang dan tak lama
kemudian suara pintu toilet mulai terbuka.Dan....
"Astaghfirullah,Aisyah... Ada apa dg mu?"
Dia hanya menatapku tajam dan dalam sekali,tapi tak mengatakan
sepatah apa pun matanya sembab,tubuhnya gemetar,pakaiannya
basah,jilbabnya tak beraturan.Aku jadi yakin hatinya pasti sedang kacau
sekali.
"Aisyah...''
Aku mendekat beberapa meter ke arahnya tapi saat kakiku langkahkan
dia pergi dan berlari meninggalkanku dg menyisakan beribu pertanyaan
dalam hatiku.Ada apa sebenarnya ini? Apa yg terjadi dg dirinya? Mengapa
dia menangis,seharusnya kan dia bahagia karena sebentar lagi akan ada
pesta pernikahan antara aku dan Aziz? Bukankah dia juga masih kerabat
dg Aziz? Pertanyaanku tentang Aisyah semakin menjadi saat teringat
bahwa abi tak pernah mau memberi informasi banyak tentang Aisyah
kepadaku.Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya dia.Aku tak ingin
dalam pernikahanku ada air mata yg mengalir lantaran kesedihan,siapa
pun itu orangnya akan kubuat semua turut bahagia atas bersatunya 2 hati
dalam pelaminan nanti.
***
Keesokan harinya,seusai shalat subuh berjamaah...
Aisyah... Siapa dirinya? Abi tak menjawab pertanyaanku tentang siapa
sebenarnya Aisyah dan aku juga tak mungkin menanyakan kepada
Aziz.Walaupun kami akan menikah tapi tetap saja hijabku dg dirinya tetap
harus dijaga sebelum ijab qabul itu terucap.Akhirnya aku terpikir
mengapa tak kutanyakan kepada Bibi Fatimah dan Paman Ahmad saja mereka
berdua kan kerabat terdekat Aziz pasti keduanya akan mengetahui ada apa
sebenarnya antara Aisyah dan aku.Kuputuskan menemui paman Ahmad dan
Bibi Fatimah dikamarnya.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam... Siapa?"
"Aku Nida,bisa aku berbicara dg Bibi sebentar?"
"Tentu saja,tunggu sebentar."
Tak lama,perempuan berjilbab biru panjang keluar dari kamar.
"Ada apa,Nida? Apa yg ingin kau bicarakan?" tanya Bibi Fatimah.
"Na'am,ada yg ingin kubicarakan tapi aku tak ingin ada seorang pun yg mengetahuinya."
"Baiklah kalau begitu,masuklah..."
Bibi Fatimah mempersilakanku masuk,sambil melangkah aku berpikir
keras bagaimana caraku menyampaikan pertanyaan itu kepada Bibi Fatimah.
"Bibi,maaf jika kedatanganku mengganggu."
"Tidak Nida,lagi pula sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari
keluarga kami tak perlu sungkan,katakanlah apa yg ingin kau katakan."
"Sebelumnya aku minta maaf dg sangat jika pertanyaanku menyinggung
hati Bibi karena mungkin ini adalah privasi yg harus dijaga.Bibi,siapa
sebenarnya Aisyah itu? Mengapa tatapan dan perilakunya begitu dingin
terhadapku? Aku pernah menanyakan tentang Aisyah kepada Abi namun abi
tak menjawab sepatah kata pun kemarin aku menemukan Aisyah tengah
menangis ditoilet dan saat aku bertanya kepadanya dia tak menjawab apa
pun.
Ada apa ini sebenarnya? Apa ada yg disembunyikan dariku? Sungguh,aku
tak ingin satu orang pun ada yg tersakiti saat pernikahanku dg Aziz
berlangsung."
Saat itu,ekspresi wajah bibi langsung berubah seakan bingung apa yg
harus dikatakan kepadaku,ia pun terdiam selama beberapa saat.
"Bibi,tolonglah... Aku ingin ada keterbukaan antara kita seperih
apapun kenyataan yg akan kuhadapi.Jadi aku mohon bicaralah padaku."
Bibi Fatimah hanya tertunduk.
"Nida...,sebenarnya..."
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Terdengar telepon genggam Bibi Fatimah berdering.
"Sebentar Nida,Bibi angkat telepon terlebih dahulu."
"Baiklah,silahkan..."
Aku menunggu sekitar 5 menit.
"Nida,sepertinya Bibi tak bisa menjawab pertanyaanmu saat ini barusan
paman Ahmad menghubungi Bibi beliau berkata bahwa baru saja perusahan
kateringnya memberi kabar bahwa Paman dan Bibi harus kesana untuk
melunasi pembayaran kateringnya."
"Tapi,Bibi berikan aku jawaban itu sebelum pergi..."
"Maaf,Nida Bibi dan Paman harus segera kesana."
"Bibi... Aku mohon hanya 5 menit saja."
"Nida sayang,kau pasti akan mengetahuinya disaat yg tepat bukan saat ini.Maafkan kami,kami harus pergi,Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
"Aku hanya bisa menatap Bibi meninggalkanku sendiri dalam perasaan
ingin tahu yg makin memuncak.Siapa Aisyah? Apakah Aisyah adalah? Tapi
tak mungking.Mungkin Bibi benar,saat ini Allah memang belum mengizinkan
aku untuk mengetahui identitas Aisyah yg sebenarnya.Berikan petunjuk
itu jika Kau yakin aku mampu menerima kenyataan yg ada ya Allah,aamiin.
***
Seminggu sebelum pernikahanku...
Tak terasa,rumahku tepatnya rumah yg diberikan oleh pemerintahan
Belanda untuk kujadikan tempat tinggalku selama kutempuh studi di
Belanda kini sudah penuh dg berbagai keperluan perlengkapan
pernikahan.Katering sudah dipesan,undangan sudah dibagikan,aula yg akan
kupergunakan untuk resepsi juga sudah dipersiapkan,beberapa setel baju
pengantin dan make up juga sudah dipesan,beberapa sanak saudaraku dari
Kufah dan Indonesia juga sudah mulai berdatangan.Alhamdulillah,semua
persiapan berjalan dg lancar tak ada satu kendala yg amat berarti
semoga semuanya lancar hingga aku sah menjadi permaisuri Aziz walaupun
entah cinta itu telah tumbuh atau belum dari dalam hatiku tapi yg jelas
dg melihat senyum kebahagiaan yg tersirat diwajah abi,
Itu telah menjadi kebahagiaan terbesar yg kualami.Alhamdulillah,paman
Ahmad,bibi Fatimah,Naila,begitu pun dg saudaraku yg datang dari Kufah
dan Indonesia termasuk Aisyah juga turut membantu.Walaupun aku yakin
dia begitu keberatan saat membantu mempersiapkan acara pernikahanku
tapi dibalik kebahagiaan itu aku merasakan kerinduan yg teramat
sangat,aku rindu terhadap sosok ummi aku ingin ummi menyasikanku
menjadi permaisuri Aziz hari itu,aku inginkan ummi hadir dan daapat
menyaksikanku saat ijab qabul.Ya Rabbi,aku rindu ummiku tolong dekap
selalu ummi dalam naungan Cinta Mu,Ya Allah.Lalu,terbesit di pikiranku
untuk pergi ke pemakaman ummi sebelum berlangsungnya pernikahanku
hingga setelah beberapa lama aku berpikir,aku beranikan diri untuk
bicara nengenai niatku kepada abi tapi kucoba untuk mencari waktu yg
tepat dan akhirnya kutemukan abi sedang duduk santai sambil memandang
foto kecilku yg kuletakkan dikamar.
"Abi..."
"Ya Nida,ada apa?"
"Apa yg sedang abi lakukan? Mengapa abi merenung sendiri dikamarku sambil memandangi foto2 kecilku?"
"Tidak,Nak.Abi hanya merasa bahagia karena hampir saja abi telah usai
menjalankan kewajiban abi dg mendidikmu menjadi wanita shalihah,kau
seorang hafizhah dan abi juga telah berhasil mendapatkan pria shalih
untuk menggantikan posisi abi dalam menjagamu,Nak."
Kulihat abi menatapku penuh cinta dan kasih sayang seakan abi takut akan kehilanganku dan sepertinya abi tak rela melepasku.
"Abi,aku sayang abi..."
Kupeluk erat tubuh ayahku yg ternyata sudah tak sekuat dulu kulitnya
kini mulai keriput,tulang belulangnya sudah dapat kurasakan saat aku
memeluknya matanya kini tak sejernih dahulu.Ya Allah,berikan usia yg
panjang dg disertai keberkahan,kesehatan dan kebahagiaan dunia akherat
untuk abiku,ya Rabb.Kulepaskan eratnya pelukanku pada abi.
"Abi adalah orang tua terbaik yg pernah aku temui,sosok Abi begitu
kukagumi,terima kasih Abi telah mendidikku hingga aku dapat menjadi
seseorang yg baik yg dihormati orang lain."
Keadaan penuh haru biru itu tak berlangsung lama,kuputuskan tuk
bicara akan keinginanku kepemakaman ummi sebelum terlaksananya
pernikahanku.
"Abi...,boleh aku meminta sesuatu pada Abi?"
"Apa,Nak?"
"Izinkan aku ke Kufah,Bi.Aku ingin pergi kepemakaman ummi,aku rindu
sekali padanya izinkan aku ke sana sebelum hari pernikahanku."
"Tapi Nak,waktunya terlalu sempit,pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi."
"Na'am Bi,aku tahu tapi aku mohon Bi..."
Abi menghela nafas sejenak dan tersenyum ke arahku.
"Baiklah,Nak.Abi akan pesankan tiket pesawat untukmu."
Tersungging senyum dibibirku "Terima kasih,Bi.''
"Tapi,kau tak boleh pergi kesana sendiri,bagaimana kalau kau ditemani oleh Bibi Fatimah?"
"Apa tidak merepotkan,Bi?"
"Lebih merepotkan lagi jika kau pergi kesana seorang diri karena Abi
khawatir ada sesuatu yg terjadi dg mu.Abi tak rela jika mutiara Abi
pergi seorang diri tanpa didampingi oleh siapa pun."
Aku tersenyum."Baiklah,Bi..."
Malam harinya...
"Nida..." Bibi Fatimah memanggilku.
"Ya Bibi,ada apa?"
"Tadi,abimu berkata tiket pesawat telah dipesan esok pagi kita berangkat kebandara."
"Benarkah? Aku bahagia mendengarnya aku akan segera bersiap-siap."
Aku langsung terburu-buru meninggalkan Bibi Fatimah dan bergegas ke kamarku,tapi...."
"Nida,tunggu dulu..."
"Ada apa?"
"Nanti saja kau mempersiapankan keperluanmu,sekarang duduklah sebentar."
Aku duduk disamping Bibi Fatimah sedangkan abi,Naila,Aisyah,Paman
Ahmad dan saudara2 ku semua hadir disitu dan tentunya Aziz tak berada
disitu.Abi benar2 menjagaku supaya tak terlalu banyak komunikasi antara
Aziz dan aku karena kami belum sah menjadi sepasang suami istri.
"Nida,tadi sore salah seorang karyawan butik kemari,dia mengantarkan gaun pengantin yg akan kau pakai nanti saat pernikahanmu."
"Benarkah? Aku tak sabar ingin segera melihatnya."
"Nak... Kau bukan hanya boleh melihatnya tapi kau juga boleh mencobanya." ucap abi kepadaku.
Abi memberikan sebuah kotak merah yg didalamnya terdapat gaun pengantinku.
"Kau boleh mencobanya dikamarmu,ambillah."
"Terima kasih,Abi."
Aku masuk kedalam kamarku,kubuka kotak merah yg diberikan oleh abi
tadi.Subhanallah,gaun berwana dasar putih dihiasi manik2 berwarna merah
marun yg kilaunya dapat membuat mataku silau.Untaian bunga melengkapi
indahnya gaun pengantinku,kuraih jilbab panjang berwarna merah muda yg
amat indah disetiap sisinya terdapat pernak-pernik yg bervariasi,kuraih
sepatunya semuanya serasi semuanya indah semuanya membuatku
bahagia.Kemudian kukenakan gaun pengantinku lengkap dg jilbab dan
sepatunya.Aku berdiri didepan kaca.Subhanallah...,cantiknya diriku,aku
berputar mengelilingi kamarku seakan bunga2 taman surga telah Allah
taburkan dalam kamarku,semuanya indah hatiku bahagia sekali.Aku ingin
menunjukannya pada abi dan yg lainnya.Kubuka pintu kamarku dan aku
berjalan ke arah mereka berkumpul dan sesampainya disana semuanya
terdiam seakan tak percaya bahwa akulah yg memakai gaun pengantin
seindah ini.
''Nida,kaukah Nida? Putri mungil abi...?"
Abi memandangku dan menatapku dalam sekali,seakan tak mempercayai
bahwa aku adalah putrinya,yg dahulu masih digendongnya ditaman bunga yg
dahulu masihdiajaknya bermain tapi kini aku sudah tumbuh dewasa bahkan
sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.
''Na'am Abi,ini aku Nida."
"Nida,Aziz beruntung memilihmu menjadi calon pendamping hidupnya,kau
sungguh cantik sekali,laksana bidadari yg Allah turunkan dari surga."
puji paman Ahmad.
"Betul Nida,Bibi kagum sekali padamu selain cantik kau juga seorang
hafizhah dan cerdas juga beruntung sekali abimu memiliki putri
sepertimu." ucap bibi Fatimah.
"Benar,Kak.Kakak cantik sekali jika aku menikah nanti aku ingin memakai gaun seindah gaun yg kakak pakai." kata Naila
Semuanya memandangku dg penuh tatapan bahagia semuanya melihatku dg
rona kekaguman tapi Aisyah justru tak memberikan reaksi apa pun bahkan
dia pun tak melihatku sama sekali apakah mungkin dia membenciku tapi
mengapa? Kemudian tak lama setelah aku memandangnya ku melihat Aisyah
pergi dg wajah yg kurang menyenangkan
Aku menjadi semakin penasaran,mengapa hanya raut kebencian yg
terpancar dari mimik wajah Aisyah setiap bertemu dg diriku.Ya Allah,ada
apa ini sebenarnya?
4 hari pra pernikahanku...
Hari ini adalah hari yg amat kutunggu karena pada hari ini aku akan
berangkat ke Kufah kekota kelahiran ku untuk berziarah ke pemakaman
ummi.Semoga perjalanan ini mendapat keridhaan Mu ya Rabb,hingga aku dan
bibi Fatimah sampai dg selamat.Semua barang kukemasi dalam koper,semua
persiapan telah matang.
"Nida..."
Terdengar suara bibi Fatimah memanggilku.
"Na'am,sebentar lagi aku keluar dari kamarku."
Semua perlengkapan kubawa.Bismillaah...,kulangkahkan kaki dg nama Mu
dan saat aku sampai didepan teras rumah ternyata semuanya telah
menungguku dan kali ini Aziz juga hadir disitu walaupun tak sedetik pun
dia menatap diriku.
"Nak...,hati2 dijalan,jangan lupa berdoa terlebih dahulu." pesan abi.
"Na'am Abi,doakan aku semoga bisa sampai di Kufah dg selamat."
"Fatimah,tolong jaga Nida dg baik ya..." pesan abi kepada bibi Fatimah.
"Insya Allah..." jawab bibi Fatimah.
"Hati-hati,Shabrina..."
Aku terkejut ternyata itu suara Aziz,Dia berbicara kepadaku entah
mengapa dan dimulai sejak kapan kali ini aku benar2 merasa bahagia saat
mendengarkan tutur kata Aziz terhadapku hampir saja aku salah tingkah
dan tanpa memandangnya kuucapkan terima kasih kepadanya tak berapa lama
taksi yg akan mengantarkanku dan bibi Fatimah kebandara datang.Aku pun
pergi meninggalkan rumah dg diiringi kebahagiaan.
BERSAMBUNG......... (Bag 15 of 36)
Rabu, 09 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar