Account

gelembung

cursor

Rabu, 09 Oktober 2013

# SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI # (Bag 6 of 36)

Karya:Putri Indah Wulandari

RABBI...,SALAHKAH LANGKAHKU? (Bag 6)


"Sebaiknya abi istirahat,pasti sangat lelah menempuh perjalanan dari Kufah ke Kairo,sudah kusiapkan kamar untuk Abi."

"Ya...,abi memang sangat lelah."

"Baiklah,aku akan membeli makanan dan minuman untuk kita makan nanti."

"Hati2 dijalan,Anakku."

"Tentu abi,assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam..."

Setelah membeli makanan dan minuman aku langsung kembali kerumah namun dalam perjalanan pulang,aku kembali terbayang tentang pinangan Azhar.Haruskah aku menerima lamarannya ataukah aku harus tetap egois mempertahankan sesuatu yg tak pasti.Istikharahku juga belum terjawab hingga keraguanku kian memuncak.

''Nak...,tolong aku,berikanlah sedikit sedekah untukku.

Pikiranku tentang pinangan Azhar menghilang saat terdengar rintihan seorang wanita tua dg pakaian kumal menatapku penuh harap akhirnya kuberikan sepotong roti yg baru saja kubeli ditoko milik abi A'la.

"Terima kasih Nak,semoga Allah memberikan kenikmatan yg jauh lebih banyak dari apa yg kau harapan.Nak,kemarin adalah mimpi yg telah berlalu,esok adalah cita2 dg harapan yg indah dan hari ini adalah kenyataan.Yg ada dihadapanmu sekarang harus dihadapi dg keyakinan jangan biarkan kegelisahan dan keraguan merenggut tangkai kebahagiaan yg sudah memiliki kuncup bunga yg sebetar lagi akan mekar.Jawaban dari istikharahmu adalah keyakinan yg ada dalam palung hatimu."

"Terima kasih atas nasihatnya."

Aneh...,mengapa wanita tua itu berbicara layaknya dia mengetahui bahwa aku sedang bimbang saat ini namun jawaban dari istikharahku adalah keyakinanku.

***

"Najmi...,apa kau didalam?"

"Ya,aku didalam.Tunggu sebentar,Nida."

"Ada apa?"

"Najmi...,aku takut jika Azhar memenuhi janjinya yg telah tertulis dalam suratnya maka hari ini dia dan ke 2 orang tuanya akan datang untuk meminangku."

"Masuk,dan duduklah terlebih dahulu.Tenangkan pikiranmu rasa takut hanya akan memperkeruh suasana.Nida...,kuatkan pendirianmu aku tak bisa memaksakan keinginanmu,semua tergantung padamu jika benar2 yakin terhadap Azhar maka terima pinangannya dan hiduplah bahagia bersama dirinya dg menghapus bayangan Muhammad Muhsin dari hari2 mu tapi..

"Syukron,Najmi."

Rabbi...,bantu hamba menenangkan hati ini,jadikan semua ini baik2 saja.Tak lama kemudian Najmi kembali ke kamar dg wajah panik.

"Nida,ternyata itu memang benar2 Azhar beserta kedua orang tuanya tapi aneh...,kelihatannya abimu sudah sangat akrab sekali dg kedua orang tua Azhar."

"Mereka hanya datang bertiga?"

"Ya...,mereka hanya datang bertiga."

Tak lama kemudian,abi memanggilku.

"Nida...! Nida...! Kemari sebentar."

"Baik,Abi."

Langkahku berat,hatiku kelam,jiwaku gelap,ketakutan dan kegelisahan mengikuti setiap derap langkahku...

"Na'am Abi,limadza?"

"Duduklah,anakku.Perkenalkan ini Usadz Alfash Muharromi dan ini adalah istrinya Ammah Zakiyyah.Mereka adalah teman abi dari Syria dan yg duduk ditengah ini adalah Muhammad Azhar putra smata wayang dari Ustad Alfash & Ammah Zakiyyah

Saat ini,dia sudah menjadi direktur di salah satu perusahaan pertambangan dipusat kota Kairo,dia juga menjadi asisten dosen di Aleksandri."

Rupanya,abi telah mengenal baik kedua orang tua Azhar jadi tak heran jika Azhar mengetahui bahwa hari ini abi tiba di Kairo dan... Aneh,mengapa abi menyebutkan kelebihan Azhar satu per satu?

"Na'am abi,aku sudah mengenalnya."

Rabbi...,apa yg harus kujawab saat kedua orang tua Azhar menanyakan perihal tentang pinangan tersebut.

"Nida...,kami rasa sudah saatnya kami sebagai orang tua Azhar menjelaskan maksud dan tujuan kami kemari." tutur Ustadz Alfash.

Detuk jantungku semakin tak menentu,apa yg harus kukatakan kepada kedua orang tua Azhar.Bagaimana juga dg abi,apa yg akan terjadi jika abi mengetahui bahwa aku menolak pinangan dari sahabat karib Abi untuk putranya.

"Nida...,kami rasa kau sudah mengerti maksud kami.Kami datang kemari ingin meminangmu untuk putra semata wayang kami."

Akhirnya...,kata2 itu terucap juga dari lisan orang tua Azhar.Ya Allah...,tetapkan keyakinan dalam setiap istikharahku....

"Nida...,apa kau bersedia menjadi pendamping hidup bagi putra kami?"

Aku hanya terdiam,terdiam dalam keresahan.Aku hanya takut apabila abi kecewa dan marah padaku jika kutolak pinangan Azhar.

"Anakku Nida,mengapa kau hanya terdiam? Biasanya diamnya seorang wanita adalah pertanda setuju atas setiap perkara yg dihadapinya."

"Tidak,abi... Maafkan aku...,Ustadz Alfash...,Ammah Zakiyyah... Azhar... Maafkan aku,aku tak bisa menerima pinangan ini,keyakinanku tidak tertanam pada Azhar tak bisa kubohongi perasaan ini.Azhar...,kak adalah ikhwan yg sempurna yg pernah kutemui dalam hidupku kuakui kau sangat tampan,akhlakmu baik,sikapmu santun kau pemuda sukses bahkan nasabmu pun baik,abimu seorang pendiri pesantren terbesar di Syria dan Ummimu adalah ketua Forum Muslimah Syria semuanya terlihat sempurna namun... Bukan dirimu yg selalu hadir dalam mimpi dan nyataku.Kau pantas mendapatkan yg lebih baik dari diriku.Afwan,Azhar..."


"Anakku...,apa kau yakin dg keputusanmu?"

"Na'am,Abi.Jawaban yg kuucapkan tadi adalah petunjuk dalam istikharahku."

Akhirnya,semuanya sudah berakhir.Alhamdulillah...,Allah membantuku merangkai kata sehalus mungkin supaya tak menyinggung perasaan Azhar dan keluarganya tapi tetap saja raut wajah abi menunjukan sebuah kekecewaan yg amat besar rupanya aku telah begitu mengecewakannya.Maafkan Nida,abi....

***

Pagi ini...,kulihat mentari dg penuh harapan,harapan untuk menuju suatu kebahagiaan yg abadi.Aku yakin kebahagiaan itu bukanlah khayalan melainkan kenyataan yg telah dirasakan dan dibuktikan oleh banyak orang dan aku yakin Allah akan membuktikan kebesaran Nya dg memberikan kebahagiaan itu kepadaku.

"Nida...,apa kau menyesali keputusanmu menolak pinangan Azhar?"

"Entahlah Najmi,apabila kuingat kejadian itu,sempat terbesit dalam benakku sebuah penyesalan namun kuteguhkan kembali keyakinanku bahwa Allah tak mungkin salah memilihkan jodoh untukku."

"Nida...,sebenarnya aku sangat menyayangkan keputusanmu itu,kau telah menyia-nyiakan kebahagiaan yg sudah ada didepan matamu.Hidup ini singkat bahkan terlalu singkat untuk dibayangkan oleh karena itu jangan membuatnya lebih singkat lagi dg sesuatu yg sia2."

"Tapi,ini bukan suatu kesia-siaan Najmi,ini adalah keyakinan yg merupakan jawaban dari istikharahku."

"Baiklah,Nida... Aku hanya bisa mendoakan yg terbaik untukmu,bebaskan dirimu dari kebimbangan dan keraguan selalu bersikap tegar dalam menghadapi apapun.Hadapilah kenyataan ini dg pasti lakukanlah sesuatu yg terbaik untuk kehidupanmu karena kegelisahan dan keraguan adalah sahabat karib kekosongan tapi,kau juga harus ingat sahabatku...,tak selamanya harapan2 itu terwujud karena ia bagaikan angin belum tentu berhembus sesuai keinginan."

"Ya...,memang mempertahankan cinta yg tak nyata sangatlah sulit sama sulitnya dg mengarahkan busur anak panah pada kijang yg berlari bahkan lebih sulit dari itu tapi semua ini Allah yg memberikannya & Allah pula yg akan menjaga & mengambilnya dari hatiku."

***

Hari2 ku kembali indah seperti dulu,kucoba melupakan dan menganggap tidak pernah mengalami kejadian dihari itu saat Azhar dan kedua orang tuanya datang untuk meminangku.Tapi...,hari ini benar2 menjadi hari yg sangat mendebarkan bagiku karena hari ini adalah hari pertamaku memikul beban berat sebagai seorang pemimpin.Aku dinobatkan menjadi Ketua Himpunan Muslimah Kairo mudah-mudahan Allah senantiasa membantu diriku.

"Assalamu'alaikum,Nida..."

Kuarahkan pandanganku pada seseorang yg mengucapkan salam padaku.Ah...,ternyata Azhar aku tertunduk malu,malu sekali hingga tak sanggup kuarahkan pandanganku.

"Wa'alaikum salam,Azhar...."

"Nida...,selamat atas terpilihnya dirimu sebagai Ketua Himpunan Muslimah Kairo."

"Selama? Sungguh...,bukan ucapan selamat yg kuharapkan aku mengharapkan doa tulusmu agar diriku dapat menjalani amanah ini dg baik."

"Tanpa kau minta dan pastinya tanpa kau sadari jauh sebelum detik ini namamu selalu terucap dalam doa tulusku kepada Sang Khaliq."

"Syukron,Azhar... Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu...,boleh?"

"Tentu saja boleh,katakanlah...."

"Azhar...,apakah setelah peristiwa kemarin kau menyimpan dendam kepadaku?"

"Demi Allah Nida,tak pernah terbesit sedikit pun dalam hatiku untuk membenci seorang muslimah yg dicintai oleh Allah seperti dirimu.Entah mengapa,cinta dalam hatiku semakin bersemi saat kau menolak cintaku...,walaupun akhirnya aku sadar aku tak pernah ada dalam hatimu."

Aku terdiam,tubuhku kaku mendengar pernyataan Azhar,bibirku kelu seakan terkunci,hingga satu kata pun tak bisa kuucapkan,hatiku pilu,menangis didalam kalbu.Rabbi...,begitu besarkah cinta Azhar kepadaku.

"Nida...,jika kau mengizinkan aku ingin kau menjawab semua pertanyaanku."

"Pertanyaan apa,Azhar? Katakanlah,Insya Allah aku akan menjawabnya."

"Sebenarnya,siapakah insan beruntung yg telah mendapatkan hatimu?"

"Mengapa kau tanyakan itu,Azhar? Apa kau tak menerima keputusanku?"

"Sungguh...,demi nama Rabb ku,aku menerima apa pun keputusanmu dg lapang dada karena menurutku Allah yg telah menggariskan semua ini dan semuanya pasti berujung indah."

"Lantas...?"

"Aku hanya ingin mengetahuinya saja dan ingin mengambil banyak pelajaran darinya."

"Tak mungkin,kau tak mungkin dapat mengenalnya,apalagi belajar banyak dari dia."

"Mengapa?"

"Karena..."

"Karena apa,Nida...? Tolong jawab pertanyaanku."

Tiba2 dari arah yg berlawanan Najmi memanggilku.

"Nida...! Nida...! Ustadz Abbas memanggilmu dikantor."

"Na'am..."

Akhirnya aku tak membuka jati diri Muhammad Muhsin kepada Azhar tapi aku yakin dilain waktu dia pasti akan menanyakan hal ini kembali kepadaku.Ah...,apa yg harus aku lakukan?

"Afwan,Azhar... Ustadz Abbas memanggilku.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam..."

BERSAMBUNG.... (Bag 7 of 36)

1 komentar: