Karya:Putri Indah Wulandari
SEBESAR ITUKAH PENGORBANANNYA...?
"Najmi,kau mau menemaniku ke toko buku? Masih banyak buku yg harus kubeli untuk keberangkatanku ke Amsterdam."
"Kapan?"
"Sekarang... Kau ada waktu?"
"Ehmm... Baiklah...,Nida.Aku salut kepadamu,dg begitu banyak
permasalahan yg kau hadapi namun semangat belajarmu tak terganggu
sedikit pun,aku bangga memiliki seorang sahabat seperti dirimu."
"Ah,jangan begitu,aku juga sangat bangga dan bahagia memiliki seorang
sahabat yg dapat mengerti diriku.Kalau boleh jujur hati ini masih
sakit apabila mengingat rentetan peristiwa yg ada tapi Ustadz Abbas dan
seluruh staf dosen Aleksandria sudah memberiku amanah untuk delegasi
dari Kairo dibidang Ilmu kedokteran islam jadi aku harus berusaha
semaksimal mungkin."
"Ya...,aku yakin aku pasti bisa memberikan yg terbaik."
"Aamiin...,oh ya Najmi nanti setelah dari toko buku kita shalat di Masjid Agung dulu bagaimana?"
"Baiklah...,aku ganti baju dulu."
"Alhamdulillah,kita masih diberi kenikmatan bertemu dg Allah hingga detik ini."
"Ya Najmi,ini adalah kebahagiaan yg tak pernah luput dari
benakku.Najmi coba lihat,tak biasanya ada ambulan datang ke Masjid
Agung dan yg lebih aneh lagi banyak polisi memperketat penjagaan.Ada
apa sebenarnya ini?"
"Na'am Nida,aku juga bingung hampir 5 tahun aku tinggal di Kairo tapi
baru kali ini kulihat suasana seperti ini di Masjid Agung."
"Najmi,coba lihat disana.Bukannya itu Ammah Zakiyyah ibunda Azhar dan
itu Ustadz Alfash ayah Azhar? Ada keperluan apa mereka berdua berada
di sini dan yg lebih aneh lagi mengapa mereka berdiri diantara kerumuan
itu?"
Sungguh aneh,pertama aku melihat ambulan dan sekawanan polisi
dihalaman Masjid Agung,kedua mengapa rektor dan dekan fakultas dan
seluruh staf dosen juga berkumpul dihalaman masjid dan yg ketiga ini yg
lebih aneh lagi mengapa diantara kerumuan orang2 itu berdiri abi dan
ummi Azhar.
Aku harus kesana untuk menemui kedua orang tua Azhar.
"Assalamu'alaikum,Ammah."
Ya Allah,matanya sembab,pipinya basah,bahkan butiran bening air mata
itu masih mengalir dari matanya,tak hanya Ammah Zakiyyah,Ustadz Alfash
pun tak jauh berbeda dg Ammah.Ya Allah,ada apa ini...
"Wa'alaikum salam,Nida? Kau?"
"Na'am Ammah,ini aku... Nida."
Tangisnya semakin memecah saat Ammah melihatku.
"Ada apa,Ammah? Apa yg terjadi?"
"Azhar..."
"Ada apa dg Azhar? Kenapa Azhar,Ammah? Dimana dia sekarang?"
Tak dapat tertahankan lagi,tangisan Ammah Zakiyyah semakin menjadi
saat nama Azhar terucap dari lisannya.Ya...,mungkin ada sesuatu yg
terjadi pada putra semata wayangnya itt.
"Ammah...,Azhar kenapa? Ada apa sebenarnya ini?"
Sepertinya,Ammah tak kuasa menjawab pertanyaanku,kucoba untuk menanyakan hal ini pada Ustadz Alfash.
"Ustadz...,ada apa ini? Peristiwa apa yg membuat Ammah menangis sampai seperti ini?"
"Azhar...."
"Ya Ustadz,ada apa? Kenapa Azhar?"
"Azhar meninggal dunia."
"Inna lillahi wa ilaihi raji'un.... Ammah,benarkah yg baru saja kudengar itu?"
"Nida,tak mungkin Ammah dan Abah berbohong mengenai nyawa putra semata wayang kami.Azhar kecelakaan,Nida."
"Kecelakaan? Kecelakaan apa? Hendak kemana dirinya?"
"Azhar kecelakaan pesawat saat dia berangkat ke Madinah."
"Apa? Madinah? Bukanya kediaman Ammah dan Abah di Syria?"
"Ya,tapi 2 hari yg lalu Azhar memberitahu Ammah bahwa dia akan
berangkat ke Madinah untuk menemui seseorang tapi Ammah juga bingung
setahu Ammah semua sahabat terdekat Azhar berada di Syria,entah siapa yg
akan dia kunjungi walaupun memang ada beberapa kerabat kami yg tinggal
di Madinah tapi tak biasanya Azhar pergi kesana seorang diri tanpa
kami."
Ya Allah...,Madinah.Perasaanku semakin tak menentu seperti ada kejanggalan yg terjadi.
"Ammah...,jika boleh aku tahu siapa nama seseorang yg akan Azhar kunjungi di Madinah?"
"Entahlah Nak,Azhar hanya memberitahu Ammah bahwa dia pergi ke Madinah untuk berkunjung ke pesantren Al Firdaus,hanya itu."
Ya Rabbi...,jika hatiku terbuat dari kaca pasti sudah pecah mendengar
kabar ini,jika hatiku terbua dari gading pasti akan retak mengetahui
ini dan jika hatiku terbuat dari kelopak bunga pasti sudah gugur
ditempa berita ini.
Rabbi...,ternyata Azhar tidak main2 dg kata2 nya dia benar2 ke
Madinah untuk menemui Muhammad Muhsin.Mengapa dia harus mengorbankan
dirinya,hatinya dan perasaannya hanya untuk kebahagiaanku? Seandainya
waktu dapat terulang kembali akan kucegah keberangkatan Azhar ke
Madinah,Ammah,abah,maafkan aku.
Azhar aku yakin kau akan mendapatkan bidadari terbaik yg akan menemanimu disurga abadi,aamiin.
***
Menjelang satu minggu kepergian Azhar namun luka itu masih membekas
dalam hatiku,perasaan bersalah masih terus menghantui setiap waktu yg
kulalui.Rabbi...,jika benar Muhammad Muhsin adalah jodohku maka jadilah
ia sempurna seperti sempurnanya bayanganku kepadanya tapi jika dia
bukan jodohku izinkanlah aku menerima insan lain dalam hatiku untuk
menggantikan dirinya dalam jiwaku.
Muhammad...,andai kau tahu bagaimana sakitnya perasaanku dalam
mempertahankan cinta ini hingga mengorbankan dan mengabaikan
hati,perasaan hingga nyawa seseorang.Andai kau mengetahui harapan2
indah yg selalu terbayang dalam anganku jika saja aku bisa hilangkan
perasaan cintaku ini maka akan kulakukan hal itu sejak dulu sebelum
terlalu banyak orang yg mengorbankan dirinya untuk diriku.
Entah sampai kapan akan kupendam perasaan ini,perasaan yg kadang
membuatku tersenyum dan kadang membuatku menangis.Tapi ya Rabb...,jika
dia bukan jodohku mengapa Kau berikan keyakinan yg begitu kuat
kepadaku.Demi nama Mu ya Rabb...,entah sampai kapan aku
mencintainya,berikan yg terbaik untuk diriku
BERSAMBUNG... (Bag 10 of 36)
Rabu, 09 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar