Account

gelembung

cursor

Rabu, 09 Oktober 2013

# SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI # (Bag 7 & 8 of 36)

Karya:Putri Indah Wulandari

PRESTASIKU MENYENTUH LANGIT (Bag 7)


Dikantor...

"Assalamu'alaikum,Ustadz..."

"Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh... Sabrina Lailatun Nida?"

"Na'am,Ustadz... Apa gerangan yg membuat Ustadz memanggil saya?"

"Nida....,Universitas Aleksandria Kairo dan Universitas Utrecht Amsterdam Belanda akan mengadakan pertukaran mahasiswa dan kau terpilih menjadi salah satu perwakilan dari Universitas Aleksandria Kairo dalam prodi ilmu kedokteran islam.Teman2 mu yg terpilih lainnya juga sudah kuberitahu.Kau dan teman2 mu akan berangkat ke Amsterdam sebagai utusan dari Aleksandria Kairo 2 bulan lagi.Persiapkan dirimu baik2,kami mempercayakan hal ini kepadamu karena kami yakin kau takkan mengecewakan Aleksandria jadilah yg terbaik dimanapun kau berpijak."

"Alhamdulillah... Lalu,berapa lama pertukaran mahasiswa ini akan berlangsung,Ustadz?"

"Tak lama,hanya satu semester dan begitu kau kembali kau sudah dapat diwisuda dan apabila nilaimu melebihi standar kami akan langsung merekomendasikanmu untuk melanjutkan studi ilmu kedokteran barat di Amerika Serikat."

"Mengapa di Amerika,Ustadz? Bukankah prodiku adalah ilmu kedokteran islam?"

"Memang benar,prodimu adalah ilmu kedokteran islam.Di Amerika kau hanya mempelajari kecanggihan teknologi kedokteran Barat itu berguna bagi dirimu.Ingatlah,Nak.Belajarlah dari mana pun dan dimana pun Ambillah manfaat dari semuanya ini."

"Baiklah Ustadz,kini aku mengerti.Terima kasih."

"Ya...,sekarang kau boleh pergi."

"Terima kasih,Ustadz.Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Alhamdulillah... Puji syukur kehadirat Mu,Rabbi... Tersungkurku dalam sujud syukur disetiap waktuku.Abi pasti akan sangat bangga kepadaku jika mendengar hal ini dan ummi juga pasti akan tersenyum melihatku dari surga.

=====================================

TERNYATA DIA MEMAHAMI HATIKU (Bag 8)

Sejak Ustadz Abbas Rektor Universitas Al Azhar Kairo memanggilku dan memberitahuku bahwa aku dipercaya mewakili Aleksandria dalam pertukaran mahasiswa Mesir-Belanda.Hari2 ku tak pernah lepas dari buku2 kedokteran islam yg tebalnya melebihi tafsir Al Azhar dan tafsir Jalalah.Ternyata jalan menuju keberhasilan memang sulit tapi Insya Allah aku ikhlas melakukan ini semua dan aku pun hampir melupakan Muhammad Muhsin.Aku mulai jarang mengingatnya dan mulai bertekad untuk konsentrasi dahulu terhadap prestasiku hingga tak terasa waktu keberangkatanku ke Belanda tinggal sebulan lagi.

"Assalamu'alaikum,Nida...."

Azhar... Ada apa dia menemuiku...

"Wa'alaikum salam,Azhar.... Apa yg sedang kau lakukan disini?"

"Nida...,satu bulan lamanya aku telah menunggu kelanjutan perkataanmu yg sempat tertunda saat itu."

Ternyata Azhar masih ingin mengetahui tentang Muhammad Muhsin.Apa yg harus aku katakan kepadanya,aku tak mungkin menghindar lagi darinya saat ini.

"Ah... Maaf,perkataanku yg mana?"

"Aku yakin,sebenarnya kau sudah mengetahui maksudku tapi baiklah akan kuulangi kembali pertanyaanku kepadamu.Mengapa aku tak mungkin dapat bertemu apalagi mengenal sosok insan yg telah bertahta dihatimu? Tolong jawab Nida,apakah dia adalah insan yg sangat shalih hingga wanita shalihah sepertimu begitu mencintainya dg tulus?"

Azhar mengingatkanku kembali kepada Muhammad Muhsin.Padahal,saat ini aku sedang berusaha melupakan dirinya agar konsentrasi belajarku tak terganggu.Selain itu,ahhh...aku lelah.Aku lelah dg kepalsuan cinta ini.

"Demi Allah Azhar,kau telah menghancurkan semuanya,kau tak menghargai usahaku...."

Tanpa sadar,air mataku jatuh aku tak kuasa menahan air mataku lagi.

"Apa maksudmu,Nida? Aku? Tak menghargai usahamu? Usaha yg mana? Usaha untuk apa?"

Aku hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.. Bibirku kelu.Hanya isak tangis yg terdengar saat ini.

"Nida..,mengapa kau diam? Dan mengapa kau berkata bhwa aku menghancurkan &tak menghargai usahamu? Apa kau tak mau menjawab pertanyaanku?

Baiklah...,aku minta maaf karena telah membuatmu menangis."

"Karena kau mengungkit semuanya,karena kau membuat usahaku selama sebulan ini untuk melupakannya sia2,karena kau telah mengembalikanku ke tempat dimana kuberpijak dulu padahal aku sudah berlari jauh bahkan sangat jauh kau tak akan mengerti berapa beratnya hatiku melupakan dirinya.Kali ini apa yg akan kau tanyakan lagi kepadaku? Air mataku sudah terlanjur jatuh.Kau pasti ingin bertanya mengapa kau tidak bisa menemuinya.Itu pertanyaan selanjutnya yg akan kau tanyakan kepadaku?"

"Nida...,bukan maksudku untuk...."

"Sudahlah... Kau pasti ingin mengetahui mengapa aku berkata kau tak akan pernah bisa bertemu dg nya,apa lagi untuk mengenalnya? Iya kan?"

"Maaf Nida,maafkan aku...."

Entah mengapa,emosiku tak bisa kupendam bahkan tak segan lagi kutampakkan linangan air mata yg membasahi pipiku kepada Azhar.

"Azhar...,kau tahu? Itu semua karena aku juga belum pernah bertemu dg dirinya,apalagi untuk mengenalnya."

"Apa maksudmu?"

Sangat tampak raut muka terheran-heran pada wajah Azhar,seakan dia tak mempercayai semua yg telah aku katakan kepadanya.

"Ya,Azhar... Aku hanya mencintai sesosok bayangan yg tak nyata dalam kehidupanku."

"Nida...,apa kau sadar akan kata2 mu tadi?"

"Ya,bahkan melebihi kesadaranku..."

"Jadi,kau menolak pinanganku hanya karena mempertahankan dan mengharapkan cinta dari sesosok bayangan?"

"Afwan,Azhar... Tapi itu yg sebenarnya itulah yg selama ini aku rasakan aku sudah berusaha pergi dan melupakan kenangan yg sebenarnya tak pernah terukir nyata tapi usaha yg kulakukan semuanya sia2 termasuk kali ini.Mungkin kau akan menganggapku wanita yg paling bodoh lantaran menolak pinangan dari insan yg baik sepertimu."

Kembali pipiku basah karena air mataku sendiri.Rabbi...,kenapa semua terungkap kembali?

"Tidak,Nida... Sungguh tak sedikitpun terbesit pemikiran seperti itu dalam hatiku.Hentikan air matamu dan wujudkan mimpimu."

"Apa maksudmu,Azhar?"

"Ya Nida...,memang Allah berfirman:"Berdoalah,maka akan Kukabulkan doamu,tapi kau juga harus mengingat Firman Nya yg lain: 'Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yg berusaha untuk merubahnya.Jika kau hanya terdiam terhanyut dalam kesedihan dan melayang bersama kebahagiaan yg belum pasti,maka hal itu tak akan terwujud,semua sia2 Nida tak berbuah sedikit pun."

"Tapi,Azhar... Kau tak mengerti apa yg aku rasakan selama ini.Kondisiku yg memaksaku diam tanpa usaha selama 5 tahun lamanya."

"Apa? 5 tahun? Nida...,kau adalah akhwat yg shalihah,beriman,dan cerdas tapi mengapa kau tidak menggunakan akal sehatmu? Aku yakin bukan hanya aku yg berbicara dan mengingatkanmu seperti ini pasti selama 5 tahun itu sudah sangat banyak orang yg berbicara seperti itu padamu.Aku yakin orang2 terdekatmu telah berusaha menasehatimu tapi kau selalu membantah dan meyakinkan mereka dg jawaban 'sungguh aku sangat yakin pada semua ini dan aku percaya bahwa Allah akan selalu mengikuti perasaan hamba Nya' dan akhirnya semua orang yg berusaha meyakinkanmu hanya terdiam mendengarkan semua alibimu tapi itu tidak berlaku padaku Nida,aku yakin semua akan terjadi dg izin Nya tapi perlu kau ingat semua itu bisa didapat karena usaha yg keras."

"Azhar....''

"Sekarang kau baru menyadari semuanya? Kau menyesal,Nida?"

Jujur aku malu padanya,mengapa harus pemuda yg sudah kutolak pinangannya yg harus meyakinkanku seperti ini...

"Sungguh Nida...,maafkan aku tiada maksud lain kecuali aku tak menginginkan bidadariku terus hidup dalam pengharapan kosong.Aku hanya ingin kau merasakan kebahagiaan yg sebenarnya,meskipun hatiku yg harus tersayat melihatnya tapi setidaknya aku bisa membuktikan kepadamu dan kepada semua orang bahwa aku mencintaimu bukan karena paras dan kecerdasanmu semata tapi karena Dzat yg menciptakanmu,menciptakanku dan Dzat yg telah menciptakan cinta dihatiku."

Aku hanya terdiam dan menangis mendengar semua penuturan Azhar,aku baru menyadari bahwa selama 5 tahun lamanya aku hanya berdiam ditempat tanpa melangkah walaupun hanya sehasta.

"Nida...,sudahlah.Setiap insan pasti kerap kali melakukan kesalahan tapi setelah kau menyadari semua ini kau harus memperbaikinya sebaik mungkin jangan biarkan penyesalan ini hadir untuk yg kedua kalinya."

"Tapi,aku...."

"Apa lagi,Nida? Kali ini,tolong anggap aku sebagai sahabatmu,lupakan bahwa aku pernah meminangmu hilangkan memori bahwa aku mencintaimu dan anggaplah aku sebagai seseorang yg selalu menginginkan kebahagiaan atas dirimu,izinkan aku membahagiakan saudaraku.Nah,sekarang katakanlah siapa insan yg kau cintai itu..."

"Baiklah...,namanya Muhammad Muhsin putra dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil kediamannya di Madinah."

"Apa? Ustadz Muhsin Abdul Jalil? Pendiri pesantren Al Firdaus yg memiliki ribuan santri itu?"

"Ya... Benar,Azhar...," ucapku sambil menganggukkan kepalaku.

"Sungguh,Nida... Kau telah menyia-nyiakan petujuk besar yg telah Allah berikan kepadamu,aku bingung mengapa tak dari dulu kau berusaha untuk membuka semua tabir rahasia ini."

"Karena kondisiku yg memaksaku terdiam tanpa usaha."

"Kondisi seperti apa? Kondi7i karena menurutmu hanya pria sajalah yg pantas untuk mengejar wanita? Lalu,mengapa kau tak mengingat kisah cinta Rasulullah Muhammad dan Ibunda Khadijah,bukankah Ibunda Khadijah yg melamar Rasulullah? Tapi,tak sedikitpun kemuliaan Ibunda Khadijah berkurang tapi justru bertambah karena bisa menikah dg insan utama dibumi ini."

Azhar,sungguh aku malu kepada dirimu mengapa seakan kau mengetahui setiap pemikiran dalam akalku dan perasaan dalam hatiku.Beribu pertanyaan sesaat singgah dalam hatiku.

"Mengapa kau diam,Nida?"

"Aku?"

Rabbi...,jawaban apa yg harus kuberikan pada Azhar.

"Sudahlah Nida,kau tak perlu menjawab pertanyaanku.Aku tahu bagaimana kondisi hatimu saat ini,besok aku akan ke Madinah untuk menemui Ustad Muhsin Abdul Jalil dan putranya."

Sempat tersentak hatiku mendengar penuturan Azhar barusan dan sempat terbesit dalam pikiranku bahwa dia hanyalah ingin menghiburku.Aku terdiam cukup lama dan kemudian terdengar suara Azhar.

"Assalamu'alaikum...."

Aku melihat Azhar yg melangkah semakin jauh darikum.

"Wa'alaikum salam,Azhar..."

Kini,sosoknya tak lagi kulihat,Azhar berjalan semakin jauh dariku.Entahlah,sungguh sedihnya diri ini mendengar penuturan Azhar.Maafkan aku,Azhar....,maafkan aku.

***

"Assalamu'alaikum,Najmi....,"kuucap salam saat aku memasuki pintu rumah.

"Wa'alaikum salam,Nida... Lho,sepertinya matamu sembab? Kau menangis? Ada apa?"

"Azhar..."

"Azhar? Ada apa dg Azhar,Nida?"

Najmi mengingatkanku pada kejadian yg barusan terjadi diserambi masjid.

"Nida...,jawab aku.Ada apa dg Azhar?"

"Tadi...,di masjid Azhar berbicara kepadaku."

"Afwan,Nida.Tak sengaja aku mendengar semua pembicaraanmu dg Azhar..."
"Jadi,kau sudah mengetahui semuanya?"

"Ya...."

"Najmi,apa yg harus aku lakukan? Aku malu,malu bertemu dg Azhar entah dari mana dia dapat mengetahui seluruh isi hatiku yg kupendam 5 tahun lamanya."

"Aku setuju dg pendapat Azhar,kau harus berusaha menggapai mimpimu dg suatu usaha nyata bukan dg diam dan berkhayal."

"Tapi Najmi...,aku merasa bersalah pada Azhar.Aku ingat saat kutolak pinangannya tapi bukannya membenciku justru dia banyak memberikan nasihat kepadaku."

"Nida...,kau tahu bagaimana perasaan Azhar saat menasihatimu tadi? Dia hanya berusaha tegar didepanmu,tapi sebenarnya..."

"Kenapa?"

"Tapi sebenarnya dia menangis,aku melihatnya saat dia memalingkan wajahnya dari hadapanmu butiran air mata itu jatuh dari matanya."

"Maksudmu?"

"Ya... Nida,Azhar menangis."

"Apa?"

Perasaan bersalahku semakin besar,kulihat dirinya begitu tegar saat mengatakan semuanya kepadaku,sorot matanya begitu tulus saat menghadapi semua kenyataan ini.Belum pernah kutemui insan nyata yg memiliki cinta setulus cintanya.Hatiku mulai terketuk,andai aku bisa berpaling dari Muhammad Muhsin dan menerima Azhar dihatiku.Andai,dari dulu Azhar berbicara seperti ini kepadaku tepatnya sebelum pinangannya untukku pasti saat dia dan kedua orang tuanya datang untuk meminangku aku akan menerimanya.

Rabbi...,tapi ini semua sudah Kau gariskan tak kuasa diriku merubahnya.Satu pintaku pada Mu Rabbi,berikan pendamping hidup kepadaku seorang insan yg memiliki cinta setulus Azhar.

BERSAMBUNG... (Bag 9 of 36)

0 komentar:

Posting Komentar