Karya:Putri Indah Wulandari
PRESTASIKU MENYENTUH LANGIT (Bag 7)
Dikantor...
"Assalamu'alaikum,Ustadz..."
"Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh... Sabrina Lailatun Nida?"
"Na'am,Ustadz... Apa gerangan yg membuat Ustadz memanggil saya?"
"Nida....,Universitas Aleksandria Kairo dan Universitas Utrecht
Amsterdam Belanda akan mengadakan pertukaran mahasiswa dan kau terpilih
menjadi salah satu perwakilan dari Universitas Aleksandria Kairo dalam
prodi ilmu kedokteran islam.Teman2 mu yg terpilih lainnya juga sudah
kuberitahu.Kau dan teman2 mu akan berangkat ke Amsterdam sebagai utusan
dari Aleksandria Kairo 2 bulan lagi.Persiapkan dirimu baik2,kami
mempercayakan hal ini kepadamu karena kami yakin kau takkan mengecewakan
Aleksandria jadilah yg terbaik dimanapun kau berpijak."
"Alhamdulillah... Lalu,berapa lama pertukaran mahasiswa ini akan berlangsung,Ustadz?"
"Tak lama,hanya satu semester dan begitu kau kembali kau sudah dapat
diwisuda dan apabila nilaimu melebihi standar kami akan langsung
merekomendasikanmu untuk melanjutkan studi ilmu kedokteran barat di
Amerika Serikat."
"Mengapa di Amerika,Ustadz? Bukankah prodiku adalah ilmu kedokteran islam?"
"Memang benar,prodimu adalah ilmu kedokteran islam.Di Amerika kau
hanya mempelajari kecanggihan teknologi kedokteran Barat itu berguna
bagi dirimu.Ingatlah,Nak.Belajarlah dari mana pun dan dimana pun
Ambillah manfaat dari semuanya ini."
"Baiklah Ustadz,kini aku mengerti.Terima kasih."
"Ya...,sekarang kau boleh pergi."
"Terima kasih,Ustadz.Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Alhamdulillah... Puji syukur kehadirat Mu,Rabbi... Tersungkurku dalam
sujud syukur disetiap waktuku.Abi pasti akan sangat bangga kepadaku
jika mendengar hal ini dan ummi juga pasti akan tersenyum melihatku
dari surga.
=====================================
TERNYATA DIA MEMAHAMI HATIKU (Bag 8)
Sejak Ustadz Abbas Rektor Universitas Al Azhar Kairo memanggilku dan
memberitahuku bahwa aku dipercaya mewakili Aleksandria dalam pertukaran
mahasiswa Mesir-Belanda.Hari2 ku tak pernah lepas dari buku2
kedokteran islam yg tebalnya melebihi tafsir Al Azhar dan tafsir
Jalalah.Ternyata jalan menuju keberhasilan memang sulit tapi Insya
Allah aku ikhlas melakukan ini semua dan aku pun hampir melupakan
Muhammad Muhsin.Aku mulai jarang mengingatnya dan mulai bertekad untuk
konsentrasi dahulu terhadap prestasiku hingga tak terasa waktu
keberangkatanku ke Belanda tinggal sebulan lagi.
"Assalamu'alaikum,Nida...."
Azhar... Ada apa dia menemuiku...
"Wa'alaikum salam,Azhar.... Apa yg sedang kau lakukan disini?"
"Nida...,satu bulan lamanya aku telah menunggu kelanjutan perkataanmu yg sempat tertunda saat itu."
Ternyata Azhar masih ingin mengetahui tentang Muhammad Muhsin.Apa yg
harus aku katakan kepadanya,aku tak mungkin menghindar lagi darinya
saat ini.
"Ah... Maaf,perkataanku yg mana?"
"Aku yakin,sebenarnya kau sudah mengetahui maksudku tapi baiklah
akan kuulangi kembali pertanyaanku kepadamu.Mengapa aku tak mungkin
dapat bertemu apalagi mengenal sosok insan yg telah bertahta dihatimu?
Tolong jawab Nida,apakah dia adalah insan yg sangat shalih hingga
wanita shalihah sepertimu begitu mencintainya dg tulus?"
Azhar mengingatkanku kembali kepada Muhammad Muhsin.Padahal,saat ini
aku sedang berusaha melupakan dirinya agar konsentrasi belajarku tak
terganggu.Selain itu,ahhh...aku lelah.Aku lelah dg kepalsuan cinta ini.
"Demi Allah Azhar,kau telah menghancurkan semuanya,kau tak menghargai usahaku...."
Tanpa sadar,air mataku jatuh aku tak kuasa menahan air mataku lagi.
"Apa maksudmu,Nida? Aku? Tak menghargai usahamu? Usaha yg mana? Usaha untuk apa?"
Aku hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.. Bibirku kelu.Hanya isak tangis yg terdengar saat ini.
"Nida..,mengapa kau diam? Dan mengapa kau berkata bhwa aku
menghancurkan &tak menghargai usahamu? Apa kau tak mau menjawab
pertanyaanku?
Baiklah...,aku minta maaf karena telah membuatmu menangis."
"Karena kau mengungkit semuanya,karena kau membuat usahaku selama
sebulan ini untuk melupakannya sia2,karena kau telah mengembalikanku ke
tempat dimana kuberpijak dulu padahal aku sudah berlari jauh bahkan
sangat jauh kau tak akan mengerti berapa beratnya hatiku melupakan
dirinya.Kali ini apa yg akan kau tanyakan lagi kepadaku? Air mataku
sudah terlanjur jatuh.Kau pasti ingin bertanya mengapa kau tidak bisa
menemuinya.Itu pertanyaan selanjutnya yg akan kau tanyakan kepadaku?"
"Nida...,bukan maksudku untuk...."
"Sudahlah... Kau pasti ingin mengetahui mengapa aku berkata kau tak
akan pernah bisa bertemu dg nya,apa lagi untuk mengenalnya? Iya kan?"
"Maaf Nida,maafkan aku...."
Entah mengapa,emosiku tak bisa kupendam bahkan tak segan lagi kutampakkan linangan air mata yg membasahi pipiku kepada Azhar.
"Azhar...,kau tahu? Itu semua karena aku juga belum pernah bertemu dg dirinya,apalagi untuk mengenalnya."
"Apa maksudmu?"
Sangat tampak raut muka terheran-heran pada wajah Azhar,seakan dia tak mempercayai semua yg telah aku katakan kepadanya.
"Ya,Azhar... Aku hanya mencintai sesosok bayangan yg tak nyata dalam kehidupanku."
"Nida...,apa kau sadar akan kata2 mu tadi?"
"Ya,bahkan melebihi kesadaranku..."
"Jadi,kau menolak pinanganku hanya karena mempertahankan dan mengharapkan cinta dari sesosok bayangan?"
"Afwan,Azhar... Tapi itu yg sebenarnya itulah yg selama ini aku
rasakan aku sudah berusaha pergi dan melupakan kenangan yg sebenarnya
tak pernah terukir nyata tapi usaha yg kulakukan semuanya sia2 termasuk
kali ini.Mungkin kau akan menganggapku wanita yg paling bodoh lantaran
menolak pinangan dari insan yg baik sepertimu."
Kembali pipiku basah karena air mataku sendiri.Rabbi...,kenapa semua terungkap kembali?
"Tidak,Nida... Sungguh tak sedikitpun terbesit pemikiran seperti itu dalam hatiku.Hentikan air matamu dan wujudkan mimpimu."
"Apa maksudmu,Azhar?"
"Ya Nida...,memang Allah berfirman:"Berdoalah,maka akan Kukabulkan
doamu,tapi kau juga harus mengingat Firman Nya yg lain: 'Allah tidak
akan merubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yg berusaha untuk
merubahnya.Jika kau hanya terdiam terhanyut dalam kesedihan dan melayang
bersama kebahagiaan yg belum pasti,maka hal itu tak akan
terwujud,semua sia2 Nida tak berbuah sedikit pun."
"Tapi,Azhar... Kau tak mengerti apa yg aku rasakan selama ini.Kondisiku yg memaksaku diam tanpa usaha selama 5 tahun lamanya."
"Apa? 5 tahun? Nida...,kau adalah akhwat yg shalihah,beriman,dan
cerdas tapi mengapa kau tidak menggunakan akal sehatmu? Aku yakin bukan
hanya aku yg berbicara dan mengingatkanmu seperti ini pasti selama 5
tahun itu sudah sangat banyak orang yg berbicara seperti itu padamu.Aku
yakin orang2 terdekatmu telah berusaha menasehatimu tapi kau selalu
membantah dan meyakinkan mereka dg jawaban 'sungguh aku sangat yakin
pada semua ini dan aku percaya bahwa Allah akan selalu mengikuti
perasaan hamba Nya' dan akhirnya semua orang yg berusaha meyakinkanmu
hanya terdiam mendengarkan semua alibimu tapi itu tidak berlaku padaku
Nida,aku yakin semua akan terjadi dg izin Nya tapi perlu kau ingat
semua itu bisa didapat karena usaha yg keras."
"Azhar....''
"Sekarang kau baru menyadari semuanya? Kau menyesal,Nida?"
Jujur aku malu padanya,mengapa harus pemuda yg sudah kutolak pinangannya yg harus meyakinkanku seperti ini...
"Sungguh Nida...,maafkan aku tiada maksud lain kecuali aku tak
menginginkan bidadariku terus hidup dalam pengharapan kosong.Aku hanya
ingin kau merasakan kebahagiaan yg sebenarnya,meskipun hatiku yg harus
tersayat melihatnya tapi setidaknya aku bisa membuktikan kepadamu dan
kepada semua orang bahwa aku mencintaimu bukan karena paras dan
kecerdasanmu semata tapi karena Dzat yg menciptakanmu,menciptakanku dan
Dzat yg telah menciptakan cinta dihatiku."
Aku hanya terdiam dan menangis mendengar semua penuturan Azhar,aku
baru menyadari bahwa selama 5 tahun lamanya aku hanya berdiam ditempat
tanpa melangkah walaupun hanya sehasta.
"Nida...,sudahlah.Setiap insan pasti kerap kali melakukan kesalahan
tapi setelah kau menyadari semua ini kau harus memperbaikinya sebaik
mungkin jangan biarkan penyesalan ini hadir untuk yg kedua kalinya."
"Tapi,aku...."
"Apa lagi,Nida? Kali ini,tolong anggap aku sebagai sahabatmu,lupakan
bahwa aku pernah meminangmu hilangkan memori bahwa aku mencintaimu dan
anggaplah aku sebagai seseorang yg selalu menginginkan kebahagiaan atas
dirimu,izinkan aku membahagiakan saudaraku.Nah,sekarang katakanlah
siapa insan yg kau cintai itu..."
"Baiklah...,namanya Muhammad Muhsin putra dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil kediamannya di Madinah."
"Apa? Ustadz Muhsin Abdul Jalil? Pendiri pesantren Al Firdaus yg memiliki ribuan santri itu?"
"Ya... Benar,Azhar...," ucapku sambil menganggukkan kepalaku.
"Sungguh,Nida... Kau telah menyia-nyiakan petujuk besar yg telah
Allah berikan kepadamu,aku bingung mengapa tak dari dulu kau berusaha
untuk membuka semua tabir rahasia ini."
"Karena kondisiku yg memaksaku terdiam tanpa usaha."
"Kondisi seperti apa? Kondi7i karena menurutmu hanya pria sajalah yg
pantas untuk mengejar wanita? Lalu,mengapa kau tak mengingat kisah
cinta Rasulullah Muhammad dan Ibunda Khadijah,bukankah Ibunda Khadijah
yg melamar Rasulullah? Tapi,tak sedikitpun kemuliaan Ibunda Khadijah
berkurang tapi justru bertambah karena bisa menikah dg insan utama
dibumi ini."
Azhar,sungguh aku malu kepada dirimu mengapa seakan kau mengetahui
setiap pemikiran dalam akalku dan perasaan dalam hatiku.Beribu
pertanyaan sesaat singgah dalam hatiku.
"Mengapa kau diam,Nida?"
"Aku?"
Rabbi...,jawaban apa yg harus kuberikan pada Azhar.
"Sudahlah Nida,kau tak perlu menjawab pertanyaanku.Aku tahu bagaimana
kondisi hatimu saat ini,besok aku akan ke Madinah untuk menemui Ustad
Muhsin Abdul Jalil dan putranya."
Sempat tersentak hatiku mendengar penuturan Azhar barusan dan sempat
terbesit dalam pikiranku bahwa dia hanyalah ingin menghiburku.Aku
terdiam cukup lama dan kemudian terdengar suara Azhar.
"Assalamu'alaikum...."
Aku melihat Azhar yg melangkah semakin jauh darikum.
"Wa'alaikum salam,Azhar..."
Kini,sosoknya tak lagi kulihat,Azhar berjalan semakin jauh
dariku.Entahlah,sungguh sedihnya diri ini mendengar penuturan
Azhar.Maafkan aku,Azhar....,maafkan aku.
***
"Assalamu'alaikum,Najmi....,"kuucap salam saat aku memasuki pintu rumah.
"Wa'alaikum salam,Nida... Lho,sepertinya matamu sembab? Kau menangis? Ada apa?"
"Azhar..."
"Azhar? Ada apa dg Azhar,Nida?"
Najmi mengingatkanku pada kejadian yg barusan terjadi diserambi masjid.
"Nida...,jawab aku.Ada apa dg Azhar?"
"Tadi...,di masjid Azhar berbicara kepadaku."
"Afwan,Nida.Tak sengaja aku mendengar semua pembicaraanmu dg Azhar..."
"Jadi,kau sudah mengetahui semuanya?"
"Ya...."
"Najmi,apa yg harus aku lakukan? Aku malu,malu bertemu dg Azhar entah
dari mana dia dapat mengetahui seluruh isi hatiku yg kupendam 5 tahun
lamanya."
"Aku setuju dg pendapat Azhar,kau harus berusaha menggapai mimpimu dg suatu usaha nyata bukan dg diam dan berkhayal."
"Tapi Najmi...,aku merasa bersalah pada Azhar.Aku ingat saat kutolak
pinangannya tapi bukannya membenciku justru dia banyak memberikan
nasihat kepadaku."
"Nida...,kau tahu bagaimana perasaan Azhar saat menasihatimu tadi? Dia hanya berusaha tegar didepanmu,tapi sebenarnya..."
"Kenapa?"
"Tapi sebenarnya dia menangis,aku melihatnya saat dia memalingkan
wajahnya dari hadapanmu butiran air mata itu jatuh dari matanya."
"Maksudmu?"
"Ya... Nida,Azhar menangis."
"Apa?"
Perasaan bersalahku semakin besar,kulihat dirinya begitu tegar saat
mengatakan semuanya kepadaku,sorot matanya begitu tulus saat menghadapi
semua kenyataan ini.Belum pernah kutemui insan nyata yg memiliki cinta
setulus cintanya.Hatiku mulai terketuk,andai aku bisa berpaling dari
Muhammad Muhsin dan menerima Azhar dihatiku.Andai,dari dulu Azhar
berbicara seperti ini kepadaku tepatnya sebelum pinangannya untukku
pasti saat dia dan kedua orang tuanya datang untuk meminangku aku akan
menerimanya.
Rabbi...,tapi ini semua sudah Kau gariskan tak kuasa diriku
merubahnya.Satu pintaku pada Mu Rabbi,berikan pendamping hidup kepadaku
seorang insan yg memiliki cinta setulus Azhar.
BERSAMBUNG... (Bag 9 of 36)
Rabu, 09 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar